Sepucuk undangan peresmian Balai Adat Sigamak-gamak di Ulu Aia, Luak Limopuluah, belum lama ini berubah menjadi pusaran badai yang membelah ruang publik Minangkabau. Percetakan nama Tukiran dan Edbert dua dermawan non-Muslim asal Riau yang disandingkan dengan gelar kebesaran Datuak dalam undangan tersebut, langsung memicu gelombang kecaman tajam dari panggung-panggung elite tingkat provinsi. Dalam hitungan jam, wacana publik dijejali oleh narasi penodaan adat, ancaman eksistensial terhadap identitas komunal, hingga seruan keras untuk mempertahankan kemurnian falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Opini
Ironi Desil: Orang Miskin Harus Meyakinkan Negara Kalau Dirinya Miskin
Ada sesuatu yang terasa janggal dalam cara negara melihat kemiskinan hari ini. Orang miskin tidak cukup hanya hidup dalam kekurangan; ia masih harus masuk data, memenuhi kategori, terdaftar dalam sistem, dan melewati berbagai indikator untuk membuktikan bahwa dirinya memang miskin. Kalau namanya tidak muncul dalam data, seolah-olah kemiskinannya tidak pernah ada.
Kursi Kosong Birokrat dan Dosa Membicarakan Keadilan di Kampus Agama
Ada sesuatu yang ganjil dari sebuah kampus yang mengajarkan pendidikan, tetapi terasa begitu gelisah ketika mahasiswanya mulai berbicara tentang politik. Keganjilan itu mungkin tidak akan terlihat jika hanya dilihat dari satu kejadian. Ia baru terasa ketika beberapa...
Ketika Lumpur Lebih Fotogenik daripada Tata Ruang
Ada pekerjaan pemerintah yang sangat mudah dilihat karena berlangsung di depan kamera. Ada pula pekerjaan pemerintah yang menentukan keselamatan warga tetapi berlangsung jauh dari kamera. Masalahnya muncul ketika yang pertama dianggap sebagai ukuran utama kepemimpinan, sementara yang kedua tidak pernah ditanyakan.
Ketika Kata-Kata Pulang Tanpa Penghuni: Refleksi atas Lunturnya Tradisi Bersastra dan Berkias di Kalangan Muda Minangkabau
Di sebuah acara baralek, dua orang tetua duduk berhadapan. Mereka berbalas pasambahan dengan suara tenang, kalimatnya berlapis-lapis, dan tak satu pun langsung menyentuh pokok maksud. Di barisan belakang, beberapa anak muda menunduk ke layar ponsel. Ada yang menahan kantuk, ada yang menahan tawa, dan ada pula yang berbisik pelan, “Bilo sudah nyo ko?”
Menyelamatkan Adab Generasi Digital
Perubahan zaman tidak pernah bisa dihentikan. Teknologi terus berkembang, media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap orang kini memiliki ruang untuk berbicara serta menampilkan dirinya kepada publik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan besar yang harus kita hadapi Bersama, bagaimana memastikan ruang digital tidak menjadi tempat yang perlahan mengikis nilai, etika, dan karakter generasi muda.





