“Kembalikan kami ke Sumatera Barat.” Kalimat itu terdengar seperti seruan pulang. Tetapi pulang ke mana? Ke provinsi yang kini bernama Sumatera Barat? Ke Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK)? Ke Keresidenan Westkust yang digariskan Belanda? Atau ke Pagaruyung yang hidup dalam tambo dan senandung adat?
Kaji
Ternyata pada Kurun Tahun 1878-1879 di Koto Gadang Pernah Terjadi Kebakaran Hebat, Bagaimana Penduduk Mengatasinya?
Dalam buku yang berjudul ”Twee Jaren op Sumatra’s Westkust” yang ditulis oleh Marius Buys terdapat sebuah kisah pilu yang merekam momen bersejarah di Koto Gadang, Luhak Agam.
Sya’ir Ziarah ke Batuhampar: Kontinuitas Sanad, Ilmu Qira’at, dan Resonansi Ordo Naqsyabandi
Terletak di tapal batas selatan Luhak Limo Puluah kini wilayah administratif Kabupaten Lima Puluh Kota, Batuhampar merekah sejak abad ke-19 sebagai episentrum transmisi keilmuan Islam tradisional berbasis surau di ranah Minang. Kompleks ini termasyhur sebagai Surau Dagang, sebuah kantong komunal tempat para urang siak menuntut ilmu dan menjalani laku tafaqquh fiddin.
Perkara Bahasa dan Politik Penyangkalan/Pembenaran
“Batas-batas bahasaku, berarti batas-batas duniaku” (“Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt”). Begitulah tuturan Ludwig Wittgenstein dalam karyanya yang berjudul “Tractatus Logico-Philosophicus” (1921) — seorang filsuf Austria-Inggris abad ke-20 yang sangat berpengaruh dalam filsafat bahasa, logika, dan filsafat analitik.
Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik
Dalam pertunjukan sastra lisan, ruang (space) adalah aspek yang amat penting. Seorang tukang cerita memiliki teknik dan strategi tertentu dalam menggambarkan ruang kepada khalayaknya (audience), supaya khalayak bisa dirayu ‘masuk’ ke dalam peristiwa cerita. Ada penggambaran ruang yang kuat lewat gesture (gerak tubuh), tapi ada yang yang kuat lewat kata (naratif). Barangkali kecenderungan kedua ini ada pada teks pantun, sebagaimana dapat kita kesan dalam nomor-nomor terdahulu maupun dalam nomor ini.
Croonenburg, Pos yang Hilang di Muara Salido
Angin berkesiur dari sebalik rindang dan rapatnya dedaunan. Di muara, di tempat sungai memuarakan perjalanannya kepada laut, ombak berdebur di muara Salido, memiuh sesekali menghempas pada batu gadang. Suaranya datang dan surut, kadang tenggelam di antara desir daun, benturan perkakas, dan seruan orang-orang yang sedang memindahkan batang-batang kayu gadang dari dalam hutan.





