Mana kerja nyata para anggota DPRD, begitu juga Bupati serta Wakil Bupati yang dulu waktu kampanye rajin datang minta suara ke kampung kami? Sedari dulu jalan hancur dan sinyal tidak ada, tuan-tuan seolah hilang ditelan bumi. Jangan hanya pandai berlagak hebat saat memberi sambutan di acara formal saja. Rakyat tidak butuh pidato manis atau janji yang mengawang ke langit. Rakyat butuh jalan yang bagus dan internet yang lancar. Kalau internet saja tidak punya, jangan paksa anak sekolah ujian pakai sistem digital. Itu namanya memaksakan kehendak tanpa modal.
Opini
Rega Maulana Keliru: Nasi Padang Bukan Istilah yang Lahir Akibat PRRI
Rega memiliki hipotesa bahwa penggunaan kata “Padang” ialah akibat “kekalahan” pihak PRRI (Minangkabau) terhadap pemerintah pusat dan ketakutan akan labeling “pemberontak” membuat orang Minang yang eksodus besar-besaran ke luar Minangkabau lebih memilih kata “Padang” sebagai rujukan etnis. Hal ini dikarenakan, penggunaan kata “Minang” membuat mereka gamang. Dan pasca PRRI tersebut, kebiasaan ini berlanjut hingga sekarang. Namun, Rega tidak memberikan referensi mengenai hal tersebut. Apakah memang sesederhana itu?
Nasi Padang dan Distorsi Penamaan Etnis Minangkabau
Di balik kenikmatan nasi padang, sebenarnya ada beberapa faktor penyebab nasi padang bisa menyebar hingga ke sudut-sudut pinggiran berbagai tempat di Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Nasi padang juga kental dengan nilai filosofis. Kalian pasti sadar, kenapa nasi padang itu lebih banyak porsinya saat dibungkus ketimbang makan di tempat? Beberapa sumber menyebutkan, hal tersebut merupakan bentuk apresiasi pemilik warung karena mereka tidak perlu repot untuk mencuci piringnya. Pemilik warung juga paham, jika nasi padang dibungkus, kemungkinan akan disantap beramai-ramai karena di daerah Minangkabau ada sebuah budaya yang bernama makan bajamba atau bisa diartikan “makan bersama”.
Kritik untuk Tuangku: Seperti Apa Harusnya Tuangku? Apakah dengan Meninggalkan Kewajiban, Masih Bisa Disebut Tuangku?
Fenomena penghormatan terhadap figur Tuangku di Padang Pariaman kini berada di persimpangan jalan yang mencemaskan. Jangan naik spaning dulu, baca baik-baik, terlebih memahami konteks ini membutuhkan kepala yang dingin. Gelar Tuangku sebagai warisan estafet keilmuan para Syekh terdahulu seharusnya merepresentasikan kedalaman intelektual dan kejernihan spiritual, ingat: ”harusnya”.
Batolong-tolongan: Saat Kisah Tan Malaka Bersemi Kembali di Nadi Seorang Anak Muda Bernama Devit
Mari flashback ke 1897, di Lihak Limo Puluah tepatnya di sebuah nagari bernama Pandam Gadang, lahir seorang anak dari pasangan H.M Rasad Chaniago dengan Rangkayo Sinah Simabua bernama Ibrahim, kelak dikenal sebagai Tan Malaka. Ia bukan sekadar produk kecerdasan individual, tapi adalah hasil dari collective investment masyarakat kampungnya.
Gincu Kota Wisata, di Atas Amnesia Massal Ratusan Nyawa di Pelataran Jam Gadang
Bagaimanapun, Bukittinggi tetaplah kota dengan tumpukan luka yang masih menganga. Menangis Usmar Ismail, Hatta, Syahrir, Agus Salim dari dalam kubur melihat keadaan ini. Benar-benar alam Minangkabau yang tak terbayangkan oleh Datuak Katumangguangan dahulunya.





