Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sering kali terjebak pada romantisme seragam dan birokrasi. Padahal, jika kita menengok ke Padang Panjang pada awal abad ke-20, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sebuah instrumen resistensi kultural dan politik.
Apria Putra
Sawah Kagadangan Panghulu di Minangkabau dan semangat Anti-korupsi
Sawah Kagadangan adalah sebuah harta pusaka tinggi berupa lahan sawah yang khusus diperuntukkan kepada Panghulu untuk menunjang kegiatanya sehari-hari dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi Panghulu sebagai pemimpin kaum. Secara filosofis fungsi utama Sawah Kagadangan adalah untuk mencegah seorang Panghulu mengambil hak orang lain dan untuk tidak berharap kepada pemberian orang lain. Disisi lain fungsi Sawah Kagadangan secara ekonomis adalah untuk menunjang Panghulu dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dan juga untuk menafkahi keluarga Panghulu itu sendiri.
Jejak Inyiak De-er: Di Balik Tirai Muhammadiyah dan Kelahiran Kaum Muda
Warkah ini disuling berdasar manuskrip “al-Syir’ah fi al-Radd ‘ala man Qala al-Qunut…” (1938), memoar “Ayahku” serta opus magnum “Islam dan Adat Minangkabau” (Hamka), dikukuhkan pula oleh kesaksian primer Abuya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno dan Abuya Drs. H. Abdul Jalal.
Iyut Fitra Berpulang, Gugur Sehelai Daun dari Pohon Sastra Indonesia
Dunia sastra Indonesia kehilangan salah satu penjaga sunyi. Penyair dan cerpenis asal Payakumbuh, Iyut Fitra (Zulfitra), berpulang ke rahmatullah di RS M. Djamil, Padang, Senin, 27 April 2026 pukul 15.26 WIB. Kepergiannya menutup satu jejak penting dalam konstelasi sastra Indonesia kontemporer, tetapi meninggalkan poetics of memory yang akan terus hidup dalam kata-kata.
Yusril Djalinus, Urang Koto Tinggi yang Membangun Nadi Redaksi Tempo
Yusril Djalinus atau yang lebih dikenal dengan sebutan YD adalah salah satu nama yang tak pernah tampil di halaman depan majalah Tempo, tetapi justru menentukan bagaimana halaman-halaman itu disusun, diolah, dan dipertanggungjawabkan. Lahir di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada 12 Agustus 1944, Yusril membawa dua dunia dalam dirinya: denyut kota besar tempat ia dilahirkan dan watak Minangkabau yang diwariskan keluarganya dari Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Mengenang Drukkerij al-Islamiyah Fort de Kock, Percetakan Lumbung Keilmuan Ulama Minangkabau pada Era Kolonial
Rujukan tulisan ini bertumpu pada sejumlah literatur klasik yang otoritatif, antara lain Riwayat Hidup Ulama Syafi’iyyah karya Syekh Yunus Yahya Magek (1976), Ayah Kita karya Abuya Baharuddin ar-Rasuli (1978), serta Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i karya Abuya Sirajuddin Abbas (1973). Ketiga karya ini bukan sekadar sumber historis, tetapi juga merepresentasikan intellectual genealogy ulama Minangkabau dalam merawat tradisi keilmuan Islam dari masa ke masa.





