Dalam historis empiris, Islam tidaklah hadir di ruang yang hampa. Islam lahir dalam arus deras sistem jahiliah yang telah merasuk ke dalam semua sendi kehidupan, akan tetapi jahil di sini bukanlah jahil secara kognitif, tapi jahil secara sistem berkehidupan, terkhusus dari segi moralitas, etika, dan penghambaan kepada Tuhan. Dan ketika itulah Islam hadir dengan konsep ajaran tauhidnya. Kehadiran Islam di bumi Arab pada satu sisi merupakan risalah pentauhidan, pengesaan Tuhan sebagai sesembahan tunggal.
Roni Keron
Si Bujang Jauh: Gejolak Rindu Sang Anak pada Ayahnya
“Tetapi entah bagaimana sebabnya, dari umur sepuluh tahun, telah nampak jiwa saya melawan beliau. Jiwa beliau adalah jiwa diktator. Kalau sekiranya cara beliau mendidik itu sajalah, maulah saya terbuang, menjadi anak yang tidak berguna. Saya tidak mau pulang ke rumah, saya tidak mau mengaji, saya bosan mendengar kitab Fiqih yang diajarkan di Thawalib”1
Membakar Masa Depan Demi Keuntungan: Ketika Karhutla Bukan Bencana Alam Melainkan Bisnis Haram
Kalau kita mau menyelesaikan dan membongkar siapa dalang di balik kabut asap yang menyelimuti negara kita ini, kita tidak cukup hanya berhenti pada sebuah pertanyaan siapa yang membakar hutan ini. Kita juga harus bertanya: Siapa yang diuntungkan dari lahan yang terbakar ini?
Ilmu Alah Raso Tabuang
Di malam yang biasa-biasa saja anak mudo di minangkabau masih dengan budaya prancis-nya, terlihat si Amaik yang sedang manyandarkan badan letihnya pulang kerja seharian.
Seperti Apa Kita di Mata Penjajah?
Yang mungkin jamak kita ketahui, penjajahan bangsa Eropa sudah lama berakhir seusai hadirnya negara. Namun hal tersebut hanya berlaku bagi mereka yang menganggap bahwa kolonialisme terjadi secara fisik belaka—dan hanya dilakukan oleh bangsa Eropa. Sebagaimana pengetahuan serupa koin yang berbagi sisi dengan kekuasaan, kenyataannya, bangsa jajahan tidak hanya ditindas secara fisik, namun dipelajari, dikategorikan secara sederhana lagi hierarkis, ditindas di dalam produksi wacana serta, dihegemoni secara epistemologis.
Wisata Halal, Etika yang Tertinggal: Ketika Padang Mulai Menjual Kecantikan dan Melupakan Kepantasan
Catatan Sosial tentang Budaya Berpakaian, Industri Hiburan, dan Tanggung Jawab Moral di Kota Padang





