Teruslah Membaca Natsir, Jangan Berhenti Mengkaji Tan Malaka dan Berdebatlah!

oleh | Mei 22, 2026 | Kaji, Opini

Sejarah Indonesia merupakan sejarah panjang yang diisi beragam pemikiran, gagasan, peristiwa dan kronik antar manusia yang khas dan pelik. Kita hidup dalam sejarah itu, dalam segala kepelikan dan kekhasannya. Manusia masa kini mencari teladan dari sejarah, dari peristiwa dan dari tokoh di masa lampau. Kini kita dapat menyebut nama dari kelampauan sejarah kita, Mohammad Natsir dan Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau lebih sohor dikenal sebagai Tan Malaka.

Meski sama-sama lahir dari suatu bentang alam bernama Minangkabau, keduanya ada di persimpangan sejarah yang berbeda. Nama pertama lekat dengan gerakan Islam modernis, sementara yang kedua (dengan segala kerumitannya) lebih dikenal sebagai tokoh komunis. Yang satu menawarkan nasionalisme religius, yang satu menjajakan materialisme, dialektika dan logika.

Natsir dan Tan Malaka berada di kedudukan yang bertolak belakang. Kita bisa menghormati keduanya, tetapi juga tak bisa berpura-pura mengabaikan ketegangan ideologis satu sama lain dengan alasan sopan santun atau demi persatuan. Memperdebatkan kedudukan keduanya di masa ini tentu bukan suatu tindakan berbahaya apalagi dapat mengancam keutuhan bangsa. Kita bukan bangsa amatiran yang akan berpecah hanya karena berbalah kata. Perdebatan ialah hal yang seharusnya biasa saja dan baik-baik saja dalam koridor alam kebebasan hari ini.

Berdasarkan hal itu lah saya secara berterus terang ingin menyebut Natsir lebih utama dari Tan Malaka dalam berbagai hal. Tanpa kepura-puraan dan basa-basi ideologis yang naif.

***

Pada 23 & 24 April 2011, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Opera Tan Malaka di pentaskan. Goenawan Mohamad ada di belakang pagelaran itu. Opera Tan Malaka ialah suatu ikhtiar bersusah-payah mencari kedudukan Tan Malaka dalam Revolusi (dengan ‘R’ besar) Republik. Kesimpulannya dapat dirumuskan dari kutipan libretto opera tersebut berikut ini:

“Aku berbeda dari Sukarno karena kapalku dibela ombak dan angin, sedang kapalnya ditarik sekunar Jepang. Sukarno hidup di panggung tentara pendudukan, sedang aku hidup dekat lumpur dan puing, sampah dan lorong rendah”

Saya kira, dengan itu ia ingin mengatakan, Sukarno adalah burung merak, dan Tan Malaka seekor berang-berang. Ia bersembunyi di lubang yang dibikinnya sendiri.

(Tan Malaka: Sebuah Esai, Sebuah Opera, Hlm. 21-22)

Kalimat-kalimat di atas ialah ungkapan bernada satir atas keluhan Tan Malaka dalam pengantar Madilog. Goenawan Mohamad, si tukang sinis terhadap segala hal itu, mengejek keluh kesah Tan Malaka atas nasib perjuangannya. Tan memang melankolik meski ia ada di perahu komunisme yang revolusioner.

Pada kenyataannya Tan Malaka “nyaris tidak pernah ditemukan” dalam Revolusi jenis apa pun di republik ini. Ia bersembunyi di lubang yang ia buat sendiri. Di dalam buku yang ia tulis dan di berbagai rencana yang ia susun. Atau di dalam berbagai gerakan gagal yang coba ia perjuangkan. Sebagai pembaca Marxisme yang kokoh, Tan justru kehilangan dasar utama dari suatu revolusi, yaitu praksis! Sebagai seorang pemikir ia kerap gagal menjadi kontekstual. Dua persoalan besar dalam sosok Tan Malaka: Kehilangan praksis dan tidak kontekstual.

