Sejarah

Si Bujang Jauh: Gejolak Rindu Sang Anak pada Ayahnya

Si Bujang Jauh: Gejolak Rindu Sang Anak pada Ayahnya

“Tetapi entah bagaimana sebabnya, dari umur sepuluh tahun, telah nampak jiwa saya melawan beliau. Jiwa beliau adalah jiwa diktator. Kalau sekiranya cara beliau mendidik itu sajalah, maulah saya terbuang, menjadi anak yang tidak berguna. Saya tidak mau pulang ke rumah, saya tidak mau mengaji, saya bosan mendengar kitab Fiqih yang diajarkan di Thawalib”1

Seperti Apa Kita di Mata Penjajah?

Seperti Apa Kita di Mata Penjajah?

Yang mungkin jamak kita ketahui, penjajahan bangsa Eropa sudah lama berakhir seusai hadirnya negara. Namun hal tersebut hanya berlaku bagi mereka yang menganggap bahwa kolonialisme terjadi secara fisik belaka—dan hanya dilakukan oleh bangsa Eropa. Sebagaimana pengetahuan serupa koin yang berbagi sisi dengan kekuasaan, kenyataannya, bangsa jajahan tidak hanya ditindas secara fisik, namun dipelajari, dikategorikan secara sederhana lagi hierarkis, ditindas di dalam produksi wacana serta, dihegemoni secara epistemologis.

Potret Wafatnya Bung Hatta dalam Kacamata Media Internasional

Potret Wafatnya Bung Hatta dalam Kacamata Media Internasional

Kematian adalah proses akhir kehidupan manusia di dunia dan awal perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Selain itu, nilai sejati manusia ditentukan menurut apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan diwariskan. Sudah barang tentu, meninggalnya Bung Hatta membawa perspektif yang beragam dari berbagai media antarbangsa. Oleh karena itu, penulis akan mengerucutkan pandangan media Belanda, Malaysia, dan Australia menyikapi wafatnya Bung Hatta.