Opini

Demokrasi Dibentuk Algoritma

Demokrasi Dibentuk Algoritma

Ada kebiasaan yang terus berulang setiap kali Indonesia memasuki tahun politik. Perhatian publik diarahkan pada siapa yang akan maju sebagai calon, berapa besar peluang kemenangan setiap partai, bagaimana hasil survei berubah...

Pengalaman Saya di Palembang

Pengalaman Saya di Palembang

Perbedaan yang Tajam Pada tanggal 15 Februari 1958 terjadi peristiwa bersejarah yang amat sangat penting di ranah Minang, yang mampu mengubah sejarah perkembangan kawasan ini pada masa berikutnya. Pada tanggal itu Dewan Perjuangan memproklamirkan berdirinya...

Manusia dan Dialektikanya

Manusia dan Dialektikanya

Saya terkesiap dengan preferensi aksi pemikiran seorang penulis islamis yang dikenali sebagai kritikus Tan Malaka. Sementara soal kritik hermeneutika atas pemikiran Tan masih belum memuaskan saya, belakangan ini, sepulang dari ranah Minang, ia mengartikulasikan ketidaksepakatan pada aksi-aksi mahasiswa. Ia memilih mendukung Prabowo ketimbang mengapresiasi upaya kritik mahasiswa pada kekuasaan.

Madilog dan Maqashid: Pembangunan sebagai Pembebasan

Madilog dan Maqashid: Pembangunan sebagai Pembebasan

Pembangunan sering datang kepada kita dengan wajah yang meyakinkan: angka pertumbuhan yang naik, jalan yang memanjang, gedung yang menjulang, dan pidato yang terdengar seperti janji yang telah selesai dikerjakan. Negara lalu menampilkan dirinya sebagai arsitek masa depan, seolah kemajuan dapat diukur dengan beton, statistik, dan daftar proyek yang berhasil difoto dari udara. Namun, di bawah semua itu, selalu ada pertanyaan yang lebih tua dan lebih jujur: apakah pembangunan sungguh memerdekakan manusia, atau hanya memperhalus cara manusia ditundukkan? Sebab sejarah terlalu sering menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat tampak maju di laporan resmi, tetapi tetap letih di dapur rakyatnya, tetap rapuh di sekolah anak-anaknya, tetap sempit di lahan petaninya, dan tetap dingin di ruang-ruang hidup orang kecil.

Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan

Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan

Riuh rendah perdebatan mengenai potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang mempersoalkan anak muda Minang yang mengagumi Tan Malaka sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di lini masa. Saya tahu, saya terhitung terlambat untuk ikut larut dalam gelombang balas-berbalas tulisan ini. Alasan keterlambatan ini sederhana dan sangat domestik: belakangan ini hari-hari saya habis di dapur, sibuk membantu orang tua mengaduk adonan dan mencetak kerupuk. Namun, di sela-sela aroma minyak panas dan deru usaha rumahan itu pula, waktu saya juga tersita oleh tanggung jawab moral yang tak kalah penting, yakni sibuk merawat tradisi lisan pasambahan Adat Minangkabau di kampung halaman saya.