Para pemujanya akan menganjung-anjungkan usaha Tan Malaka membangun sekolah rakyat atau “keberhasilannya” menyatukan berbagai organisasi perlawanan dalam apa yang disebut Persatuan Perjuangan. Juga aksi-aksi heroik Tan yang celakanya malah lebih sering tampil seperti mitos daripada kisah nyata. Sesuatu yang amat ia tentang dalam Madilog. Kenyataan kita hari ini, tak ada satu pun jejak politik atau pun lembaga pendidikan nyata dari Tan yang masih aktif. Apa yang Tan buat dalam bumi material Indonesia tak dapat bertahan dalam gelombang sejarah. Jejaknya hilang kecuali dalam buku dan gagasan.

Buku dan gagasan Tan Malaka pun memang tak pernah dapat diterapkan secara sempurna atau paling tidak seperempat sempurna dalam bumi materialisme sejarahnya bangsa Indonesia. Tan Malaka membuat susunan amat menarik dalam Madilog yang pada kenyataannya tidak pernah menjadi realistis dan kontekstual untuk diterapkan kepada bangsa kita, apalagi di zaman ini. Tan menyebut langkanya buku logika bagi rakyat Hindia yang jumlahnya kira-kira 70 juta saat itu. Artinya Tan Malaka memang tidak mengenal berbagai tradisi mantik yang bertebaran di kepulauan Melayu-Indonesia sejak abad ke-17. Seolah bangsa ini baru mengenal cara berfikir yang runut setelah orang Barat mulai menjajah kita.

Di dalam Aksi Massa Tan Malaka mengkritik berbagai perlawanan rakyat yang ia sebut “Putch”. Tan menilai “putch” sebagai aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan yang membuat rancangan sendiri tanpa memperdulikan kesanggupan massa. Tan Malaka selalu menunggu dan menyiapkan suatu aksi massa yang matang namun tak pernah datang suatu aksi massa yang benar-benar matang lagi sempurna dalam sejarah Indonesia (paling tidak menurut ukuran-ukuran Tan Malaka sendiri).

Di dalam Gerpolek ia mengeluh amat panjang mengenai perundingan dan kegagalan negara menjaga semangat rakyat menghantam imperialisme dan kapitalisme. Menurutnya, kemerdekaan yang sudah 100% telah merosot menjadi 10% saja gara-gara basa-basi diplomasi itu. Tetapi gagasannya sendiri tak pernah diterapkan secara sungguh-sungguh oleh siapa pun. Tan berteori panjang tentang perang saat perang sedang berlangsung. Gerpolek tampak seperti sebuah seminar dan pra-saran yang bertele-tele dan teoritis saat peristiwa genting sedang terjadi. Seperti sebuah how to yang kurang strategis dan apalagi praksis.

Tan Malaka memang berfikir dan merumuskan arah juang bangsa, tetapi ia tidak benar-benar terlibat langsung, berdarah dan bertarung untuk menjadikan gagasan republik menjadi nyata. Ia memikirkan republik jauh sebelum republik ini berdiri, tetapi republik tersebut ada di alam ideanya Tan Malaka. Soekarno-Hatta, Sjahrir dan bahkan Natsir lah yang menghadirkan gagasan itu dalam dunia material di bumi Indonesia. “Di mana Tan Malaka?” ialah pertanyaan penting. Dalam Opera Tan Malaka, berkali-kali Aria mengumandangkan hal tersebut. Penting bukan hanya untuk ornamen pertunjukan kaum borjuis yang boleh ditonton kaum proletar itu, tetapi juga untuk sejarah kita sendiri.

