“Tetapi entah bagaimana sebabnya, dari umur sepuluh tahun, telah nampak jiwa saya melawan beliau. Jiwa beliau adalah jiwa diktator. Kalau sekiranya cara beliau mendidik itu sajalah, maulah saya terbuang, menjadi anak yang tidak berguna. Saya tidak mau pulang ke rumah, saya tidak mau mengaji, saya bosan mendengar kitab Fiqih yang diajarkan di Thawalib”1
Sejarah
Seperti Apa Kita di Mata Penjajah?
Yang mungkin jamak kita ketahui, penjajahan bangsa Eropa sudah lama berakhir seusai hadirnya negara. Namun hal tersebut hanya berlaku bagi mereka yang menganggap bahwa kolonialisme terjadi secara fisik belaka—dan hanya dilakukan oleh bangsa Eropa. Sebagaimana pengetahuan serupa koin yang berbagi sisi dengan kekuasaan, kenyataannya, bangsa jajahan tidak hanya ditindas secara fisik, namun dipelajari, dikategorikan secara sederhana lagi hierarkis, ditindas di dalam produksi wacana serta, dihegemoni secara epistemologis.
Potret Wafatnya Bung Hatta dalam Kacamata Media Internasional
Kematian adalah proses akhir kehidupan manusia di dunia dan awal perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Selain itu, nilai sejati manusia ditentukan menurut apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan diwariskan. Sudah barang tentu, meninggalnya Bung Hatta membawa perspektif yang beragam dari berbagai media antarbangsa. Oleh karena itu, penulis akan mengerucutkan pandangan media Belanda, Malaysia, dan Australia menyikapi wafatnya Bung Hatta.
Potret Seorang Kepala Pasukan Marsose, Pasukan yang Memburu dan Membunuh Sisingamangaraja XII
“Hans Christoffel gezeten in stoel op de voorgalerij Vermoedelijk is de foto gemaakt tussen 1907 en 1910, de laatste jaren van Christoffels militaire loopbaan.”
Wacana ‘Mengembalikan’ Kerinci-Sungai Penuh ke Sumatra Barat: Membaca Ulang Sejarah Kerinci hingga 1957
“Kembalikan kami ke Sumatera Barat.” Kalimat itu terdengar seperti seruan pulang. Tetapi pulang ke mana? Ke provinsi yang kini bernama Sumatera Barat? Ke Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK)? Ke Keresidenan Westkust yang digariskan Belanda? Atau ke Pagaruyung yang hidup dalam tambo dan senandung adat?
Ternyata pada Kurun Tahun 1878-1879 di Koto Gadang Pernah Terjadi Kebakaran Hebat, Bagaimana Penduduk Mengatasinya?
Dalam buku yang berjudul ”Twee Jaren op Sumatra’s Westkust” yang ditulis oleh Marius Buys terdapat sebuah kisah pilu yang merekam momen bersejarah di Koto Gadang, Luhak Agam.





