Yusril Djalinus atau yang lebih dikenal dengan sebutan YD adalah salah satu nama yang tak pernah tampil di halaman depan majalah Tempo, tetapi justru menentukan bagaimana halaman-halaman itu disusun, diolah, dan dipertanggungjawabkan. Lahir di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada 12 Agustus 1944, Yusril membawa dua dunia dalam dirinya: denyut kota besar tempat ia dilahirkan dan watak Minangkabau yang diwariskan keluarganya dari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Sosok
Batolong-tolongan: Saat Kisah Tan Malaka Bersemi Kembali di Nadi Seorang Anak Muda Bernama Devit
Mari flashback ke 1897, di Lihak Limo Puluah tepatnya di sebuah nagari bernama Pandam Gadang, lahir seorang anak dari pasangan H.M Rasad Chaniago dengan Rangkayo Sinah Simabua bernama Ibrahim, kelak dikenal sebagai Tan Malaka. Ia bukan sekadar produk kecerdasan individual, tapi adalah hasil dari collective investment masyarakat kampungnya.
Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu
Melalui rekaman kaset dan video, ia mentransformasikan tradisi lisan ke dalam bentuk reproduksi modern, yang jelas bukan sekadar adaptasi, tapi juga strategi artikulasi budaya dalam menghadapi arus globalisasi. Gurindam yang ia lantunkan menjelma menjadi mnemonic device, pengingat nilai sekaligus jembatan emosional bagi masyarakat rantau yang merawat ingatan akan kampung halaman.
Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir
Di antara gejolak sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar berdiri seperti anak nakal yang menendang pintu konvensi. Ia tidak sekadar menulis puisi ia membongkar pakem. Sajak-sajaknya menolak kesantunan formal ala Pujangga Baru, lalu melompat ke wilayah yang lebih liar: ritme patah, diksi menohok, dan subjektivitas yang nyaris eksistensialis. Jika sastra adalah taman yang rapi, Chairil datang sebagai “tukang rusuh estetika” yang menanam semak berduri di tengah bunga-bunga.
Apria Putra dan Rekam Jejak Menyelamatkan Ratusan Naskah Ulama Minangkabau yang Dilirik Peneliti Dunia
Tahukah Anda? Ada seorang akademisi bernama Apria Putra yang merupakan Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, dirinya telah berdedikasi besar menyelamatkan kurang lebih 350 naskah ulama Minangkabau, hingga dilirik para peneliti dari dalam negeri, dan luar negeri seperti; Belanda, Itali, dan Malaysia.
Jejak Syekh Muhammad Zain Simabur: Dari Tradisi Surau ke Otoritas Mufti di Tanah Malaya
Nama Syekh Muhammad Zain bergema pelan dalam historiografi Islam Minangkabau, namun pengaruhnya menjangkau paruh pertama abad ke-20. Ia hidup pada masa ketika tradisi pengajian klasik berhadapan langsung dengan arus pembaruan. Meski jejak biografis ulama kaum tuo ini tak banyak terdokumentasi, reputasi keilmuannya diakui oleh sezaman. Ia berdiri sejajar dengan para ulama tua terkemuka seperti Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli sebuah generasi yang memikul tanggung jawab menjaga kesinambungan ilmu-ilmu turats di tengah perubahan sosial yang cepat.