Tentu kita harus jujur menghargai ide dan gagasan Tan Malaka. Secara pribadi saya mengagumi beliau dan di masa puber ideologi dahulu juga membaca buku-bukunya. Namun selain kejujuran dalam menghargai ide Tan Malaka, kita juga harus jujur menyatakan bahwa gagasannya memang tidak pernah realistis untuk kondisi Indonesia. Dulu dan apalagi hari ini. Tan Malaka ialah seorang pemikir besar, ia memperkenalkan alam pandang Barat kepada bangsa kita. Namun ia memiliki dua kelemahan utama.

Pertama ia kurang kontekstual, ia seperti membawa alam-pandang Barat secara gelondongan kepada fikiran bangsa kita. Namun Tan sendiri tidak benar-benar memahami sisi batin bangsanya secara seksama. Baginya masa lalu bangsa kita hanya penuh dengan logika mistika dan feodalisme. Tak ada sisi lain. Seolah ia mengabaikan berbagai kitab-kitab falsafah dan mantiq yang amat masyhur dan amat kaya dalam khazanah keilmuan kita. Kegagalan memahami batinnya bangsa Indonesia membuat ia terburu-buru memaksakan Madilog kepada kepada rakyat kita. Tan sama sekali tidak pernah melahirkan satu kurikulum dan tata pendidikan yang utuh. Tan pula tidak pernah membuat suatu lembaga pendidikan yang menerapkan gagasannya secara seperempat sempurna saja. Ia tidak kontekstual pada keadaan bangsanya sendiri.

Kedua, Tan kehilangan salah satu dasar dalam tradisi Marxis, yaitu praksis. Berbagai gagasannya terlalu rumit dan sulit didialektikakan dengan kenyataan bangsa Indonesia saat itu dan saat ini. Teori dan tindakan Tan Malaka terlalu mengawang-awang, apalagi untuk suatu bangsa yang tengah menghadapi perjuangan kemerdekaan. Tindakan Tan Malaka dalam bidang politik dan pendidikan, padam dalam sejarah Indonesia. Saat ini tak ada satu pun anasir politik di Indonesia yang menganut teorinya. Tak ada juga lembaga pendidikan yang menjalankan Madilog secara patuh. Tan Malaka selalu menjadi alternatif yang menarik tetapi selalu kerepotan untuk berada dalam arus utama.

Meski demikian Tan Malaka tentu banyak jasanya. Ia telah berusaha dengan sebaik-baiknya. Kita dapat membaca karya-karyanya hari ini dengan penuh kagum. Namun kita tidak dapat berkhianat pada kenyataan, Tan Malaka tidak praksis dan tidak kontekstual.

Mari kita lihat nama lain yang saya sebut lebih utama dari Tan Malaka. Mohammad Natsir benar-benar bertungkus lumus dalam sejarah Indonesia. Ia bukan hanya Menteri Penerangan yang memeriksa surat-surat Soekarno sebagai tugas administratif atau menyensor karya-karya Tan yang berisik di masa darurat. Mereduksi Natsir pada satu peristiwa saja tentu suatu tindakan yang parsial dan reduktif. Mari kita periksa Natsir dalam gagasan dan tindakannya dalam sejarah Indonesia seperti apa yang telah kita lakukan sebelumnya terhadap Tan Malaka.

Natsir ialah tokoh penggagas “nasionalisme religius” yang berusaha mengintegralkan ajaran Islam dengan tuntutan keberadaan Indonesia sebagai suatu negara modern. Natsir bukan hanya menggagas ide ini di dalam buku dan pidato, ia memperjuangkannya di atas bumi Indonesia, paling tidak lewat Partai Masyumi. Seperti Tan Malaka yang terjerat tuduhan pemberontakan, Natsir pun  berhadapan dengan kronik PRRI yang rumit itu. Ia juga mengalami penyingkiran dan pemenjaraan. Namun ia tidak pernah berhenti, dengan tubuh kurusnya, Natsir terus melawan. Ia mengarungi otoritarianisme Orde Lama dengan tegar.

