Pengalaman Saya di Palembang
Perbedaan yang Tajam...
Manusia dan Dialektikanya
Saya terkesiap dengan preferensi aksi pemikiran seorang penulis islamis yang dikenali sebagai kritikus Tan Malaka. Sementara soal kritik hermeneutika atas pemikiran Tan masih belum memuaskan saya, belakangan ini, sepulang dari ranah Minang, ia mengartikulasikan ketidaksepakatan pada aksi-aksi mahasiswa. Ia memilih mendukung Prabowo ketimbang mengapresiasi upaya kritik mahasiswa pada kekuasaan.
Bapakku Mati Syahid, Kenangan Masa Kanak-Kanak
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Madilog dan Maqashid: Pembangunan sebagai Pembebasan
Pembangunan sering datang kepada kita dengan wajah yang meyakinkan: angka pertumbuhan yang naik, jalan yang memanjang, gedung yang menjulang, dan pidato yang terdengar seperti janji yang telah selesai dikerjakan. Negara lalu menampilkan dirinya sebagai arsitek masa depan, seolah kemajuan dapat diukur dengan beton, statistik, dan daftar proyek yang berhasil difoto dari udara. Namun, di bawah semua itu, selalu ada pertanyaan yang lebih tua dan lebih jujur: apakah pembangunan sungguh memerdekakan manusia, atau hanya memperhalus cara manusia ditundukkan? Sebab sejarah terlalu sering menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat tampak maju di laporan resmi, tetapi tetap letih di dapur rakyatnya, tetap rapuh di sekolah anak-anaknya, tetap sempit di lahan petaninya, dan tetap dingin di ruang-ruang hidup orang kecil.
Ambo Menjago Hak Milik, Ayek Berjihad di Ranah Pesisir
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Sebuah syair yang ditulis oleh H. Si Am Dt. Soda, cerita bersumber dari Salmawati.
Di Kaki Bukit Saduali, Ayahku Syahid bersama 6 Orang Kawan Seperjuangan
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang” . Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.





