Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Sejarah
Ambo Menjago Hak Milik, Ayek Berjihad di Ranah Pesisir
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Sebuah syair yang ditulis oleh H. Si Am Dt. Soda, cerita bersumber dari Salmawati.
Di Kaki Bukit Saduali, Ayahku Syahid bersama 6 Orang Kawan Seperjuangan
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang” . Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?
Tulisan ini dimulai oleh sosok yang bernama Mangaradja Onggang Parlindungan (Sam Parlin) yang pada tahun 1965 menulis sebuah buku “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833).” Buku Tuanku Rao karya Sam Parlin ini tak main-main. Jumlahnya 691 halaman dengan campuran penggunaan bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman.
Epistemologi “Asal Comot”: Tragedi Misidentifikasi Visual Syekh Ahmad Khatib Minangkabau
Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (wafat 1915/1916) memang sosok yang membuat penasaran. Ia ulama prestisius sebagai salah satu imam dan salah satu khatib dari sekian imam dan khatib (pada satu masa) dalam Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram; sosok yang sering berpolemik dengan ulama lain; pengkritik adat Pusaka Tinggi; tokoh yang kritis terhadap oknum sufi namun dirinya sendiri adalah sufi, salah satu lawan risalah perdebatannya ialah, Syekh Sa’ad Mungka, tapi tenang, saat bertemu mereka tetap berpelukan seperti kawan lama.
The Mastermind Behind the Script: Engku Nawawi & Jejak yang Tak Lekang Waktu
Pernahkah kamu menyesap aroma buku tua atau melihat arsip koran usang dengan tulisan seperti “Keboedajaan” atau “Masjarakat”? Ada semacam melankoli dalam deretan huruf-huruf itu. Namun, di balik estetika ejaan Van Ophuijsen yang kita kenal sekarang, ada satu nama yang menjadi ruh di baliknya: Engku Nawawi Sutan Makmur.





