Sastra

Ambo Menjago Hak Milik, Ayek Berjihad di Ranah Pesisir

Ambo Menjago Hak Milik, Ayek Berjihad di Ranah Pesisir

Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.

Sebuah syair yang ditulis oleh  H. Si Am Dt. Soda, cerita bersumber dari Salmawati.

Air Terbit

Air Terbit

Pucuk dicinta, ada air membesut tiba-tiba. Kakinya terasa basah, ada air mengalir entah dari mana. Setelah ia telusuri, ada mata air keluar dari tanah. Sumbernya tak jauh dari pangkal kayu besar yang baru ia tumbangkan itu. Mata air itu seolah olah terbit tiba-tiba dari perut bumi. Ia menyauknya dengan tangan, dengan hati-hati ia rasakan dengan mulutnya. Air putih bening itu terasa begitu manis di lidahnya. Beberapa kali ia ulangi, disauk lagi dengan tangannya, lalu merasakan dengan mulutnya. Setelah yakin, baru kemudian ia menelannya. Air itu kemudian melepas semua dahaganya. Setelah puas meminumnya, Ia kemudian menyimbur-nyimburkan ke langit, dan membiarkan tubuhnya mandi karenanya. “Air terbit, air terbit, air terbit,” serunya dengan girang gembira.

Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir

Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir

Di antara gejolak sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar berdiri seperti anak nakal yang menendang pintu konvensi. Ia tidak sekadar menulis puisi ia membongkar pakem. Sajak-sajaknya menolak kesantunan formal ala Pujangga Baru, lalu melompat ke wilayah yang lebih liar: ritme patah, diksi menohok, dan subjektivitas yang nyaris eksistensialis. Jika sastra adalah taman yang rapi, Chairil datang sebagai “tukang rusuh estetika” yang menanam semak berduri di tengah bunga-bunga.

Broker di Balik Saluak

Broker di Balik Saluak

Mengeja Saluak sebagai kuitansi, mengeja Gelar sebagai komoditas yang kelam.

Di mana pusaka bukan lagi beban, hanya label harga untuk membeli kursi. Kita berjalan di atas tanah yang sengketa, menyusun dusta di balik tumpukan kata-kata.