Potret Seorang Kepala Pasukan Marsose, Pasukan yang Memburu dan Membunuh Sisingamangaraja XII

oleh | Okt 9, 2026 | Sejarah, Sosok

Sumber: Harm Stevens, Jos Stoopman, Pauljac Verhoeven, De laatste Batakkoning: koloniale kroniek in documenten 1883-1911. Arnhem: Museum Bronbeek, 2010: 155.

Catatan: Di halaman 164 sumber di atas tertulis:

“Hans Christoffel gezeten in stoel op de voorgalerij Vermoedelijk is de foto gemaakt tussen 1907 en 1910, de laatste jaren van Christoffels militaire loopbaan.”

(Hans Christoffel duduk di kursi di galeri depan [sebuah rumah]. Foto ini kemungkinan diambil antara tahun 1907 dan 1910, tahun-tahun terakhir karier militer Christoffel.)

Lebih jauh tentang pemburuan Sisingamangaraja XII oleh pasukan marsose (marechaussee) yang dipimpin Christoffel, baca artikel Radja H.A. m. Tampoebolon, “Het sneuvelen van Si Singa Mangaradja” [s.l.: s.n], 194?. Eksemplar artikel ini antara lain tersimpan di Leiden University Library dengan shelfmark: KITLV3; M i 469.

Seperti yang telah disampaikan di atas, sosok yang tengah duduk pada foto tersebut tak lain ialah orang yang bertanggungjawab atas gugurnya Sisingamangaraja XII di bawah pasukan yang ia pimpin. Kawasan Pea Raja di Dairi, Sumatra Utara, menjadi saksi bisu operasi militer Belanda pada 17 Juni 1907. Pasukan khusus marsose yang dipimpin Hans Christoffel melancarkan penyergapan terencana di wilayah tersebut. Merujuk kajian sejarah dari peneliti seperti Uli Kozok, eksekusi lapangan operasi itu melibatkan empat personel korps marsose, yaitu Johannes Rotikan bersama Watulingas, Karundung, dan Sualang, yang bergerak langsung menyergap di garis depan pertempuran.

Adapun perihal Sisingamangaraja XII, ia lahir pada 18 Februari 1845 dengan nama Patuan Bosar Sinambela, sosok yang kelak dikenal sebagai Raja Sisingamangaraja XII menyandang gelar kehormatan Patuan Bosar Sinambela Ompu Pulo Batu berkat kehadiran cucu pertamanya dari garis Patuan Anggi Sinambela. Ia naik takhta pada 1876 untuk meneruskan kepemimpinan sang ayah, Raja Sohahuaon Sinambela (Sisingamangaraja XI), sekaligus memikul mandat ganda sebagai raja dan pemuka spiritual di tanah Toba.

Sepanjang masa kepemimpinannya, ia gigih memimpin perlawanan bersenjata melawan kolonialisme Belanda hingga gugur di medan tempur pada 17 Juni 1907. Jenazahnya awalnya dikebumikan di Tarutung, Tapanuli Utara, sebelum akhirnya dipindahkan ke Soposurung, Balige pada 1953. Atas jasa dan pengorbanannya bagi kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 590/1961 tertanggal 9 November 1961.

Penulis:
Surya Suryadi
Lahir 15 Februari 1965 di Nagari Sunur, Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatra Barat, meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra Unand (1991) dan mengajar sebagai asisten dosen di Unand serta UI, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sana, ia mengantongi gelar master pada 2002 dan menyelesaikan gelar doktornya pada 2014 dengan fokus riset berjudul: “The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau”. Suryadi dikenal sebagai pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara. Ia banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara dan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.