Sisa Marxisme 30 Persen: Mengapa Mantan Aktivis Kiri Seperti Hasan Nasbi Akhirnya Fikrah di Birokrasi

Menjadi aktivis kiri di kampus dan kompromistis begitu memegang kendali atas adik-adik sepertinya...

Saya Dikeluarkan dari Sekolah Tempat Saya PPL karena Insta Story yang Saya Buat

Semua bermula pada suatu Selasa sore yang tenang, 14 Juli 2026. Melalui sebuah tulisan di Insta...

Demokrasi Dibentuk Algoritma

Ada kebiasaan yang terus berulang setiap kali Indonesia memasuki tahun politik. Perhatian publik...
Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?

Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?

Tulisan ini dimulai oleh sosok yang bernama Mangaradja Onggang Parlindungan (Sam Parlin) yang pada tahun 1965 menulis sebuah buku “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833).” Buku Tuanku Rao karya Sam Parlin ini tak main-main. Jumlahnya 691 halaman dengan campuran penggunaan bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman.

Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan

Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan

Riuh rendah perdebatan mengenai potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang mempersoalkan anak muda Minang yang mengagumi Tan Malaka sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di lini masa. Saya tahu, saya terhitung terlambat untuk ikut larut dalam gelombang balas-berbalas tulisan ini. Alasan keterlambatan ini sederhana dan sangat domestik: belakangan ini hari-hari saya habis di dapur, sibuk membantu orang tua mengaduk adonan dan mencetak kerupuk. Namun, di sela-sela aroma minyak panas dan deru usaha rumahan itu pula, waktu saya juga tersita oleh tanggung jawab moral yang tak kalah penting, yakni sibuk merawat tradisi lisan pasambahan Adat Minangkabau di kampung halaman saya.

Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat

Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat

Tempo lalu saya beli mie pedas tak jauh dari tempat tinggal saya, yang ada dalam pikiran saya ”akhirnya makan mie pedas juga, setelah lama tidak,” ketika sampai di tempat tersebut saya bertemu dengan salah seorang Datuak, beliau tampaknya baru selesai makan mie, saya dipanggilnya dan saya pun mendekat. Untuk disclaimer, Datuak ini ia baru saja diangkat dan belum sampai satu tahun mengemban amanah. Di sisi lain, aroma cabai dari mie pedas membangkitkan salero yang telah lama absen.

Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau

Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau

Di lereng bukit yang memeluk Danau Maninjau di antara hamparan sawah berundak dan rimbunnya pohon pinang berdiri sebuah rumah gadang tua yang atapnya melengkung lembut seperti tanduk kerbau. Di sanalah pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya tidak hanya dikenal sebagai putra daerah tetapi juga pemikir besar bangsa. Namanya Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab dipanggil Hamka.