Pembangunan sering datang kepada kita dengan wajah yang meyakinkan: angka pertumbuhan yang naik, jalan yang memanjang, gedung yang menjulang, dan pidato yang terdengar seperti janji yang telah selesai dikerjakan. Negara lalu menampilkan dirinya sebagai arsitek masa depan, seolah kemajuan dapat diukur dengan beton, statistik, dan daftar proyek yang berhasil difoto dari udara. Namun, di bawah semua itu, selalu ada pertanyaan yang lebih tua dan lebih jujur: apakah pembangunan sungguh memerdekakan manusia, atau hanya memperhalus cara manusia ditundukkan? Sebab sejarah terlalu sering menunjukkan bahwa sebuah bangsa dapat tampak maju di laporan resmi, tetapi tetap letih di dapur rakyatnya, tetap rapuh di sekolah anak-anaknya, tetap sempit di lahan petaninya, dan tetap dingin di ruang-ruang hidup orang kecil.
Apria Putra
Ambo Menjago Hak Milik, Ayek Berjihad di Ranah Pesisir
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang”. Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Sebuah syair yang ditulis oleh H. Si Am Dt. Soda, cerita bersumber dari Salmawati.
Di Kaki Bukit Saduali, Ayahku Syahid bersama 6 Orang Kawan Seperjuangan
Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang dimuat ulang, diperoleh dari buku “45 Kisah PRRI di Ranah Bunda: Tuah Sekata, Celaka Bersilang” . Kami menuliskan ulang tulisan ini guna sebagai upaya menjaga memori kolektif atas sebuah peristiwa penting bersejarah.
Petuah Mr. Syafruddin Prawiranegara, untuk Pengulas “Gubernur Pembaca Sejarah”
"Jangan pernah kehilangan objektivitas meskipun terhadap mereka yang tidak kita sukai," kata Mr. Syafruddin Prawiranegara, pahlawan nasional Indonesia. Ungkapan Gubernur Bank Indonesia pertama itu sengaja saya kutipkan buat Muhammad Genta Saputra, mahasiswa Program...
Benarkah Tuanku Imam Bonjol Membantai Etnis Batak?
Tulisan ini dimulai oleh sosok yang bernama Mangaradja Onggang Parlindungan (Sam Parlin) yang pada tahun 1965 menulis sebuah buku “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833).” Buku Tuanku Rao karya Sam Parlin ini tak main-main. Jumlahnya 691 halaman dengan campuran penggunaan bahasa Indonesia, Inggris dan Jerman.
Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan
Riuh rendah perdebatan mengenai potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang mempersoalkan anak muda Minang yang mengagumi Tan Malaka sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di lini masa. Saya tahu, saya terhitung terlambat untuk ikut larut dalam gelombang balas-berbalas tulisan ini. Alasan keterlambatan ini sederhana dan sangat domestik: belakangan ini hari-hari saya habis di dapur, sibuk membantu orang tua mengaduk adonan dan mencetak kerupuk. Namun, di sela-sela aroma minyak panas dan deru usaha rumahan itu pula, waktu saya juga tersita oleh tanggung jawab moral yang tak kalah penting, yakni sibuk merawat tradisi lisan pasambahan Adat Minangkabau di kampung halaman saya.





