Di tengah rimba raya mistis di lembah kaki Sago yang magis, seorang laki-laki bertelanjang dada tiap sebentar merehatkan tubuhnya, menyeka keringat di dahinya. Kadang jika terasa benar lelahnya, ia topangkan badannya pada tangkai kampak beling panjang di tangannya.
Tak seperti hari-hari yang lalu. Hari itu rasanya sangat berat. Tiap sebentar ia meneduhkan matanya dengan tangannya dari cahaya siang yang begitu terik. Laki-laki itu tiap sebentar mendongak ke langit. Memandang ke ujung batang kayu purba yang ada di hadapannya. Kayu-kayu dari hutan lebat yang belum bernama. Kayu besar itu tampak begitu tinggi. “Tak berapa catuk lagi, kau akan tumbang,” ia bergumam di dalam hati.
Laki-laki itu bernama Jano Katik. Ia tak tau persis berapa usianya. Namu, ia bisa menandainya dengan jumlah ungguk dari sisa-sisa abu tungku yang telah dibakarnya dari hari ke hari. Rasanya jumlah cukup banyak. Mungkin saja ia sudah cukup tua. Meskipun demikian, ia tampak begitu sehat. Terlihat dari badan yang tetap tegap, berbahu berdada dan berpangkal lengan yang begitu berdegap.
Ia kembali menyeka keringat yang mengilir di pelipis matanya. Dilihatnya bekas catukan kampaknya. Agaknya telah lebih separo ia kampaknya memakan pangkal kayu besar itu. “Tak berapa lagi,” gumamnya. Ada tenaga yang muncul dari dalam dirinya. Ia mengayunkan kapak belingnya itu tanpa jeda. Mulutnya terus saja mengeluarkan suara, “setelah kau tumbang, saya tinggal mencari sumber air. Dan setelah itu, tempat ini, selepas mata memandang, akan hijau oleh sawah-sawah dan ladang-ladang.” Entah catuk yang keberapa, pangkal kayu besar itu berderit. Batangnya roboh, memanjang di hadapan lelaki itu.
Kayu itu berdebam keras di tanah. Tanah tempat ia berpijak terasa sekali getarnya. Kayu itu rupanya yang paling besar diantara yang lain. Ia mengembuskan nafas panjang. Nafas yang terasa begitu lega. Entah kayu keberapa yang telah tumbang itu. Entah hari yang keberapa pula ia meneroka hutan rimba rimbun itu. Sekali lagi ia mendongak ke langit. Matahari tengah tegak tali. Bayang-bayang dirinya persis berada di bawah kakinya. Kerongkongan terasa mengering, air liurnya seolah tidak lagi berproduksi.
Pucuk dicinta, ada air membesut tiba-tiba. Kakinya terasa basah, ada air mengalir entah dari mana. Setelah ia telusuri, ada mata air keluar dari tanah. Sumbernya tak jauh dari pangkal kayu besar yang baru ia tumbangkan itu. Mata air itu seolah olah terbit tiba-tiba dari perut bumi. Ia menyauknya dengan tangan, dengan hati-hati ia rasakan dengan mulutnya. Air putih bening itu terasa begitu manis di lidahnya. Beberapa kali ia ulangi, disauk lagi dengan tangannya, lalu merasakan dengan mulutnya. Setelah yakin, baru kemudian ia menelannya. Air itu kemudian melepas semua dahaganya. Setelah puas meminumnya, Ia kemudian menyimbur-nyimburkan ke langit, dan membiarkan tubuhnya mandi karenanya. “Air terbit, air terbit, air terbit,” serunya dengan girang gembira.

Penulis:
Roni Keron
(Alumni Program Studi Humanitas Pasca Sarjana ISI Padangpanjang. Pegiat Festival Warga. Salah satu inisiator Bintang Harau, ruang belajar alternatif anak-anak pedalaman Harau. Menetap di Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang)