Nasib Lidah Para Perantau

oleh | Okt 13, 2026 | Kaji, Opini

Menjadi perantau adalah pilihan hidup. Mereka sanggup meninggalkan sawah, ladang, dan keluarga demi mencari hidup di negeri orang. Tekadnya baja. Namun, ada satu anggota tubuh yang rupanya menolak ikut, yaitu lidah.

Pada bulan-bulan pertama di rantau, hampir semua perantau menyadarinya. Nasi di kos terasa hambar, telur dadar terasa sepi, dan di tengah malam kita tiba-tiba membayangkan samba lado yang jaraknya ratusan kilometer. Kita bisa belajar bahasa baru, menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat, dan membangun kehidupan dari nol. Tetapi urusan rasa, lidah sering punya kehendaknya sendiri.

Lidah Punya Kampung

Ini bukan sekadar manja atau nostalgia. Dalam ilmu gizi, preferensi rasa memang terbentuk sejak awal kehidupan. Mennella (2001) menunjukkan bahwa pengalaman terhadap rasa sejak masa awal kehidupan dapat memengaruhi penerimaan terhadap rasa tersebut di kemudian hari. Birch (1999) juga menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap makanan sejak masa kanak-kanak berperan dalam membentuk preferensi pangan.

Anak Minang tumbuh di dapur yang mengepul oleh cabai, jahe, lengkuas, kunyit, serai, bawang, dan santan. Pedas, gurih, dan kaya rempah perlahan menjadi semacam standar “enak” yang tersimpan dalam ingatan. Bagi lidah yang sejak kecil dididik demikian, makanan hambar bukan sekadar kurang lezat. Ia terasa asing.

Karena lidah tidak mau sepenuhnya beradaptasi, perantau Minang kemudian mencarikan rumah untuknya. Di sinilah kita memahami mengapa warung nasi Padang dapat ditemukan hampir di setiap penjuru Indonesia. Warung Padang kemudian tumbuh mengikuti jejak perantauan orang Minangkabau. Di banyak tempat, ia bukan hanya menjadi ruang untuk memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi sesama perantau untuk bertemu, berbincang, dan merawat hubungan dengan kampung halaman.

Warung itu bukan sekadar bisnis. Ia adalah halte pertama di tanah yang asing.

Di sana, seorang perantau mendapatkan sesuatu yang familiar: sepiring nasi, gulai, dendeng, sambal lado, daun singkong, dan aroma bumbu yang mengingatkan pada rumah. Merantau adalah salah satu pola migrasi khas Minangkabau. Ketika orang Minang bergerak semakin jauh, makanan dan warung yang mereka bawa pun ikut menyebar.

Dalam studi etnografi Saraso Ado di Kampuang di Yogyakarta, rumah makan Padang juga digambarkan sebagai ruang sosial bagi perantau. Di sana mereka dapat bercakap dalam bahasa Minang, bertukar cerita tentang kampung, dan membangun kehangatan persaudaraan. Menariknya, di ruang seperti inilah bahasa Minang yang kita khawatirkan semakin memudar masih terdengar.

Meski Jakarta, Surabaya, Bandung atau Batam dipenuhi rumah makan Padang, perantau tetap mengirim rendang dan sambal lado dari kampung. Rendang, dengan daya simpannya yang panjang, memang sangat sesuai menjadi bekal perjalanan dan kehidupan di rantau. Ia bukan sekadar makanan yang dibawa dari kampung, tetapi pengetahuan pangan yang ikut merantau bersama pemiliknya.

Rasa yang Merawat Ingatan

Semakin lama seseorang hidup di rantau, makanan kampung justru sering memperoleh makna yang berbeda. Ketika masih tinggal bersama keluarga, gulai, rendang, atau samba lado mungkin hanyalah makanan sehari-hari. Kita menyantapnya tanpa banyak berpikir. Namun, setelah ratusan atau ribuan kilometer memisahkan kita dari rumah, sepiring makanan yang sama dapat berubah menjadi sesuatu yang emosional.

Aroma tertentu mampu membawa ingatan lebih cepat daripada perjalanan apa pun. Tumisan cabai dan bawang dapat mengingatkan pada dapur amak. Rendang dengan rasa yang tepat membawa pikiran kembali ke meja makan di rumah. Bahkan perdebatan sederhana tentang gulai mana yang paling enak bisa berubah menjadi cerita panjang tentang kampung halaman.

Dalam ilmu pangan dan gizi, pengalaman makan tidak hanya berkaitan dengan rasa lapar dan pemenuhan zat gizi. Pilihan makanan juga dibentuk oleh pengalaman, kebiasaan, lingkungan sosial, dan budaya. Karena itu, makanan dapat tetap menjadi bagian dari identitas seseorang meskipun lingkungan hidupnya telah berubah.

Di sinilah makanan Minang memiliki tempat yang unik bagi perantau. Ia bukan hanya mengenyangkan tubuh, tetapi juga memelihara hubungan dengan tempat asal.

Namun, kehidupan perantau juga berubah. Tubuh yang dahulu banyak berjalan, bekerja di ladang, atau melakukan aktivitas fisik tidak selalu sama dengan tubuh perantau hari ini yang berjam-jam duduk di kantor dan memiliki makanan dalam jangkauan aplikasi telepon genggam. Karena itu, mencintai makanan kampung juga membutuhkan cara baru untuk menikmatinya.

Bukan dengan meninggalkan rendang, gulai, atau samba lado. Bukan pula dengan menganggap santan sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Yang perlu berubah adalah cara kita menempatkannya dalam keseluruhan pola makan. Rendang tetap boleh menjadi rendang, gulai tidak perlu kehilangan santannya, dan samba lado tidak harus kehilangan pedasnya. Tetapi tubuh juga membutuhkan sayur, buah, keragaman pangan, porsi yang sesuai, dan aktivitas fisik.

Gizi tidak datang untuk mencabut seseorang dari makanannya, tetapi membantu agar makanan yang dicintainya tetap dapat dinikmati sepanjang hidup.Sebab makanan Minang terlalu berharga jika hanya dibicarakan sebagai persoalan santan, minyak, garam, dan kalori. Di balik sepiring nasi Padang terdapat sejarah perjalanan manusia. Ada orang yang meninggalkan kampung, membangun kehidupan di tempat baru, lalu membawa rasa dari rumah agar sebagian dirinya tidak ikut hilang.

Mungkin itulah sebabnya lidah perantau begitu keras kepala. Ia sesungguhnya sedang menjaga ingatan.

Penulis:
Mahmud Aditya Rifqi
Perantau Minang, Berasal dari Solok. Saat ini bertugas sebagai Dosen di Departemen Gizi FKM UNAIR, sekaligus Wakil Dekan III Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarkat dan Kerjasama. Pendidikan S1-S2 di Program Studi Gizi IPB, Bogor, dan melanjutkan S3 di Graduate School of Health Science Hokakido University, Jepang.