Jejak Langkah di Tanah Leluhur
Di lereng bukit yang memeluk Danau Maninjau di antara hamparan sawah berundak dan rimbunnya pohon pinang berdiri sebuah rumah gadang tua yang atapnya melengkung lembut seperti tanduk kerbau. Di sanalah pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya tidak hanya dikenal sebagai putra daerah tetapi juga pemikir besar bangsa. Namanya Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab dipanggil Hamka.
Ketika saya pernah berjalan di tempat itu beberapa waktu lalu angin sepoi dari danau berhembus membawa hawa sejuk dan seolah berbisik cerita lama. Orang-orang sekitar masih menyebutnya dengan nada hormat sebagai urang gadang sebutan bagi mereka yang berilmu dan membawa manfaat bagi banyak orang. Bagi masyarakat Minangkabau Hamka bukan sekadar ulama atau penulis ia adalah jembatan yang menyambungkan dua dunia yang sering dianggap terpisah yaitu agama dan adat warisan nenek moyang dan tuntutan zaman yang terus berubah.
Sejak kecil ia tumbuh di tengah dua arus nilai yang saling melengkapi. Ayahnya Haji Rasul adalah tokoh pembaharu yang gigih mengajak umat memahami agama dengan akal dan hati bukan sekadar mengikuti apa yang sudah ada tanpa tahu maknanya. Di sisi lain ia hidup di tengah masyarakat yang memegang teguh pegangan hidup adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang artinya adat bersendikan agama dan agama bersendikan Al-Qur’an. Di lingkungan seperti itulah benih pemikirannya mulai tumbuh. Ia mengerti bahwa menjadi orang Minang tidak berarti harus meninggalkan agama dan beriman tidak berarti harus membuang adat yang dijaga turun temurun.
Masa kecilnya dihabiskan berjalan kaki menuju surau mendengarkan pengajian dan membantu orang tua menggarap sawah. Di sana ia menyerap nilai kerja keras kejujuran dan rasa hormat kepada sesama. Namun rasa ingin tahunya yang besar membuatnya tidak puas hanya dengan ilmu yang ada di kampung. Sejak muda ia mulai merantau seperti yang sudah menjadi kebiasaan orang Minang. Ia pergi ke Padang Medan bahkan sampai Mekah dan Mesir untuk menimba ilmu dari berbagai guru dan pemikir.
Di mana pun ia berada hatinya selalu tertambat pada tanah kelahiran. Ia sering berkata bahwa ilmu yang didapat harus dibawa pulang untuk manfaat urang kampuang agar kehidupan mereka menjadi lebih baik dan terhormat. Baginya merantau bukan untuk melupakan asal usul melainkan untuk memperkaya diri lalu membawa pulang bekal yang bisa membangun kampung halaman. Ia sadar Minangkabau memiliki potensi besar namun juga menghadapi tantangan agar tidak larut terbawa arus perubahan zaman.
Tafsir Al-Azhar, Cahaya yang Membuka Cakrawala
Selama hidup Hamka menulis lebih dari seratus karya mulai dari novel sejarah esai hingga pemikiran sosial. Namun yang paling agung dan menjadi warisan utamanya adalah Tafsir Al-Azhar yang disusun selama lebih dari dua puluh tahun. Ini bukan sekadar penjelasan ayat demi ayat Al-Qur’an melainkan cerminan hati seorang ulama yang memahami betul denyut kehidupan masyarakatnya.
Membaca tafsir ini terasa seperti mendengarkan orang tua bercerita di beranda rumah sambil minum teh talua bukan seperti membaca buku pelajaran yang kaku. Hamka menulis dengan bahasa yang sederhana mengalir dan mudah dipahami oleh siapa saja dari petani hingga terpelajar. Ia ingin ajaran agama bisa menjangkau semua lapisan masyarakat bukan hanya yang bersekolah tinggi. Baginya Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua manusia sehingga penafsirannya pun harus bisa menyentuh hati dan pikiran setiap orang.
Dalam pandangannya agama tidak boleh menjadi penjara yang membatasi akal sehat. Ia menolak keras cara berpikir yang tertutup dan menakut-nakuti orang untuk tidak mau belajar. Hamka meyakini bahwa Islam adalah agama yang mendorong umatnya mencari ilmu berpikir kritis dan memajukan peradaban. Dalam tafsirnya ia sering menghubungkan isi ayat dengan masalah yang dihadapi manusia sehari hari mulai dari cara bergaul mencari nafkah hingga menyelesaikan perselisihan.
