“Apa yang bisa ditonton di sini?”
Pertanyaan itu hampir selalu terdengar pertama kali saat sebuah desa atau nagari mulai sering didatangi orang luar. Terdengar biasa, bahkan ramah. Tapi kalau diperhatikan agak dalam, ada cara pandang yang diam-diam bergeser. Tempat yang selama ini dihidupi warga sehari-hari (dengan segala ingatan, benih tanaman, olahan dapur, aturan hutan, hingga ritualnya) tiba-tiba dituntut buat menjelaskan dirinya sekadar sebagai tontonan. Warga tidak lagi ditanya bagaimana kabar ruang hidup mereka, tapi apa yang layak dijual atau dipamerkan ke tamu.





