Pada tulisan kali ini kita coba menurunkan kisah singkat seorang pendekar wanita Minang yang selama ini kurang dikenal. Dari namanya kita sudah dapat memperkirakan siapa wanita ini. Namanya adalah: Djamilah Djambek, yang tiada lain adalah anak Syekh Djamil Djambek, ulama Minangkabau yang terkenal itu.
Sejarah
Orang Pendek (Leco) di Hutan-Hutan Sumatra
Mungkin setiap etnis yang tinggal di Sumatera mengenal cerita tentang jenenis makhluk yang disebut orang pendek yang tinggal di hutan-hutan tropis pulau yang lebat dan merimba raya itu. Mereka bukan orang Kubu, Sakai, atau Talang Mamak, kelompok-kelompok manusia yang dipercayai sebagai orang Sumatera Asli (proto Melayu) yang menyingkir ke hutan-hutan karena terdesak oleh kelompok Melayu muda yang datang dari daratan Asia. Orang pendek ini adalah jenis yang lain yang rupanya sudah lama menarik perhatian dunia ilmu pengetahuan Barat. Nama lokal yang diberikan kepadanya bermacam-macam, tapi yang paling dikenal adalah leco (dalam ejaan lama ditulis : letjo). Ada juga orang menyebut (si) bigau, tapi saya kurang pasti apakah ini makhluk dari jenis yang sama atau yang berbeda.
Ketika Agus Salim Berujar kepada Hamka: “A nan ang unian di siko?”
Hamka ketika baru lebih dari dua bulan berada di Mekah bertemu dengan Haji Agus Salim yang ketika itu sedang berada di Tanah Suci. Lalu Haji Agus Salim berujar pada Hamka: “A nan ang unian di siko? di siko tompek baibadat, indak tompek manuntuik ilemu.”
Anugerah Bintang Tanda Jasa Diberikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Suliki (1925)
Kali ini penulis mencoba menurunkan sepotong hikayat dari Suliki, Luhak 50 Koto. Mendengar kata Suliki, tentu kita ingat tokoh revolusioner Tan Malaka yang berasal dari daerah itu.
Catatan Kritis untuk Ammar Alwandi: Mengkoreksi Kekeliruan Konten @nusa.angka Terkait Perang Padri dan Memori Kolektif Masyarakat Minangkabau
Pada 27 Juni 2026, salah seorang konten kreator Instagram yang bernama Ammar Alwandi mengunggah sebuah konten mengenai Perang Padri dengan tajuk “Kenapa masyarakat Minangkabau melupakan Adityawarman”? Pertanyaan itu diklaim disampaikan oleh salah seorang peserta tur museum yang dipandu oleh saudara Alwandi sendiri.
Bapakku Mati Syahid, Kenangan Masa Kanak-Kanak
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.





