Namanya Ahmad Husein, enam puluh dua tahun, orang-orang memanggilnya Usin. Ia terduduk, perselisihan dengan perusahaan kembali dimenangkan pihak perusahaan. Usin hanya bisa termenung menatapi ladangnya yang dulu ditanami kacang, padi gogo, cabai, dan terong, kini telah berganti, ditumbuhi sawit setinggi puluhan meter. Ladang masa kecil Usin menjadi lahan HGU1 milik perusahaan sejak sembilan belas tujuh empat; ninik mamak kaum persukuan Tigo Niniak telah bersalaman dengan orang perusahaan, membuat hitam di atas putih, bersepakat kembali bahwa sebagian tanah ulayat kaumnya akan diberikan kembali ke perusahaan untuk dikelola, seperti kesepakatan puluhan tahun lalu.
Kaba
Air Terbit
Pucuk dicinta, ada air membesut tiba-tiba. Kakinya terasa basah, ada air mengalir entah dari mana. Setelah ia telusuri, ada mata air keluar dari tanah. Sumbernya tak jauh dari pangkal kayu besar yang baru ia tumbangkan itu. Mata air itu seolah olah terbit tiba-tiba dari perut bumi. Ia menyauknya dengan tangan, dengan hati-hati ia rasakan dengan mulutnya. Air putih bening itu terasa begitu manis di lidahnya. Beberapa kali ia ulangi, disauk lagi dengan tangannya, lalu merasakan dengan mulutnya. Setelah yakin, baru kemudian ia menelannya. Air itu kemudian melepas semua dahaganya. Setelah puas meminumnya, Ia kemudian menyimbur-nyimburkan ke langit, dan membiarkan tubuhnya mandi karenanya. “Air terbit, air terbit, air terbit,” serunya dengan girang gembira.

