Sosok

Yusril Djalinus, Urang Koto Tinggi yang Membangun Nadi Redaksi Tempo

Yusril Djalinus, Urang Koto Tinggi yang Membangun Nadi Redaksi Tempo

Yusril Djalinus atau yang lebih dikenal dengan sebutan YD adalah salah satu nama yang tak pernah tampil di halaman depan majalah Tempo, tetapi justru menentukan bagaimana halaman-halaman itu disusun, diolah, dan dipertanggungjawabkan. Lahir di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada 12 Agustus 1944, Yusril membawa dua dunia dalam dirinya: denyut kota besar tempat ia dilahirkan dan watak Minangkabau yang diwariskan keluarganya dari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu

Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu

Melalui rekaman kaset dan video, ia mentransformasikan tradisi lisan ke dalam bentuk reproduksi modern, yang jelas bukan sekadar adaptasi, tapi juga strategi artikulasi budaya dalam menghadapi arus globalisasi. Gurindam yang ia lantunkan menjelma menjadi mnemonic device, pengingat nilai sekaligus jembatan emosional bagi masyarakat rantau yang merawat ingatan akan kampung halaman.

Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir

Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir

Di antara gejolak sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar berdiri seperti anak nakal yang menendang pintu konvensi. Ia tidak sekadar menulis puisi ia membongkar pakem. Sajak-sajaknya menolak kesantunan formal ala Pujangga Baru, lalu melompat ke wilayah yang lebih liar: ritme patah, diksi menohok, dan subjektivitas yang nyaris eksistensialis. Jika sastra adalah taman yang rapi, Chairil datang sebagai “tukang rusuh estetika” yang menanam semak berduri di tengah bunga-bunga.

Jejak Syekh Muhammad Zain Simabur: Dari Tradisi Surau ke Otoritas Mufti di Tanah Malaya

Jejak Syekh Muhammad Zain Simabur: Dari Tradisi Surau ke Otoritas Mufti di Tanah Malaya

Nama Syekh Muhammad Zain bergema pelan dalam historiografi Islam Minangkabau, namun pengaruhnya menjangkau paruh pertama abad ke-20. Ia hidup pada masa ketika tradisi pengajian klasik berhadapan langsung dengan arus pembaruan. Meski jejak biografis ulama kaum tuo ini tak banyak terdokumentasi, reputasi keilmuannya diakui oleh sezaman. Ia berdiri sejajar dengan para ulama tua terkemuka seperti Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli sebuah generasi yang memikul tanggung jawab menjaga kesinambungan ilmu-ilmu turats di tengah perubahan sosial yang cepat.