Rindu Dandam di Sehelai Kertas: Dinamika Sosial, Modernitas, dan Cinta dalam Pantun Minangkabau

oleh | Okt 12, 2026 | Kaji, Sastra

Pada masa lampau sesungguhnya khazanah pantun Minangkabau cukup banyak. Namun, ada kesan bahwa pantun Minang terlalai untuk diselamatkan dalam tulisan. Syukur bahwa beberapa orang lulusan Sekolah Raja Fort de Kock dan ambtenaar BB Hindia mencatatnya dalam aksara Jawi maupun ‘Tulisan Ulando’ (Latin), yang menjadi sumber primer rubrik ini.

Surau-surau sebagai skriptorium Minangkabau tampaknya kurang berminat menuliskan pantun. Ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut (misalnya sejauh mana pengaruh revolusi agama [Gerakan Paderi] terhadap fenomena ini). Sebelum para ahli menelaahnya lebih dalam, mari kita nikmati sajian pada tulisan kali ini.

Suto ini suto lilinan,
Suto ijau di batang kayu,
Surek ini surek kiriman,
Tulisan Ulando kato Melayu.

Sabab diparang sapek nangko,
Rabab tasanda di pamatang,
Sabab dikarang surek nangko,
Rindu dandam bukan kapalang.

Kayu aro di Kampuang Surau,
Ikatan ayam biriang jalak,
Putiah mato mamandang pulau,
Sampan ado pangayuah tidak.

Ampiang kiriman Rajo Yunuih,
Dimakan sambia baranang,
Kasiah sayang jangan diputuih,
Tinggakan juo salai banang.

Buang batu timbun kalapo,
Banyak udang di pasia Bayang,
Buang ambo tidak mangapo,
Banyak urang mangasiah sayang.

Karambia nan tunggang tinggi,
Jatuah sabuah patimpokan,
Kok Adiak bajalan anyo lai,
Kami nan jangan dilupokan.

Bacincin suaso rancak,
Jatuah ka padi rang Sikilang,
Bia di mato tidak tampak,
Asa di hati tidak ilang.

Pariaman banyak parigi,
Patah kalam ditimpo dawaik,
Parasaian di bulan ini,
Rasa di dalam liang lahaik.

Bait 500 berisi gurauan yang menggambarkan pengaruh pendidikan sekuler (Barat) dalam masyarakat Minangkabau yang makin berkembang di akhir abad ke-19. ‘Tulisan Ulando’ dalam konteks ini berarti huruf Latin. Memang pantun-pantun yang diambil dari banyak naskah Minangkabau untuk rubrik ini, yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, sebagiannya ditulis dalam aksara Latin berbahasa Melayu. Tapi dalam konteks ini ‘bahasa Melayu’ dapat juga diartikan sebagai bahasa Minangkabau yang di-melayukan (bahaso Gaduang).

Fungsi surat sebagai sarana penyampai perasaan orang yang sedang kasmaran (rindu dandam) sudah jamak kita ketahui. Para gadis dan bujang yang saling naksir akan menyampaikan isi hatinya dalam surat dengan kertas bergambar bunga mawar berwarna merah jambu. Itulah refleksi bait 501. Tradisi itu mulai terkikis ketika tradisi bersuratan makin digerus oleh tradisi ber-SMS-SMS-an akibat meruyaknya teknologi komunikasi HP sejak akhir 1990-an.

Kiasan pada bait 502 sungguh sangat elok. Bait ini mengilatkan keinginan sangat kuat (putiah mato) untuk menggapai sesuatu (yang jauh) tapi syarat untuk dapat mencapainya tidak mencukupi. Nak manjuluak buah nan tinggi, tapi panggalan cupua. Konteksnya cukup jelas: bahwa maksudnya adalah seorang biasa yang jatuh hati kepada seorang yang secara material dan sosial lebih tinggi. Ada banyak ‘bukti’ tekstual, sebagaimana juga diperlihatkan dalam bait ini, yang menunjukkan penting dan kuatnya ideologi materialisme dalam kebudayaan Minangkabau – sesuatu yang dapat dipelajari lebih dalam melalui teks-teks pantun Minang (cf. R.J. Chadwick 1994).

Bait 503 menangkap suara si pecundang yang berharap bahwa jangan sampai berpatang arang karena broken heart, cukup patah tebu saja: meski sudah tidak bersama lagi, mohon tali silaturahim tidak diputuskan. Ini pelajaran yang baik untuk kita semua. Namun dalam bait 504 terlihat rasa harga diri si dia yang jadi pecundang: ‘Tidak masalah jika engkau putuskan hubungan kasih ini, sebab pasti masih ada orang lain yang akan memberikan kasih sayang’, katanya. ‘Kumbang memang tidak seekor, bunga tidak setangkai’. Jangan larut dalam perasaan sedih.

Dalam dua bait berikutnya (506 dan 507) juga ada nada perpisahan, tapi di sini hanya karena dipisahkan oleh jarak, bukan karena broken heart. Kedua bait ini merekam lagi tradisi merantau orang Minangkabau yang unik dan khas itu. Yang ditinggalkan bermohon agar dirinya jangan dilupakan: luput di mata, di hati jangan. Semoga pesan ini dapat diresapi oleh para pembaca.

Ada hiperbola yang sangat kuat dalam bait terakhir (507). Bait ini menggambarkan kesusahan dan penderitaan yang begitu berat yang sedang ditanggung oleh seseorang. Kata ‘parasaian’ yang dipakai dalam larik ketiga mengindikasikan penderitaan yang lebih menyangkut situasi ekonomi ketimbang urusan hati dan cinta. Apakah ini nada pesimis? Mungkin tidak, karena bahasa literer adalah permainan kata. Tapi kalau benar-benar pesimis, mintak sajolah surek anyuik lai.

Penulis:
Surya Suryadi
Lahir 15 Februari 1965 di Nagari Sunur, Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatra Barat, meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra Unand (1991) dan mengajar sebagai asisten dosen di Unand serta UI, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sana, ia mengantongi gelar master pada 2002 dan menyelesaikan gelar doktornya pada 2014 dengan fokus riset berjudul: “The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau”. Suryadi dikenal sebagai pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara. Ia banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara dan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.