Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

Lusueh kulindan suto kusuik,Lusueh dipetak tali tigo,Tonunan anak rang Malako;Sunggueh kok bolun...

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk...

Membaca Ulang Pemaknaan Demokrasi Asli bagi Masyarakat Minangkabau

Pasca era reformasi, civil society telah meletakkan pondasi yang kuat untuk menuju spirit dan...
Membaca Tan dan Pak Natsir: Manimbang Jo Raso di Ruang Digital

Membaca Tan dan Pak Natsir: Manimbang Jo Raso di Ruang Digital

Membaca ulasan jernih dari sahabat saya di Rundiang.id (16/5/2026) dalam artikel “Tan dan Pak Natsir di Media Sosial” Menghadirkan rasa terima kasih yang sangat mendalam di hati. Di tengah riuhnya algoritma media sosial yang sering kali memaksa kita berpihak dalam hitam-putih, kehadiran tulisan tersebut seperti oase, sebuah ajakan bersahabat untuk menarik napas dalam-dalam, duduk bersila, dan membaca ulang serta manimbang jo raso.

Politik Sumbar Hari Ini dalam Bingkai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”

Politik Sumbar Hari Ini dalam Bingkai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”

Kalau bicara politik Sumatera Barat, rasanya memang susah dipisahkan dari agama dan budaya. Dari dulu urang awak tumbuh dekat dengan surau, musyawarah, dan nilai ABS-SBK yang “indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.” Mungkin itu sebabnya politik di Sumbar terasa berbeda dibanding banyak daerah lain. Politik bukan cuma soal perebutan kekuasaan, tapi juga soal kedekatan nilai antara pemimpin dan masyarakat urang awak.

Teruslah Membaca Natsir, Jangan Berhenti Mengkaji Tan Malaka dan Berdebatlah!

Teruslah Membaca Natsir, Jangan Berhenti Mengkaji Tan Malaka dan Berdebatlah!

Sejarah Indonesia merupakan sejarah panjang yang diisi beragam pemikiran, gagasan, peristiwa dan kronik antar manusia yang khas dan pelik. Kita hidup dalam sejarah itu, dalam segala kepelikan dan kekhasannya. Manusia masa kini mencari teladan dari sejarah, dari peristiwa dan dari tokoh di masa lampau. Kini kita dapat menyebut nama dari kelampauan sejarah kita, Mohammad Natsir dan Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau lebih sohor dikenal sebagai Tan Malaka.

Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said

Basilang Kayu dalam Tungku, Antara Rahmah El Yunusiyah dan HR Rasuna Said

Di antara banyak tokoh besar dari Minangkabau, ada dua nama perempuan yang sama-sama dikenang sebagai Pahlawan Nasional, yaitu Rahmah El Yunusiyah dan muridnya, Rasuna Said. Bagi sebagian orang, kisah keduanya mungkin sudah sering didengar. Namun bagi saya, Gen-Z Minang yang masih belajar memahami sejarah tokoh-tokoh dari tanah sendiri, hubungan guru dan murid ini justru memunculkan banyak pertanyaan yang tidak sederhana.

Setelah Tan dan Natsir, Mau Ngapain?

Setelah Tan dan Natsir, Mau Ngapain?

“Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan…”. Tentang pemikiran Tan Malaka dan kaitan nya dengan masuk dalam pemerintahan sudah dibahas panjang lebar oleh saudara Habiburrahman dengan semangat yang berapi – api. Ini bukan soal romantisme saya kira, ini soal mendudukkan pemikiran Tan Malaka dan Natsir melalui konteks sejarah berdasarkan sumber primer dan otoritatif. Dengan mendudukkan kedua nya melalui konteks sejarah akan menempatkan nya dengan seimbang. Seperti diketahui, sejak 1966 pemerintah Orde Baru melakukan kekerasan budaya melalui kampanye anti komunis. Sehingga buku – buku kiri, terindikasi komunis, dilarang beredar, disebarluaskan, didiskusikan. 

Kaca Tempat Bercermin Kejayaan: Sekeping Tarikh Perjalanan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo

Kaca Tempat Bercermin Kejayaan: Sekeping Tarikh Perjalanan Syekh Zakaria Labai Sati Malalo

Syekh Zakaria, dilahirkan di Padang Laweh Malalo, 1908. Nama kecil beliau ialah “Buyuang”, masyarakat luas mengenalnya dengan panggilan “Buyuang Malalo” saja. Kehidupan masa kecilnya, seperti layaknya anak-anak seusianya, mengaji ke surau di kampung halaman menjadi langkah awal sebelum menuntut ilmu di tempat yang jauh-jauh. Pada tahun 1916 sampai 1918, oleh orang tuanya diserahkan bersekolah pada Sekolah Rakyat (SR) di Pasar Malalo.