Pemikiran ini sangat cocok dengan sifat orang Minang yang dikenal suka merantau berani mencoba hal baru dan haus pengetahuan. Hamka ingin agar Al-Qur’an menjadi bekal yang kuat ketika mereka melangkah keluar kampung menghadapi dunia yang luas dan penuh perbedaan. Ia mengajarkan bahwa iman yang kuat tidak membuat seseorang tertinggal justru menjadi pendorong untuk terus belajar bekerja keras dan berguna bagi orang lain.
Di dalam tulisannya sering terselip nilai-nilai yang sudah akrab di kehidupan masyarakatnya. Ia menekankan pentingnya ilmu sebagai kunci kemajuan kerja keras sebagai jalan menuju keberhasilan dan kerendahan hati sebagai tanda orang yang berilmu. Ia juga mengingatkan bahwa kekayaan dan kedudukan tidak membuat seseorang lebih mulia di sisi Tuhan yang terpenting adalah akhlak yang baik dan manfaat yang diberikan kepada sesama. Konsep saling tolong menolong bermusyawarah dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban yang menjadi dasar adat selalu dikaitkannya dengan ajaran keadilan dan persaudaraan dalam agama.
Ada bagian yang terasa sangat menyentuh seolah ia berbicara langsung kepada anak muda. Ia mengingatkan agar jangan mudah tergoda oleh hal-hal baru yang tampak indah tapi bisa merusak tatanan hidup namun juga jangan menutup diri dari kebaikan yang datang dari luar. Baginya menjadi orang beriman berarti menjadi orang yang cerdas berani mengambil sikap dan tetap memegang prinsip meski keadaan berubah. Ia percaya agama dan kemajuan bisa berjalan berdampingan saling menguatkan dan tidak saling meniadakan.
Ideologi Hidup Menyatukan Akar dan Zaman
Pemikiran Hamka tidak berhenti hanya pada penjelasan ayat semata. Ia membangun cara pandang yang utuh yang bisa menjadi pedoman hidup bagi masyarakatnya. Intinya adalah penegasan kembali pegangan lama adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah namun diberi makna yang hidup dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Bagi Hamka adat dan agama bukan dua kekuatan yang saling bersaing. Adat adalah bentuk nyata dari nilai-nilai agama yang disesuaikan dengan keadaan dan kebiasaan masyarakat. Jika ada bagian adat yang bertentangan dengan ajaran pokok agama maka itu harus diperbaiki. Sebaliknya agama yang diajarkan tanpa memahami akar budaya tempat ia tumbuh akan terasa asing dan sulit masuk ke dalam hati. Cara pandang ini sangat dibutuhkan di masa peralihan ketika banyak orang mulai bingung memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti arus baru yang masuk dari luar.
Hamka juga memiliki pandangan mendalam tentang tradisi merantau yang sudah melekat pada orang Minang. Baginya merantau bukan sekadar mencari harta benda melainkan perjalanan untuk manjadi urang atau menjadi orang yang mandiri berilmu dan berguna. Ia mengajarkan bahwa ketika pergi jauh seseorang harus tetap menjaga nama baik kampung halaman tidak melupakan asal usul dan berusaha membawa pulang ilmu serta pengalaman untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangga.
Namun pemikirannya juga tidak luput dari perdebatan di masanya. Ada yang menganggap ia terlalu bebas dalam menafsirkan agama ada pula yang merasa ia terlalu mempertahankan unsur budaya. Namun di balik perbedaan itu satu hal yang jelas ia selalu berusaha mencari jalan tengah yang damai. Ia tidak ingin masyarakatnya terpecah belah. Ia ingin melihat orang Minang menjadi masyarakat yang maju dan bisa bersaing namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang.
Ia juga sering mengingatkan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari gedung tinggi atau banyaknya harta. Kemajuan yang sesungguhnya terlihat ketika masyarakat hidup adil saling menghormati dan memiliki akhlak yang mulia. Baginya anak Minang yang sukses bukan hanya yang kaya atau menduduki jabatan tinggi tetapi yang tetap memiliki hati yang lembut ingat pada kewajiban dan tidak melupakan siapa dirinya.
