Pernahkah kamu menyesap aroma buku tua atau melihat arsip koran usang dengan tulisan seperti “Keboedajaan” atau “Masjarakat”? Ada semacam melankoli dalam deretan huruf-huruf itu. Namun, di balik estetika ejaan Van Ophuijsen yang kita kenal sekarang, ada satu nama yang menjadi ruh di baliknya: Engku Nawawi Sutan Makmur.
rundiang
Setia pada Ushul, Terbuka pada Furu’: Menelusuri Jejak Syekh Thayyib Umar Sungayang
Siapa tak kenal dengan Syekh Thayyib Umar Sungayang? Ulama besar yang mempunyai nama yang harum dikalangan orang Siak (baca: santri) di Minangkabau di awal abad 20. Salah seorang muridnya yang terkemuka ialah Prof. Mahmud Yunus, ulama dan tokoh pendidikan Islam Indonesia. Demikian harumnya, sampai-sampai generasi muda saat ini tetap mengenal namanya, bahkan diabadikan menjadi salah satu nama pesantren Modern, yaitu Pesantren Syekh Muhammad Thayyib Umar yang disokong oleh alumni-alumni Mesir masa kini, begitu juga muridnya tersebut yakni Mahmud Yunus telah pula dijadikan nama sebuah kampus PTKIN di Batusangkar / Kab. Tanah Datar.
Rahmah El Yunusiyyah: Manifestasi Perlawanan dan Daulat Pendidikan Perempuan
Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sering kali terjebak pada romantisme seragam dan birokrasi. Padahal, jika kita menengok ke Padang Panjang pada awal abad ke-20, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan sebuah instrumen resistensi kultural dan politik.
Sawah Kagadangan Panghulu di Minangkabau dan semangat Anti-korupsi
Sawah Kagadangan adalah sebuah harta pusaka tinggi berupa lahan sawah yang khusus diperuntukkan kepada Panghulu untuk menunjang kegiatanya sehari-hari dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi Panghulu sebagai pemimpin kaum. Secara filosofis fungsi utama Sawah Kagadangan adalah untuk mencegah seorang Panghulu mengambil hak orang lain dan untuk tidak berharap kepada pemberian orang lain. Disisi lain fungsi Sawah Kagadangan secara ekonomis adalah untuk menunjang Panghulu dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dan juga untuk menafkahi keluarga Panghulu itu sendiri.
Jejak Inyiak De-er: Di Balik Tirai Muhammadiyah dan Kelahiran Kaum Muda
Warkah ini disuling berdasar manuskrip “al-Syir’ah fi al-Radd ‘ala man Qala al-Qunut…” (1938), memoar “Ayahku” serta opus magnum “Islam dan Adat Minangkabau” (Hamka), dikukuhkan pula oleh kesaksian primer Abuya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno dan Abuya Drs. H. Abdul Jalal.
Iyut Fitra Berpulang, Gugur Sehelai Daun dari Pohon Sastra Indonesia
Dunia sastra Indonesia kehilangan salah satu penjaga sunyi. Penyair dan cerpenis asal Payakumbuh, Iyut Fitra (Zulfitra), berpulang ke rahmatullah di RS M. Djamil, Padang, Senin, 27 April 2026 pukul 15.26 WIB. Kepergiannya menutup satu jejak penting dalam konstelasi sastra Indonesia kontemporer, tetapi meninggalkan poetics of memory yang akan terus hidup dalam kata-kata.





