Kaji

Perkara Bahasa dan Politik Penyangkalan/Pembenaran

Perkara Bahasa dan Politik Penyangkalan/Pembenaran

“Batas-batas bahasaku, berarti batas-batas duniaku” (“Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt”). Begitulah tuturan Ludwig Wittgenstein dalam karyanya yang berjudul “Tractatus Logico-Philosophicus” (1921) — seorang filsuf Austria-Inggris abad ke-20 yang sangat berpengaruh dalam filsafat bahasa, logika, dan filsafat analitik.

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Dalam pertunjukan sastra lisan, ruang (space) adalah aspek yang amat penting. Seorang tukang cerita memiliki teknik dan strategi tertentu dalam menggambarkan ruang kepada khalayaknya (audience), supaya khalayak bisa dirayu ‘masuk’ ke dalam peristiwa cerita. Ada penggambaran ruang yang kuat lewat gesture (gerak tubuh), tapi ada yang yang kuat lewat kata (naratif). Barangkali kecenderungan kedua ini ada pada teks pantun, sebagaimana dapat kita kesan dalam nomor-nomor terdahulu maupun dalam nomor ini.

Croonenburg, Pos yang Hilang di Muara Salido

Croonenburg, Pos yang Hilang di Muara Salido

Angin berkesiur dari sebalik rindang dan rapatnya dedaunan. Di muara, di tempat sungai memuarakan perjalanannya kepada laut, ombak berdebur di muara Salido, memiuh sesekali menghempas pada batu gadang. Suaranya datang dan surut, kadang tenggelam di antara desir daun, benturan perkakas, dan seruan orang-orang yang sedang memindahkan batang-batang kayu gadang dari dalam hutan.