Petuah Mr. Syafruddin Prawiranegara, untuk Pengulas “Gubernur Pembaca Sejarah”
"Jangan pernah...
Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?
Tulisan ini dimulai oleh sosok yang bernama Mangaradja Onggang Parlindungan (Sam Parlin) yang pada tahun 1965 menulis sebuah buku “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833).” Buku Tuanku Rao karya Sam Parlin ini tak main-main. Jumlahnya 691 halaman dengan campuran penggunaan bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman.
Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan
Riuh rendah perdebatan mengenai potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang mempersoalkan anak muda Minang yang mengagumi Tan Malaka sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di lini masa. Saya tahu, saya terhitung terlambat untuk ikut larut dalam gelombang balas-berbalas tulisan ini. Alasan keterlambatan ini sederhana dan sangat domestik: belakangan ini hari-hari saya habis di dapur, sibuk membantu orang tua mengaduk adonan dan mencetak kerupuk. Namun, di sela-sela aroma minyak panas dan deru usaha rumahan itu pula, waktu saya juga tersita oleh tanggung jawab moral yang tak kalah penting, yakni sibuk merawat tradisi lisan pasambahan Adat Minangkabau di kampung halaman saya.
Mengulas “Gubernur Pembaca Sejarah”: Ketika Minat Sejarah Belum Menjadi Keberpihakan Kebijakan
Sebuah tulisan di Langgam.id baru-baru ini menggambarkan Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah sebagai sosok yang memiliki minat dan wawasan terhadap sejarah Minangkabau serta perjuangan bangsa, dan hal itu ditulis oleh Anggota DPRD Lima Puluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky.
Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat
Tempo lalu saya beli mie pedas tak jauh dari tempat tinggal saya, yang ada dalam pikiran saya ”akhirnya makan mie pedas juga, setelah lama tidak,” ketika sampai di tempat tersebut saya bertemu dengan salah seorang Datuak, beliau tampaknya baru selesai makan mie, saya dipanggilnya dan saya pun mendekat. Untuk disclaimer, Datuak ini ia baru saja diangkat dan belum sampai satu tahun mengemban amanah. Di sisi lain, aroma cabai dari mie pedas membangkitkan salero yang telah lama absen.
Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau
Di lereng bukit yang memeluk Danau Maninjau di antara hamparan sawah berundak dan rimbunnya pohon pinang berdiri sebuah rumah gadang tua yang atapnya melengkung lembut seperti tanduk kerbau. Di sanalah pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya tidak hanya dikenal sebagai putra daerah tetapi juga pemikir besar bangsa. Namanya Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab dipanggil Hamka.





