Di antara gejolak sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar berdiri seperti anak nakal yang menendang pintu konvensi. Ia tidak sekadar menulis puisi ia membongkar pakem. Sajak-sajaknya menolak kesantunan formal ala Pujangga Baru, lalu melompat ke wilayah yang lebih liar: ritme patah, diksi menohok, dan subjektivitas yang nyaris eksistensialis. Jika sastra adalah taman yang rapi, Chairil datang sebagai “tukang rusuh estetika” yang menanam semak berduri di tengah bunga-bunga.
Sastra
Broker di Balik Saluak
Mengeja Saluak sebagai kuitansi, mengeja Gelar sebagai komoditas yang kelam.
Di mana pusaka bukan lagi beban, hanya label harga untuk membeli kursi. Kita berjalan di atas tanah yang sengketa, menyusun dusta di balik tumpukan kata-kata.
10 Puisi Pendek Zikri Almarhum yang Membuat Kamu Hendak ke Jamban
JAM TANGAN
bagi seorang prajurit
detik adalah
peluru yang lepas
dari moncong senapan
tapi tak membunuh siapa pun
kecuali hari-harinya sendiri
bagi seorang ibu
detik adalah
langkah anak
yang menjauh dari pintu
tapi tak menuju mana pun
kecuali doa-doanya sendiri


