Dunia sekarang sedang menyorot Vladimir Putin, Presiden Rusia kelahiran St. Petersburg 7 Oktober 1952 yang konon terpancur ke dunia dari rahim seorang wanita yang dalam keadaan sekarat hampir dikubur secara massal oleh pasukan Hitler di tahun 1940-an. Bagi kebanyakan orang Indonesia, mungkin konflik Rusia-Ukraina yang sedang terjadi terasa jauh, dapat dikesan dari tidak adanya demo solidaritas untuk rakyat Ukraina sebagaimana sedang terjadi di banyak kota Eropa dan Amerika (termasuk Amerika Latin).
Sosok
Riwayat Perjalanan Intelektual Rangkayo Chailan Sjamsoe Membela Hak Perempuan
Nama wanita gempal yang duduk di tengah dalam foto ini adalah Rangkayo Chailan Sjamsoe Datoek Tomanggoeng (selanjutnya: [Rangkayo] Chailan Sjamsoe). Gelar ‘Rangkayo’ di awal namanya jelas mengindikasikan bahwa dia berasal dari kalangan berada dan terpelajar dari Minangkabau. Memang dalam masyarakat matrilineal terbesar di dunia itu, gelar ‘rangkayo’ hanya diperuntukkan bagi wanita. Sedangkan gelar ‘Datoek Toemanggoeng’ di akhir namanya adalah nama adat suaminya, Landjoemin Datoek Toemanggoeng, seorang intelektual Minangkabau dan penggiat pers pribumi di Batavia di awal abad 20.
Rangkayo Djamilah Djambek: “Pendekar Wanita” Minangkabau
Pada tulisan kali ini kita coba menurunkan kisah singkat seorang pendekar wanita Minang yang selama ini kurang dikenal. Dari namanya kita sudah dapat memperkirakan siapa wanita ini. Namanya adalah: Djamilah Djambek, yang tiada lain adalah anak Syekh Djamil Djambek, ulama Minangkabau yang terkenal itu.
Tuan Zainuddin El-Junusy Labay
Tulisan ini merupakan tulisan dari Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan nama Buya Hamka. Tulisan ini termuat dalam buku berjudul: ”Sedjarah Minangkabau dengan Agama Islam” yang dicetak di Tasamartul Ichwan, Fort de Kock, Bukittinggi, pada tahun 1929. Redaksi menilai, bahwa penting untuk menyebarluaskan tulisan ini kembali, mengingat tulisan ini terbilang sulit ditemukan cetakannya.
Sebuah Catatan Perjalanan Tahun 2012 dan Biografi Intelektual Syekh Tuanku Ali Imran Ringan-Ringan
Pada tahun 2012, kami bersama sejawat peneliti dari IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN Imam Bonjol) berkesempatan melintasi berbagai sentra tafaqquh fiddin di Pariaman, sebuah kawasan yang sangat masyhur sebagai episentrum transmisi Tarekat Syattariyyah di persada Minangkabau.
Al Fikri Malin Basa: Sarjana yang Pulang untuk Menjaga Akar Tradisi Budayanya
Perkenalkan, ia bernama Al Fikri bergelar Malin Basa, seorang alumnus Program Studi Hukum Tata Negara, UIN Imam Bonjol Padang, semasa kuliah dirinya pernah menduduki posisi sebagai Ketua Umum UKM Surau Konstitusi, dan menaruh minat pada konsentrasi persoalan adat dan budaya, ia berasal dari Magek, Kab. Agam. Fikri tergolong mahir menuturkan pasambahan.





