Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sering kali terjebak pada romantisme seragam dan birokrasi. Padahal, jika kita menengok ke Padang Panjang pada awal abad ke-20, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sebuah instrumen resistensi kultural dan politik.
Kaji
Sawah Kagadangan Panghulu di Minangkabau dan semangat Anti-korupsi
Sawah Kagadangan adalah sebuah harta pusaka tinggi berupa lahan sawah yang khusus diperuntukkan kepada Panghulu untuk menunjang kegiatanya sehari-hari dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi Panghulu sebagai pemimpin kaum. Secara filosofis fungsi utama Sawah Kagadangan adalah untuk mencegah seorang Panghulu mengambil hak orang lain dan untuk tidak berharap kepada pemberian orang lain. Disisi lain fungsi Sawah Kagadangan secara ekonomis adalah untuk menunjang Panghulu dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dan juga untuk menafkahi keluarga Panghulu itu sendiri.
Jejak Inyiak De-er: Di Balik Tirai Muhammadiyah dan Kelahiran Kaum Muda
Warkah ini disuling berdasar manuskrip “al-Syir’ah fi al-Radd ‘ala man Qala al-Qunut…” (1938), memoar “Ayahku” serta opus magnum “Islam dan Adat Minangkabau” (Hamka), dikukuhkan pula oleh kesaksian primer Abuya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno dan Abuya Drs. H. Abdul Jalal.
Mengenang Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock, Percetakan Lumbung Keilmuan Ulama Minangkabau pada Era Kolonial
Rujukan tulisan ini bertumpu pada sejumlah literatur klasik yang otoritatif, antara lain Riwayat Hidup Ulama Syafi’iyyah karya Syekh Yunus Yahya Magek (1976), Ayah Kita karya Abuya Baharuddin ar-Rasuli (1978), serta Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i karya Abuya Sirajuddin Abbas (1973). Ketiga karya ini bukan sekadar sumber historis, tetapi juga merepresentasikan intellectual genealogy ulama Minangkabau dalam merawat tradisi keilmuan Islam dari masa ke masa.
Berikut Daftar Episentrum Intelektual Islam di Minangkabau: Jejak Kejayaan Surau dan Ulama Besar
Dalam lanskap sejarah intelektual Islam di Minangkabau, telah lama diakui bahwa wilayah ini merupakan salah satu epicentrum transmisi keilmuan. Tradisi thalab al-‘ilm tumbuh melalui jaringan surau yang berfungsi sebagai institusi non-formal education, tempat berlangsungnya proses ta‘līm, tarbiyah, dan internalisasi nilai-nilai keislaman. Namun, dalam dialektika sejarah, terjadi apa yang dapat disebut sebagai decline of intellectual tradition, di mana perhatian terhadap keilmuan Islam kian meredup, berbanding terbalik dengan menguatnya religiositas instan yang kurang berakar pada turāth (warisan keilmuan klasik).
Rega Maulana Keliru: Nasi Padang Bukan Istilah yang Lahir Akibat PRRI
Rega memiliki hipotesa bahwa penggunaan kata “Padang” ialah akibat “kekalahan” pihak PRRI (Minangkabau) terhadap pemerintah pusat dan ketakutan akan labeling “pemberontak” membuat orang Minang yang eksodus besar-besaran ke luar Minangkabau lebih memilih kata “Padang” sebagai rujukan etnis. Hal ini dikarenakan, penggunaan kata “Minang” membuat mereka gamang. Dan pasca PRRI tersebut, kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Namun, Rega tidak memberikan referensi mengenai hal tersebut. Apakah memang sesederhana itu?