Dalam tulisannya ia sering menggunakan istilah yang akrab seperti pusako yang berarti warisan. Ia mengingatkan bahwa pusako bukan hanya berupa tanah atau barang berharga tetapi juga ilmu pengetahuan nilai kebaikan dan cara hidup yang benar. Warisan itu akan menjadi berkah jika dijaga dan dikembangkan untuk kebaikan bersama bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Warisan yang Tetap Menyala Hingga Kini
Lebih dari tiga puluh tahun telah berlalu sejak Hamka berpulang namun jejak pemikirannya masih terasa hidup di tanah Minangkabau. Ketika berjalan di pasar mendengar percakapan di surau atau melihat cara warga menyelesaikan masalah dengan musyawarah seolah suaranya masih terngiang lembut. Warisan yang ia tinggalkan bukanlah harta benda melainkan cara pandang yang bisa menjadi penuntun melewati zaman yang terus berubah.
Di tengah arus hidup yang semakin cepat dan sering melupakan nilai lama pesan Hamka terasa semakin dibutuhkan. Banyak anak muda sekarang mulai ragu bahkan melupakan makna jati diri mereka. Ada yang menganggap adat itu kuno dan tidak cocok dengan zaman modern ada pula yang merasa agama itu membatasi kebebasan. Di situlah pentingnya kembali memahami apa yang ditinggalkan Hamka.
Ia mengajarkan bahwa identitas tidak perlu terpecah belah. Seseorang bisa dengan bangga menjadi orang Minang mencintai budayanya menjaga adatnya sekaligus menjadi orang yang beriman cerdas dan terbuka terhadap perubahan. Menurutnya menjadi orang Minang berarti memiliki pandangan yang luas tidak terkurung dalam pemikiran sempit namun tetap berakar kuat sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh angin yang datang.
Karya karyanya masih terus dibaca dan dipelajari hingga sekarang. Tafsir Al Azhar menjadi bacaan banyak orang bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Novel novelnya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah masih dibaca di sekolah karena mengandung pelajaran hidup yang tidak lekang oleh waktu. Di perpustakaan rumah dan surau buku bukunya masih menjadi teman belajar dan sumber inspirasi bagi siapa saja yang mencari petunjuk.
Nilai-nilai yang ditanamkannya seperti kejujuran keberanian berpikir cinta ilmu kerja keras dan peduli sesama masih menjadi pegangan moral banyak orang. Ia mengajarkan bahwa menjadi besar tidak berarti melupakan asal usul. Ia sering mengingatkan bahwa alam takambang jadi guru pengalaman dan keadaan bisa menjadi pelajaran berharga asalkan disertai dengan akal budi dan akhlak yang baik.
Saya sering membayangkan jika Hamka masih ada sekarang apa yang akan ia katakan melihat perkembangan zaman ini. Mungkin ia akan tersenyum lalu mengingatkan agar kita tidak terbuai oleh kemewahan dunia semata tapi tetap memegang teguh akar yang kuat. Ia akan berkata bahwa menjadi orang Minang yang sejati adalah menjadi orang yang berhati lapang berpikir jernih dan selalu berusaha menjadi urang yang baik bagi sesama.
Warisan Hamka bukanlah milik masa lalu yang hanya disimpan sebagai kenangan. Ia adalah cahaya yang terus menerangi jalan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Ia mengajarkan bahwa dengan memadukan pemahaman agama yang bijak dan cara hidup yang berakar pada kebaikan masyarakat Minangkabau bisa terus melangkah maju mengikuti zaman namun tidak pernah kehilangan jati diri. Seperti pepatah yang sering diucapkannya jika akar kuat pohon tidak akan tumbang meski diterpa angin kencang. Demikian pula warisan pemikirannya akan terus tumbuh dan memberi manfaat selamanya bagi tanah kelahirannya dan seluruh bangsa Indonesia.

Penulis:
Devon Richard Hafids Fadhillah Purba
Pelajar di MAN 2 Kota Kediri, anggota Pers Jurnalistik dan Media Sosial MAN 2 Kota Kediri, anggota Kelompok Ilmiah Remaja An-Nahl MAN 2 Kota Kediri, Penulis