Demokrasi Dibentuk Algoritma

Ada kebiasaan yang terus berulang setiap kali Indonesia memasuki tahun politik. Perhatian publik...

Pengalaman Saya di Palembang

Perbedaan yang Tajam Pada tanggal 15 Februari 1958 terjadi peristiwa bersejarah yang amat sangat...

Manusia dan Dialektikanya

Saya terkesiap dengan preferensi aksi pemikiran seorang penulis islamis yang dikenali sebagai...
Bapakku Mati Syahid, Kenangan Masa Kanak-Kanak

Bapakku Mati Syahid, Kenangan Masa Kanak-Kanak

Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.

Madilog dan Maqashid: Pembangunan sebagai Pembebasan

Madilog dan Maqashid: Pembangunan sebagai Pembebasan

Pembangunan sering datang kepada kita dengan wajah yang meyakinkan: angka pertumbuhan yang naik, jalan yang memanjang, gedung yang menjulang, dan pidato yang terdengar seperti janji yang telah selesai dikerjakan. Negara lalu menampilkan dirinya sebagai arsitek masa depan, seolah kemajuan dapat diukur dengan beton, statistik, dan daftar proyek yang berhasil difoto dari udara. Namun, di bawah semua itu, selalu ada pertanyaan yang lebih tua dan lebih jujur: apakah pembangunan sungguh memerdekakan manusia, atau hanya memperhalus cara manusia ditundukkan? Sebab sejarah terlalu sering menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat tampak maju di laporan resmi, tetapi tetap letih di dapur rakyatnya, tetap rapuh di sekolah anak-anaknya, tetap sempit di lahan petaninya, dan tetap dingin di ruang-ruang hidup orang kecil.

Ambo Menjago Hak Milik, Ayek Berjihad di Ranah Pesisir

Ambo Menjago Hak Milik, Ayek Berjihad di Ranah Pesisir

Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.

Sebuah syair yang ditulis oleh  H. Si Am Dt. Soda, cerita bersumber dari Salmawati.

Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?

Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?

Tulisan ini dimulai oleh sosok yang bernama Mangaradja Onggang Parlindungan (Sam Parlin) yang pada tahun 1965 menulis sebuah buku “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833).” Buku Tuanku Rao karya Sam Parlin ini tak main-main. Jumlahnya 691 halaman dengan campuran penggunaan bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman.