Pembangunan sering datang kepada kita dengan wajah yang meyakinkan: angka pertumbuhan yang naik, jalan yang memanjang, gedung yang menjulang, dan pidato yang terdengar seperti janji yang telah selesai dikerjakan. Negara lalu menampilkan dirinya sebagai arsitek masa depan, seolah kemajuan dapat diukur dengan beton, statistik, dan daftar proyek yang berhasil difoto dari udara. Namun, di bawah semua itu, selalu ada pertanyaan yang lebih tua dan lebih jujur: apakah pembangunan sungguh memerdekakan manusia, atau hanya memperhalus cara manusia ditundukkan? Sebab sejarah terlalu sering menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat tampak maju di laporan resmi, tetapi tetap letih di dapur rakyatnya, tetap rapuh di sekolah anak-anaknya, tetap sempit di lahan petaninya, dan tetap dingin di ruang-ruang hidup orang kecil.
Opini
Petuah Mr. Syafruddin Prawiranegara, untuk Pengulas “Gubernur Pembaca Sejarah”
"Jangan pernah kehilangan objektivitas meskipun terhadap mereka yang tidak kita sukai," kata Mr. Syafruddin Prawiranegara, pahlawan nasional Indonesia. Ungkapan Gubernur Bank Indonesia pertama itu sengaja saya kutipkan buat Muhammad Genta Saputra, mahasiswa Program...
Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan
Riuh rendah perdebatan mengenai potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang mempersoalkan anak muda Minang yang mengagumi Tan Malaka sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di lini masa. Saya tahu, saya terhitung terlambat untuk ikut larut dalam gelombang balas-berbalas tulisan ini. Alasan keterlambatan ini sederhana dan sangat domestik: belakangan ini hari-hari saya habis di dapur, sibuk membantu orang tua mengaduk adonan dan mencetak kerupuk. Namun, di sela-sela aroma minyak panas dan deru usaha rumahan itu pula, waktu saya juga tersita oleh tanggung jawab moral yang tak kalah penting, yakni sibuk merawat tradisi lisan pasambahan Adat Minangkabau di kampung halaman saya.
Mengulas “Gubernur Pembaca Sejarah”: Ketika Minat Sejarah Belum Menjadi Keberpihakan Kebijakan
Sebuah tulisan di Langgam.id baru-baru ini menggambarkan Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah sebagai sosok yang memiliki minat dan wawasan terhadap sejarah Minangkabau serta perjuangan bangsa, dan hal itu ditulis oleh Anggota DPRD Lima Puluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky.
Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat
Tempo lalu saya beli mie pedas tak jauh dari tempat tinggal saya, yang ada dalam pikiran saya ”akhirnya makan mie pedas juga, setelah lama tidak,” ketika sampai di tempat tersebut saya bertemu dengan salah seorang Datuak, beliau tampaknya baru selesai makan mie, saya dipanggilnya dan saya pun mendekat. Untuk disclaimer, Datuak ini ia baru saja diangkat dan belum sampai satu tahun mengemban amanah. Di sisi lain, aroma cabai dari mie pedas membangkitkan salero yang telah lama absen.
Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau
Di lereng bukit yang memeluk Danau Maninjau di antara hamparan sawah berundak dan rimbunnya pohon pinang berdiri sebuah rumah gadang tua yang atapnya melengkung lembut seperti tanduk kerbau. Di sanalah pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya tidak hanya dikenal sebagai putra daerah tetapi juga pemikir besar bangsa. Namanya Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab dipanggil Hamka.