Semasa Orde Baru, ia berhadapan terus menerus dengan peminggiran dan ketidakadilan. Hak-hak politiknya tidak pernah dipulihkan. Namun ia tak merengek. Ia berstrategi dan berjuang dengan cara yang lain. Ia dirikan Dewan Dakwah dan mencari jalan lain untuk melawan Soeharto dengan tegas sekaligus anggun. Ia tak memilih jalan benturan berdarah-darah karena ia tahu harga pertarungan bersenjata amat mahalnya. Natsir bukan hanya pandai berteori tetapi ia juga seorang yang praksis, kontekstual dan adaptif terhadap berbagai keadaan.

Sampai hari ini kita masih menikmati faedah dari fikiran M. Natsir di bidang politik. Hari ini kita dapat menjadi Muslim yang saleh sekaligus menjadi warga negara yang baik di Indonesia ini. Pun aspirasi politik Islam, hingga hari ini masih tumbuh dan terjaga. Ketegangan antara negara dan agama menjadi jinak (salah satunya) berkat teori dan praktik politik Natsir yang elegan.

Di bidang pendidikan peran Natsir dalam menganjurkan kemajuan fikiran bangsa kita masyhur dikenal. Ia mencitakan manusia Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dengan paripurna sekaligus memiliki keruhanian tangguh sebagai seorang yang beragama. Ajip Rosidi mengisahkan bagaimana Natsir di usia yang sangat belia telah menggagas dan mempraktikan idenya dalam apa yang disebut sebagai Pendidikan Islam (Pendis). Natsir berjuang mendirikan suatu sekolah partikelir dengan susah payah, tak kalah payah dari usaha Tan Malaka.

Namun peran Natsir tak berhenti di Pendis saja. Pada 8 Juli 1945, Mohammad Natsir bersama Mohammad Hatta, K.H. A. Wahid Hasjim, K.H. Mas Mansyur dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir mendirikan Sekolah Tinggi Islam (kini menjadi UII). Masyumi juga turut memperjuangkan pendidikan agama di seluruh jenjang pendidikan nasional melalui UU No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah. Beberapa kader Natsir juga mendirikan berbagai lembaga pendidikan di berbagai tingkat. Artinya pemikiran Natsir mengenai pendidikan tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga praksis, kontekstual dan adaptif untuk berbagai keadaaan berbangsa.

***

Perbandingan dua tokoh di atas tentu sesuatu yang wajar dan seharusnya biasa saja. Ini bukan suatu upaya mengutamakan Natsir sembari menginjak nama Tan Malaka dengan alasan-alasan ideologis. Namun suatu pandangan berdasarkan kenyataan sejarah bangsa Indonesia. Natsir memang lebih praksis, kontekstual, adaptif dan relevan bagi bangsa Indonesia dibandingkan dengan Tan Malaka. Meski demikian, kita pun tanpa ragu dapat menyebut kelebihan Tan Malaka dibanding Natsir. Bagaimana pun Tan Malaka memang lebih filosofis dan memiliki citra, semangat serta daya perlawanan terhadap kekuasaan yang beku. Tan berhasil menjadikan filsafat sebagai suatu tenaga oposan yang penting untuk dimiliki oleh anak muda bangsa ini. Boleh jadi itulah yang membuat sosoknya menjadi lebih memukau.

Terpenting, kita sebenarnya perlu membaca karya-karya Natsir dan Tan Malaka dengan lebih produktif. Suatu pembacaan yang produktif tidak akan berhenti dalam pemujaan buta dan kekaguman mati terhadap tokoh-tokoh kita itu. Pembacaan produktif ialah pembacaan yang kritis untuk mencari relevansi, mencari faedah dari karya-karya Natsir dan Tan Malaka untuk keadaan kita di masa kini.

Oleh karena itu, teruslah membahas Natsir, jangan berhenti mengkaji Tan Malaka dan berdebatlah!

Penulis:
Shubhi Abdillah
Lahir di Bandung, 14 September 1985. Pendiri Komunitas NuuN dan berkegiatan sebagai penjual buku di Toko Buku NuuN.