Menjadi perantau adalah pilihan hidup. Mereka sanggup meninggalkan sawah, ladang, dan keluarga demi mencari hidup di negeri orang. Tekadnya baja. Namun, ada satu anggota tubuh yang rupanya menolak ikut, yaitu lidah.
Pada bulan-bulan pertama di rantau, hampir semua perantau menyadarinya. Nasi di kos terasa hambar, telur dadar terasa sepi, dan di tengah malam kita tiba-tiba membayangkan samba lado yang jaraknya ratusan kilometer. Kita bisa belajar bahasa baru, menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat, dan membangun kehidupan dari nol. Tetapi urusan rasa, lidah sering punya kehendaknya sendiri.





