Membaca ulasan jernih dari sahabat saya di Rundiang.id (16/5/2026) dalam artikel “Tan dan Pak Natsir di Media Sosial” Menghadirkan rasa terima kasih yang sangat mendalam di hati. Di tengah riuhnya algoritma media sosial yang sering kali memaksa kita berpihak dalam hitam-putih, kehadiran tulisan tersebut seperti oase, sebuah ajakan bersahabat untuk menarik napas dalam-dalam, duduk bersila, dan membaca ulang serta manimbang jo raso.
Saya menerima dengan rasa hormat dan kerendahan hati predikat “moderat” yang disematkan penulis kepada saya. Namun, saya juga mencatat dengan saksama kritik sekaligus tantangan dari beliau bahwa saya dianggap “lengah” terhadap struktur pasca-Orde Baru yang melahirkan romantisme pemujaan Tan, serta tantangan untuk memberikan “kesimpulan yang berani” mengenai relasi pemikiran kedua tokoh bangsa ini dengan kondisi generasi muda hari ini.
Sebagai manusia yang terus belajar, saya harus berterima kasih karena diingatkan. Penulis artikel tersebut benar struktur pasca-Orde Baru yang membuka kran kebebasan informasi memang turut andil melahirkan gelombang pembacaan ulang terhadap Tan Malaka. Ada semacam dahaga sejarah yang masif setelah puluhan tahun tokoh ini dikesampingkan dari narasi resmi negara.
Ketika keran itu terbuka, wajar jika terjadi “ledakan romantisme”. Sesuatu yang dulu tabu kini menjadi keren. Dan disinilah kelengahan kita sering terjadi kita kerap merayakan “ketabuan” itu secara instan, tanpa sempat menyelami kedalaman samudra pemikirannya.
Ketika saya mencoba melihat tindakan Pak Natsir melalui kacamata “real politik” Revolusi, niat saya bukanlah untuk memaklumi atau menghapus noktah hitam penyensoran. Saya hanya ingin mengajak kita semua melihat bahwa para pendahulu kita adalah manusia sejarah yang bergulat dengan zamannya, bukan malaikat tanpa cacat politik. Namun, saya sepakat, argumen itu tidak boleh berhenti di sana dan menjadi pembelaan yang malas.
Penulis melemparkan pertanyaan krusial yang mengakar Tan yang mana yang sedang dibaca oleh anak muda hari ini? Apakah Madilog-nya, Gerpolek-nya, atau sekadar potongan kutipan estetis di media sosial demi validasi?
Ini adalah kritik kebudayaan yang sangat menohok sekaligus nyata. Menjawab tantangan dari penulis, berikut adalah posisi epistemologis dan kesimpulan yang bisa saya tawarkan:
Pertama, kita harus berani jujur bahwa ada bahaya “komodifikasi ideologi” di media sosial. Ketika gagasan radikal-revolusioner Tan Malaka atau kedalaman spiritual-demokratis Pak Natsir diringkas menjadi infografis 60 detik atau kutipan visual di TikTok, mereka kehilangan konteks dialektikanya. Tanpa pembacaan teks yang utuh (Madilog atau Capita Selecta), anak muda kita tidak sedang belajar dari Tan atau Natsir mereka hanya sedang menggunakan nama besar kedua tokoh tersebut sebagai aksesoris intelektual.
Kedua, kesimpulan saya adalah Dikotomi antara Tan Malaka dan Pak Natsir hari ini sebenarnya sudah tidak relevan. Pertentangan di antara keduanya telah selesai di tahun 1940-an dan 1950-an sebagai bagian dari dialektika historis yang saling melengkapi dalam meletakkan fondasi Republik. Menghidupkan kembali pertikaian itu di tahun 2026 dengan cara yang kurang elok misal saling menjatuhkan di media sosial adalah bentuk kemunduran berpikir (historical setback).
Bagi saya, tugas kita hari ini menyambung kegelisahan Bung Apik, Bung Habibur, tersebut bukan lagi memperdebatkan siapa yang paling berjasa atau siapa yang paling terluka.
Generasi muda Minang dan Indonesia hari ini sedang menghadapi tantangan zaman yang sama sekali berbeda disrupsi digital, krisis ekologi, tantangan ekonomi, dan pendangkalan literasi. Jika kita membaca Tan Malaka, ambillah ketajaman analisis materialisme-dialektikanya untuk membedah ketimpangan sosial hari ini, bukan untuk menjadi pemberontak tanpa arah. Jika kita membaca Pak Natsir, ambillah kesantunan berpolitik dan integrasi nilai moral-spiritualnya untuk merajut tenun kebangsaan.
Semangat nasionalisme inklusif dari Tan Malaka dan penolakan terhadap kolonialisme dapat dipadukan dengan nilai-nilai moralitas kebangsaan yang diperjuangkan Natsir. Pemikiran kritis Tan Malaka yang membebaskan masyarakat dari belenggu kebodohan sejalan dengan tradisi literasi dan intelektualisme Natsir yang mengutamakan dialog serta demokrasi.
Seperti kata penulis di akhir ulasannya, ini adalah soal “membaca ulang figur masa lalu untuk masa kini.” Kita perlu mengingat apa yang pernah dikatakan oleh sejarawan besar E.H. Carr dalam bukunya What is History?
“Sejarah adalah dialog yang tidak pernah berakhir antara masa lalu dan masa kini.”

Penulis:
Rudi Nofindra
Rudi Nofindra adalah seorang praktisi vokasi, ia fokus pada sinkronisasi pendidikan dengan industri kreatif. Di sela aktivitas akademiknya, ia menggerakkan Yayasan Svara Bumei Betuah untuk melestarikan musik tradisi Sumatra dan saat ini tengah mendalami riset aksaranada musik Sumatra.