Di sebuah acara baralek, dua orang tetua duduk berhadapan. Mereka berbalas pasambahan dengan suara tenang, kalimatnya berlapis-lapis, dan tak satu pun langsung menyentuh pokok maksud. Di barisan belakang, beberapa anak muda menunduk ke layar ponsel. Ada yang menahan kantuk, ada yang menahan tawa, dan ada pula yang berbisik pelan, “Bilo sudah nyo ko?”
Saya tidak ingin menyalahkan mereka. Pemandangan seperti ini terlalu sering kita lihat untuk dijadikan bahan menghakimi. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal setiap kali saya melihatnya: pelan-pelan, apa yang dulu milik kita bersama berubah menjadi tontonan. Bahasa sehari-hari menjadi “acara adat”.
Bahasa yang Tidak Pernah Buru-Buru
Dulu, orang Minang jarang menyampaikan sesuatu secara telanjang. Nasihat dibungkus dalam mamangan. Teguran disampaikan lewat kiasan yang membuat orang menunduk tanpa merasa dipermalukan. Kritik dititipkan pada pantun, penghormatan dirangkai dalam pasambahan. Bahkan ada aturan tak tertulis tentang cara bicara yang disebut kato nan ampek: kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereng. Kepada yang lebih tua kita berbicara dengan cara yang berbeda dari kepada adik, dan berbeda pula kepada ipar atau mertua.
Bagi saya, di sinilah kelihatan bahwa bahasa di Minangkabau bukan sekadar alat mengirim informasi. Ia cara menempatkan diri. Lewat bahasa, seseorang belajar kapan harus bicara dan kapan menahan diri, kapan menegur dan kapan cukup menyindir dengan halus. Ada petatah lama yang menyimpulkannya dengan sederhana:
Nan kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah sago, nan baiak iyolah budi, nan indah iyolah baso.
Yang indah itu bahasa, dan yang baik itu budi. Keduanya berjalan berdampingan.
Dari Alam Takambang Jadi Guru ke Google Jadi Guru
Orang Minang punya falsafah yang terkenal: alam takambang jadi guru. Pengalaman, pengamatan, dan kehidupan sehari-hari adalah ruang belajar. Orang belajar sabar dari menunggu padi menguning, dan belajar hidup bersama dari cara sawah diairi bergiliran.
Sekarang guru kita sering berupa layar. Punya pertanyaan, tinggal ketik. Ingin tahu arti sebuah kata, tinggal cari. Saya tidak akan bilang ini buruk, karena saya sendiri memanfaatkannya setiap hari. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa diberikan mesin pencari, yaitu suasana. Pepatah dulu tidak sekadar dihafal. Ia diucapkan oleh seseorang, pada waktu tertentu, dengan nada tertentu, sering kali sambil menyeruput kopi di lapau. Kita paham maknanya karena mendengar cerita di baliknya.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah informasi itu tersedia. Informasinya jelas ada. Yang patut kita tanyakan: masih adakah kesabaran untuk duduk mendengarkan orang tua bercerita, lalu mencoba memahami apa yang sebenarnya mereka maksud di balik kiasan?
Bangga pada Simbol, Lalu Bagaimana dengan Kata-Katanya?
Kita gemar mengatakan bahwa kita orang Minangkabau. Kita bangga pada rumah gadang, rendang, saluang, tari piring, dan songket. Semua itu memang layak dibanggakan. Tetapi coba periksa sejenak: berapa banyak dari kebanggaan itu yang berhenti di foto profil dan takarir?
Simbol tanpa kata-kata ibarat rumah tanpa penghuni. Bangunannya berdiri megah, tetapi tidak ada lagi yang bisa menjelaskan mengapa rumah itu harus dijaga, mengapa ia dibangun begitu, dan apa yang sedang diwariskannya. Budaya tidak hidup hanya di tiang dan atap gonjong. Ia hidup dalam percakapan, dalam cerita yang diulang, dan dalam kata-kata yang terus dipakai.
Barangkali inilah yang paling membuat saya sedih: banyak anak muda tahu bahwa mereka orang Minang, tetapi tidak lagi tahu arti sebuah ungkapan yang seharusnya menjadi pegangan. Identitasnya ada, isinya menipis.
Salah Siapa?
Pertanyaan yang lebih jujur bukan “Mengapa anak muda tidak lagi menyukai sastra Minang?” Yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri adalah: sudahkah kita membuatnya cukup dekat dengan kehidupan mereka?
Zaman Tidak Bisa Dihentikan, tetapi Bisa Diajak Berjalan Bersama
Orang Minang punya ungkapan: sakali aia gadang, sakali tapian baralih. Zaman memang berubah, bahasa ikut bergeser, dan cara orang berkomunikasi tidak akan kembali seperti dulu. Menolak perubahan bukan hanya sia-sia, tetapi juga keliru.
Yang Ikut Hilang
Minangkabau tidak diwariskan hanya lewat darah, nama suku, rumah gadang, atau pakaian adat. Ia juga diwariskan lewat kata-kata: kaba yang dituturkan, pantun yang dilantunkan, pasambahan yang disampaikan, dan petatah-petitih yang mengajari seseorang menempatkan diri di tengah kehidupan bersama.
Jadi kalau suatu hari kita masih bisa menyebut diri orang Minangkabau, tetapi tidak lagi paham bahasa yang dulu dipakai leluhur untuk mengajarkan bagaimana menjadi manusia, mungkin yang hilang bukan cuma sastra.
Bisa jadi, sebagian ingatan kita tentang siapa diri kita ikut hilang bersamanya.

Penulis:
Muhammad Reyvanda Azazi
Mahasiswa UIN SMDD Bukittinggi jurusan pendidikan bahasa arab. Memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan, bahasa, sastra, kepemudaan dan organisasi.