Sastra

Dendam dari Bukit Jelutung

Dendam dari Bukit Jelutung

Namanya Ahmad Husein, enam puluh dua tahun, orang-orang memanggilnya Usin. Ia terduduk, perselisihan dengan perusahaan kembali dimenangkan pihak perusahaan. Usin hanya bisa termenung menatapi ladangnya yang dulu ditanami kacang, padi gogo, cabai, dan terong, kini telah berganti, ditumbuhi sawit setinggi puluhan meter. Ladang masa kecil Usin menjadi lahan HGU1 milik perusahaan sejak sembilan belas tujuh empat; ninik mamak kaum persukuan Tigo Niniak telah bersalaman dengan orang perusahaan, membuat hitam di atas putih, bersepakat kembali bahwa sebagian tanah ulayat kaumnya akan diberikan kembali ke perusahaan untuk dikelola, seperti kesepakatan puluhan tahun lalu.

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Dalam pertunjukan sastra lisan, ruang (space) adalah aspek yang amat penting. Seorang tukang cerita memiliki teknik dan strategi tertentu dalam menggambarkan ruang kepada khalayaknya (audience), supaya khalayak bisa dirayu ‘masuk’ ke dalam peristiwa cerita. Ada penggambaran ruang yang kuat lewat gesture (gerak tubuh), tapi ada yang yang kuat lewat kata (naratif). Barangkali kecenderungan kedua ini ada pada teks pantun, sebagaimana dapat kita kesan dalam nomor-nomor terdahulu maupun dalam nomor ini.

Tutorial Pulang Kampung Tanpa Pulang

Tutorial Pulang Kampung Tanpa Pulang

Dari Padang ke kampung saya, anda akan menghabiskan waktu 2 sampai 3 hari perjalanan jika lewat Filipina, tapi kalau lewat Kayu Tanam hanya memakan waktu 2 sampai 3 jam saja. Kalau anda lewat Madagaskar justru lebih cepat lagi, hanya menghabiskan waktu sebatang rokok. Sebatang rokok yang tak dinyalakan.

Kala Benci Bertolak Perangai: Retorika Rasa dalam Pantun Minang Klasik

Kala Benci Bertolak Perangai: Retorika Rasa dalam Pantun Minang Klasik

Mengarang pantun ibarat mengaduk (maaru) gula saka dan santan jadi tengguli. Adukan yang pas akan menghasilkan tengguli yang manis dan enak. Sebuah ungkapan Minang lama berbunyi: ‘Kurang aru cirik kambiangan, talampau aru bapalantiangan’. Ungkapan itu menyiratkan bahwa hanya tangan dan yang cekatan dan emosi yang tertatalah yang dapat menghasilkan tengguli yang bagus.

Pauh Janggi: Menilik Erotisme Halus dalam Estetika Pantun Minangkabau

Pauh Janggi: Menilik Erotisme Halus dalam Estetika Pantun Minangkabau

Genre pantun boleh dibilang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan. Walapun zaman berubah, musim berkisar, pantun tetap hidup meskipun secara estetika ia mengalami transformasi. Namun itu adalah sesuatu yang wajar terjadi. Di negeri ini sekarang pantun juga populer di ranah politik. Politikus seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Tifatul Sembiring, misalnya, suka mengungkapkan pesan politiknya lewat pantun, sebagaimana dibahas oleh Erizal dalam artikelnya ‘Politik Pantun Yang Rumit’ (2011:75-80). Pantun memang bagian dari politik kehidupan, tak terkecuali pantun Minangkabau.