“Kembalikan kami ke Sumatera Barat.” Kalimat itu terdengar seperti seruan pulang. Tetapi pulang ke mana? Ke provinsi yang kini bernama Sumatera Barat? Ke Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK)? Ke Keresidenan Westkust yang digariskan Belanda? Atau ke Pagaruyung yang hidup dalam tambo dan senandung adat?
Vicky Kurniawan
Dilema Nagari Ulu Aia: Merajut Batu dan Menggadaikan Marwah di Tengah Gempuran Zaman
Sepucuk undangan peresmian Balai Adat Sigamak-gamak di Ulu Aia, Luak Limopuluah, belum lama ini berubah menjadi pusaran badai yang membelah ruang publik Minangkabau. Percetakan nama Tukiran dan Edbert dua dermawan non-Muslim asal Riau yang disandingkan dengan gelar kebesaran Datuak dalam undangan tersebut, langsung memicu gelombang kecaman tajam dari panggung-panggung elite tingkat provinsi. Dalam hitungan jam, wacana publik dijejali oleh narasi penodaan adat, ancaman eksistensial terhadap identitas komunal, hingga seruan keras untuk mempertahankan kemurnian falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Ternyata pada Kurun Tahun 1878-1879 di Koto Gadang Pernah Terjadi Kebakaran Hebat, Bagaimana Penduduk Mengatasinya?
Dalam buku yang berjudul ”Twee Jaren op Sumatra’s Westkust” yang ditulis oleh Marius Buys terdapat sebuah kisah pilu yang merekam momen bersejarah di Koto Gadang, Luhak Agam.
Sya’ir Ziarah ke Batuhampar: Kontinuitas Sanad, Ilmu Qira’at, dan Resonansi Ordo Naqsyabandi
Terletak di tapal batas selatan Luhak Limo Puluah kini wilayah administratif Kabupaten Lima Puluh Kota, Batuhampar merekah sejak abad ke-19 sebagai episentrum transmisi keilmuan Islam tradisional berbasis surau di ranah Minang. Kompleks ini termasyhur sebagai Surau Dagang, sebuah kantong komunal tempat para urang siak menuntut ilmu dan menjalani laku tafaqquh fiddin.
Perkara Bahasa dan Politik Penyangkalan/Pembenaran
“Batas-batas bahasaku, berarti batas-batas duniaku” (“Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt”). Begitulah tuturan Ludwig Wittgenstein dalam karyanya yang berjudul “Tractatus Logico-Philosophicus” (1921) — seorang filsuf Austria-Inggris abad ke-20 yang sangat berpengaruh dalam filsafat bahasa, logika, dan filsafat analitik.
Dendam dari Bukit Jelutung
Namanya Ahmad Husein, enam puluh dua tahun, orang-orang memanggilnya Usin. Ia terduduk, perselisihan dengan perusahaan kembali dimenangkan pihak perusahaan. Usin hanya bisa termenung menatapi ladangnya yang dulu ditanami kacang, padi gogo, cabai, dan terong, kini telah berganti, ditumbuhi sawit setinggi puluhan meter. Ladang masa kecil Usin menjadi lahan HGU1 milik perusahaan sejak sembilan belas tujuh empat; ninik mamak kaum persukuan Tigo Niniak telah bersalaman dengan orang perusahaan, membuat hitam di atas putih, bersepakat kembali bahwa sebagian tanah ulayat kaumnya akan diberikan kembali ke perusahaan untuk dikelola, seperti kesepakatan puluhan tahun lalu.





