Tulisan ini dimulai oleh sosok yang bernama Mangaradja Onggang Parlindungan (Sam Parlin) yang pada tahun 1965 menulis sebuah buku “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833).” Buku Tuanku Rao karya Sam Parlin ini tak main-main. Jumlahnya 691 halaman dengan campuran penggunaan bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman.
Kaji
Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London
gel mengisi masa pendidikannya dengan mempelajari studi klasik, serta mengikuti kursus bahasa Rusia saat menjalankan wajib militer di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Saat dewasa, Nigel memulai kariernya dengan bekerja di Bank of England selama empat tahun sebelum akhirnya pindah ke Central Office of Information. Sejenis dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di negara kita.
Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro
Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk berwibawa di jantung Luhak Agam. Di tanah yang hening itu, jemariku menyentuh lembaran-lembaran usang yang seolah bernapas; manuskrip-manuskrip agung milik sang pilar cahaya, Tuanku Syekh Samiak Ilmiyah di Biaro. Beliau adalah bintang gemintang yang menyinari abad kesembilan belas, seorang rabi penyair ilmu yang mendirikan mihrab peradaban berupa surau sakral. Ke sanalah para urang-urang siak para pencari tuhan dan pemburu kebenaran berbondong-bondong datang dari segenap penjuru rahim Minangkabau. Di bawah atap berkah itulah, sang pemikir ulung abad kedua puluh, Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970), pernah mereguk cawan-cawan makrifat hingga jiwanya purna.
Dala’il Khairat di Minangkabau: Cahaya Shalawat Warisan Para Ulama
Shalawat merupakan salah satu titah agung yang terpatri di sanubari setiap muslim; ia adalah sebentuk ‘alamat cinta nan ranum kepada Rasulullah, sang junjungan alam. Sejak fajar Islam menyingsing, ulama-ulama yang shaleh telah memahat shalawat menjadi wirid harian yang tiada putus mengalir.
Gairah ruhani inilah yang menggerakkan kalbu seorang ulama besar di “tanah Maghrib” yang digelari Qutub Da’irah al-Muhaqqiqin dan Sayyidul ‘Arifin yakni Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, untuk menghimpun untaian lafaz shalawat titipan para salafus shaleh. Untaian itu ada yang ma’tsur, murni dari lisan suci Rasulullah, dan ada pula gubahan indah para shalihin peniti jalan cahaya. Kitab himpunan itu pun lahir membawa tajuk megah: Dala’ilul Khairat wa Syawariqul Anwar (Penunjuk kepada kebaikan dan sumber cahaya).
Benarkah Homoseksualitas Sudah Lama Ada di Minangkabau?
Di antara sedikit penulis Indonesia yang berani menyinggung persoalan homoseksualitas dalam masyarakat Minangkabau, AA Navis menempati posisi yang unik. Melalui esai Anak Jawi di Kampung Kami (1987) dan cerpen Perempuan itu Bernama Lara (1996), Navis tidak hanya merekam keberadaan istilah anak jawi namun juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau memahami dan membicarakan relasi sesama jenis jauh sebelum istilah LGBT menjadi bagian dari perdebatan publik Indonesia.
Politik Sumbar Hari Ini dalam Bingkai “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”
Kalau bicara politik Sumatera Barat, rasanya memang susah dipisahkan dari agama dan budaya. Dari dulu urang awak tumbuh dekat dengan surau, musyawarah, dan nilai ABS-SBK yang “indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.” Mungkin itu sebabnya politik di Sumbar terasa berbeda dibanding banyak daerah lain. Politik bukan cuma soal perebutan kekuasaan, tapi juga soal kedekatan nilai antara pemimpin dan masyarakat urang awak.





