Syekh Hasan Bashri Maninjau dikenal sebagai salah seorang pejuang agama lewat Majalah keagamaan. Dikalangan ulama-ulama Tua, beliau merupakan seorang yang gencar membentengi faham-faham lama dari gugatan kaum Muda. Majalah Al-Mizan yang terbit di Maninjau pada tahun 1910-an, dimana beliau menjadi redaktur pertamanya, menjadi wadah pertahanan Ulama Tua.
Di sisi lain, Majalah Al-Moenir di Padang menjadi corong penyebaran faham kaum Muda.
Disamping aktif menulis, dalam bentuk artikel dan jawaban pertanyaan, dalam al-Mizan, Syekh Hasan Bashri juga tercatat pernah menulis risalah. Diantaranya yang dapat kita temui sebuah risalah yang cukup menarik tentang soal-soal ibadah. Deskripsinya ialah:
Mursyidut Thulab: Pencerdikkan segala si-Penuntut
Karya ini berisi tentang kupasan soal-soal ibadah, mulai dari bersyahadat, bersuci (thaharah), zakat dan haji. Bagian terakhirnya dilampirkan tentang bacaan ketika sujud Tilawah. Menariknya karya ini, disamping menguraikan hal-hal ibadah layaknya ilmu Fiqih, Syekh Hasan Bashri juga memberikan “pendapatan akal”, yaitu berupa analisis dari pengarangnya. Hal ini tampak merupakan hal baru dengan menyertakan sebuah komentar mengenai topik yang dibahas. Misalnya ketika membicarakan tentang syahadat, Syekh Hasan Bashri memaparkan analisa sebagai berikut:
(Pendapat Akal) bahwasanya mengittiqatkan Tuhan Allah ada lagi esa lagi mengadakan bagi sekalian alam ini ialah pekerjaan yang menurut akal yang sempurna yang dibetulkan oleh kelakuan manusia, sehingga manusia yang tidak beragama sekalipun mengaku juga, sekurang-kurangnya dengan kelakuan saja. Karena akal kita tidak membenarkan bahwa yang diperoleh alam ini dengan tidak ada yang menjadikan. Tetapi setengah manusia telah ditipu akalnya yang pendek dan pengetahuannya yang sedikit yang membawanya kepada mengingkari Tuhan Allah.
Karya ini dicetak di Bukittinggi, atas jasa dari Haji Ahmad Chalidi, tanpa menyertakan nama penerbit dan tahunnya.
Berikut kita hadirkan cover kirab yang berjudul
Mursyidut Thulab / Mursyid ath-Thullab karya dari Syekh Hasan Bashri tersebut:

Terjemahannya:
Inilah kitab bernama Mursyid ath-Thullab (Pencerdas Para Penuntut Ilmu) yang membahas ilmu fikih terkait ibadah dan dihiasi dengan pertimbangan akal pikiran, di mana pembelajarannya disesuaikan dengan tuntutan zaman saat ini, yaitu menyelaraskan hukum dengan akal. Kitab ini dihimpun oleh Haji Hasan Basri Maninjau, dicetak untuk edisi pertama atas biaya Haji Ahmad al-Khalidi, dan dilarang dicetak ulang tanpa izin pengarang.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Pendidikan doktoral (S3) ia selesaikan di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.