Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

Lusueh kulindan suto kusuik,Lusueh dipetak tali tigo,Tonunan anak rang Malako;Sunggueh kok bolun...

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk...

Membaca Ulang Pemaknaan Demokrasi Asli bagi Masyarakat Minangkabau

Pasca era reformasi, civil society telah meletakkan pondasi yang kuat untuk menuju spirit dan...
Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan

Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan

“Sekarang banyak anak-anak Minang yang mengagumi Tan Malaka. Dikit-dikit menganalisa satu bangsa satu negara dengan kaji pemikiran Tan Malaka. Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan. Dia pernah aktif di dalam PKI, iya. Kemudian dia keluar. Dia pernah aktif di dalam Partai Murba, tapi itu partai kecil. Tapi kalau kita lihat seperti kaliber Natsir; dia politisi, dia negarawan, dia diplomat. Dia masuk ke jantung pemerintahan. Dia menjadi Menteri Penerangan. Dia pernah menjadi Perdana Menteri. Ya. Sehingga kata Bung Hatta ya, Sukarno tidak akan membaca surat jikalau surat itu dibaca oleh Natsir. Sukarno tidak akan men-draft surat, ya dalam pidato-pidato taklimatnya, kalau itu tidak dibaca atau dikoreksi oleh Natsir.”

Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir

Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir

Pada sebuah cuplikan potongan ceramah yang diupload (10/05/26) oleh akun @sutan.malin.khatib terlihat seorang yang diketahui bernama Hadi Nur Ramadhan memberikan penjelasan dan terkesan membanding-bandingkan antara Natsir dan juga Tan Malaka dan terlihat menyudutkan peran kenegaraan Tan. Di samping itu, terlihat jelas dalam penjabarannya ia telah mengidap beberapa kecacatan dalam berpikir.

Setia pada Ushul, Terbuka pada Furu’: Menelusuri Jejak Syekh Thayyib Umar Sungayang

Setia pada Ushul, Terbuka pada Furu’: Menelusuri Jejak Syekh Thayyib Umar Sungayang

Siapa tak kenal dengan Syekh Thayyib Umar Sungayang? Ulama besar yang mempunyai nama yang harum dikalangan orang Siak (baca: santri) di Minangkabau di awal abad 20. Salah seorang muridnya yang terkemuka ialah Prof. Mahmud Yunus, ulama dan tokoh pendidikan Islam Indonesia. Demikian harumnya, sampai-sampai generasi muda saat ini tetap mengenal namanya, bahkan diabadikan menjadi salah satu nama pesantren Modern, yaitu Pesantren Syekh Muhammad Thayyib Umar yang disokong oleh alumni-alumni Mesir masa kini, begitu juga muridnya tersebut yakni Mahmud Yunus telah pula dijadikan nama sebuah kampus PTKIN di Batusangkar / Kab. Tanah Datar.

Sawah Kagadangan Panghulu di Minangkabau dan semangat Anti-korupsi

Sawah Kagadangan Panghulu di Minangkabau dan semangat Anti-korupsi

Sawah Kagadangan adalah sebuah harta pusaka tinggi berupa lahan sawah yang khusus diperuntukkan kepada Panghulu untuk menunjang kegiatanya sehari-hari dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi Panghulu sebagai pemimpin kaum. Secara filosofis fungsi utama Sawah Kagadangan adalah untuk mencegah seorang Panghulu mengambil hak orang lain dan untuk tidak berharap kepada pemberian orang lain. Disisi lain fungsi Sawah Kagadangan secara ekonomis adalah untuk menunjang Panghulu dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dan juga untuk menafkahi keluarga Panghulu itu sendiri.