Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

Lusueh kulindan suto kusuik,Lusueh dipetak tali tigo,Tonunan anak rang Malako;Sunggueh kok bolun...

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk...

Membaca Ulang Pemaknaan Demokrasi Asli bagi Masyarakat Minangkabau

Pasca era reformasi, civil society telah meletakkan pondasi yang kuat untuk menuju spirit dan...
Dala’il Khairat di Minangkabau: Cahaya Shalawat Warisan Para Ulama

Dala’il Khairat di Minangkabau: Cahaya Shalawat Warisan Para Ulama

Shalawat merupakan salah satu titah agung yang terpatri di sanubari setiap muslim; ia adalah sebentuk ‘alamat cinta nan ranum kepada Rasulullah, sang junjungan alam. Sejak fajar Islam menyingsing, ulama-ulama yang shaleh telah memahat shalawat menjadi wirid harian yang tiada putus mengalir.

Gairah ruhani inilah yang menggerakkan kalbu seorang ulama besar di “tanah Maghrib” yang digelari Qutub Da’irah al-Muhaqqiqin dan Sayyidul ‘Arifin yakni Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, untuk menghimpun untaian lafaz shalawat titipan para salafus shaleh. Untaian itu ada yang ma’tsur, murni dari lisan suci Rasulullah, dan ada pula gubahan indah para shalihin peniti jalan cahaya. Kitab himpunan itu pun lahir membawa tajuk megah: Dala’ilul Khairat wa Syawariqul Anwar (Penunjuk kepada kebaikan dan sumber cahaya).

Benarkah Homoseksualitas Sudah Lama Ada di Minangkabau?

Benarkah Homoseksualitas Sudah Lama Ada di Minangkabau?

Di antara sedikit penulis Indonesia yang berani menyinggung persoalan homoseksualitas dalam masyarakat Minangkabau, AA Navis menempati posisi yang unik. Melalui esai Anak Jawi di Kampung Kami (1987) dan cerpen Perempuan itu Bernama Lara (1996), Navis tidak hanya merekam keberadaan istilah anak jawi namun juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau memahami dan membicarakan relasi sesama jenis jauh sebelum istilah LGBT menjadi bagian dari perdebatan publik Indonesia.

Menolak Romantisasi dan Simplifikasi: Membaca Perang Paderi Lewat Zeitgeist/ Jiwa Zaman

Menolak Romantisasi dan Simplifikasi: Membaca Perang Paderi Lewat Zeitgeist/ Jiwa Zaman

Esai ini ditulis sebagai bentuk respons, pelurus metodologis, sekaligus ruang dialektika atas tulisan Saudara Azmi sebelumnya yang dimuat di Rundiang.id. Melalui tulisan ini, saya mencoba membedah kompleksitas Perang Paderi menggunakan kacamata Zeitgeist (Jiwa Zaman) dan konsep anakronisme dalam ilmu sejarah, dengan bersandar pada rujukan teoretis dari para sejarawan Universitas Andalas seperti Prof. Gusti Asnan dan Dr. Wannofri Samry.

Air Terbit

Air Terbit

Pucuk dicinta, ada air membesut tiba-tiba. Kakinya terasa basah, ada air mengalir entah dari mana. Setelah ia telusuri, ada mata air keluar dari tanah. Sumbernya tak jauh dari pangkal kayu besar yang baru ia tumbangkan itu. Mata air itu seolah olah terbit tiba-tiba dari perut bumi. Ia menyauknya dengan tangan, dengan hati-hati ia rasakan dengan mulutnya. Air putih bening itu terasa begitu manis di lidahnya. Beberapa kali ia ulangi, disauk lagi dengan tangannya, lalu merasakan dengan mulutnya. Setelah yakin, baru kemudian ia menelannya. Air itu kemudian melepas semua dahaganya. Setelah puas meminumnya, Ia kemudian menyimbur-nyimburkan ke langit, dan membiarkan tubuhnya mandi karenanya. “Air terbit, air terbit, air terbit,” serunya dengan girang gembira.

Manjulang di Ateh Marapi, Marauak Langik Batungkek Bumi: Memegang ABS-SBK sebagai Jatidiri Urang Awak

Manjulang di Ateh Marapi, Marauak Langik Batungkek Bumi: Memegang ABS-SBK sebagai Jatidiri Urang Awak

Dalam lanskap pemikiran sosiokultural Nusantara, kebudayaan tidak pernah dipahami sekadar sebagai dokumen hukum tertulis atau kontrak sosial yang kaku di atas kertas. Kebudayaan adalah sebuah “organisme hidup”—sebuah kebulatan jiwa dan daya dorong peradaban yang dinamis. Proklamator bangsa asal Minangkabau, Mohammad Hatta, dalam catatannya menegaskan landasan filosofis ini secara kuat bahwa: “Adat Minangkabau bukanlah sebuah dokumen mati yang beku di dalam piagam sejarah. Ia adalah adat yang hidup, yang tumbuh secara alami dari kedalaman jiwa masyarakatnya…” Tesis ini dipertegas secara benderang oleh Buya HAMKA yang menyatakan bahwa integrasi adat dan Islam bukanlah taktik gencatan senjata politik, melainkan peleburan ontologis di mana adat menemukan keluhurannya dalam syariat. Dari kacamata antropologis yang jernih dari para pemikir bangsa inilah kita harus meluruskan kekeliruan berpikir adinda penulis tersebut melalui tiga dekonstruksi fundamental.

Manyuruak ka Bawah Tampuruang: Kejumudan Dogma dan Akar Intoleransi di Ranah Minang

Manyuruak ka Bawah Tampuruang: Kejumudan Dogma dan Akar Intoleransi di Ranah Minang

Tudingan provokatif Permadi Arya beberapa waktu lalu yang melabeli Sumatera Barat sebagai daerah yang “barbar” dalam beragama dan episentrum intoleransi, tak pelak memantik gelombang kemarahan publik Minangkabau. Reaksi defensif bermunculan, menuduh sang pemantik sedang melakukan pembunuhan karakter. Namun, ketika asap emosi mereda, kita harus memiliki keberanian intelektual untuk menatap cermin dan menelan pil pahit. Berbagai rilis Indeks Kota Toleran dari lembaga sipil secara konsisten menempatkan kota-kota di Sumatera Barat di papan bawah.