Opini

Dilema Nagari Ulu Aia: Merajut Batu dan Menggadaikan Marwah di Tengah Gempuran Zaman

Dilema Nagari Ulu Aia: Merajut Batu dan Menggadaikan Marwah di Tengah Gempuran Zaman

Sepucuk undangan peresmian Balai Adat Sigamak-gamak di Ulu Aia, Luak Limopuluah, belum lama ini berubah menjadi pusaran badai yang membelah ruang publik Minangkabau. Percetakan nama Tukiran dan Edbert dua dermawan non-Muslim asal Riau yang disandingkan dengan gelar kebesaran Datuak dalam undangan tersebut, langsung memicu gelombang kecaman tajam dari panggung-panggung elite tingkat provinsi. Dalam hitungan jam, wacana publik dijejali oleh narasi penodaan adat, ancaman eksistensial terhadap identitas komunal, hingga seruan keras untuk mempertahankan kemurnian falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Ketika Lumpur Lebih Fotogenik daripada Tata Ruang

Ketika Lumpur Lebih Fotogenik daripada Tata Ruang

Ada pekerjaan pemerintah yang sangat mudah dilihat karena berlangsung di depan kamera. Ada pula pekerjaan pemerintah yang menentukan keselamatan warga tetapi berlangsung jauh dari kamera. Masalahnya muncul ketika yang pertama dianggap sebagai ukuran utama kepemimpinan, sementara yang kedua tidak pernah ditanyakan.

Ketika Kata-Kata Pulang Tanpa Penghuni: Refleksi atas Lunturnya Tradisi Bersastra dan Berkias di Kalangan Muda Minangkabau

Ketika Kata-Kata Pulang Tanpa Penghuni: Refleksi atas Lunturnya Tradisi Bersastra dan Berkias di Kalangan Muda Minangkabau

Di sebuah acara baralek, dua orang tetua duduk berhadapan. Mereka berbalas pasambahan dengan suara tenang, kalimatnya berlapis-lapis, dan tak satu pun langsung menyentuh pokok maksud. Di barisan belakang, beberapa anak muda menunduk ke layar ponsel. Ada yang menahan kantuk, ada yang menahan tawa, dan ada pula yang berbisik pelan, “Bilo sudah nyo ko?”

Menyelamatkan Adab Generasi Digital

Menyelamatkan Adab Generasi Digital

Perubahan zaman tidak pernah bisa dihentikan. Teknologi terus berkembang, media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap orang kini memiliki ruang untuk berbicara serta menampilkan dirinya kepada publik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan besar yang harus kita hadapi Bersama, bagaimana memastikan ruang digital tidak menjadi tempat yang perlahan mengikis nilai, etika, dan karakter generasi muda.