Dunia sastra Indonesia kehilangan salah satu penjaga sunyi. Penyair dan cerpenis asal Payakumbuh, Iyut Fitra (Zulfitra), berpulang ke rahmatullah di RS M. Djamil, Padang, Senin, 27 April 2026 pukul 15.26 WIB. Kepergiannya menutup satu jejak penting dalam konstelasi sastra Indonesia kontemporer, tetapi meninggalkan poetics of memory yang akan terus hidup dalam kata-kata.
Lahir di Payakumbuh, 16 Februari 1968, Iyut tumbuh dari rahim kebudayaan Minangkabau yang kaya tradisi tutur kaba, petatah-petitih, dan memori oral yang kelak menjadi matriks estetik puisinya. Dalam lanskap humaniora, karya-karyanya dapat kita lihat sebagai ikhtiar merawat collective memory, sekaligus menghadirkan puisi sebagai ruang kontemplasi. Diksinya tenang, ekonomis, namun sarat resonansi; seolah menegaskan bahwa puisi bukan ledakan retorik, melainkan kerja batin yang panjang.
Melalui buku-buku seperti Musim Retak, Dongeng-dongeng Tua, Lelaki dan Tangkai Sapu, Mencari Jalan Mendaki, hingga Sinama, Iyut membangun jejak litterateur yang khas mengolah mitos, spiritualitas, dan pengalaman sosial ke dalam bahasa yang jernih. Mencari Jalan Mendaki bahkan dinobatkan sebagai buku puisi terbaik 2019 oleh Perpusnas RI, sementara karya-karyanya beberapa kali masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa. Pada 2020, Lelaki dan Tangkai Sapu memperoleh penghargaan dari Badan Bahasa Kemendikbud.
Namun warisan pria yang erat dengan nama Komunitas Intro ini melampaui teks. Ia hadir sebagai kurator, pembina penulis muda, dan penggerak ekosistem sastra. Dari Mimbar Penyair Abad 21 di Jakarta, Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Baru, hingga Ubud Writers and Readers Festival, ia menjadikan puisi sebagai dialog lintas batas.
Dede Pramayoza, Dosen ISI Padang Panjang yang menjabat sebagai Kaprodi Teater, mengenang Iyut sebagai salah seorang mentor dan juga teman yang baik, ”Iyut bagi saya adalah orang pertama yang memberi saya kepercayaan untuk melatih Theater, dia lah yang pembuka jalan saya. Sejak saya berstatus mahasiswa akhir sampai awal-awal diwisuda Iyut selalu memberikan kepercayaan; entah itu mengelola latihan di Intro ataupun anak-anak SMA, ya beliau adalah mentor dan teman baik,” ujar Dede.
Di samping itu, Penyair sekaligus Dosen UIN Sjech M. Diamil Djambek Bukittinggi, Deddy Arsya mengatakan bahwa Iyut adalah penyair yang sebenarnya, ”Ya, Iyut adalah penyair yang sebenarnya. Beliau tekun di dunia itu, dan hidup di sana, jiwa ia pun di sana. Jika kata dia penyair tidak mati-mati, puisi pun tidak mati-mati, ya itu Iyut Fitra. Hingga sakit, dan kepergiannya pun ia berpuisi. Selain itu, ketika saya masih merangkak-rangkak di dunia sastra dan Iyut telah menjadi penyair hebat, saya melihat bahwa Iyut sangat sadar pada kaderisasi sastra, dan dunia sastra memang harus punya penerus. Iyut juga orangnya sangat apresiatif, beliau nge WA dan juga telfon banyak orang untuk memberikan apresiasi atas karya dan juga atas penghargaan yang diperoleh, saya sendiri juga mengalaminya,” ujar Deddy Senin sore, 17 April 2026.
Dalam salah satu pernyataannya, ia pernah menyebut puisi lahir dari kesediaan mendengar diri, lingkungan, dan sejarah. Kini, ketika penyair itu pergi, yang tertinggal justru gema dari kesediaan mendengar itu sendiri. Iyut Fitra telah berpulang, tetapi jejak estetik dan etiknya menetap sebagai cultural legacy menyalakan Payakumbuh sebagai salah satu simpul penting sastra Indonesia. Sebuah suara telah diam, namun puisinya terus berbicara.
Coba kita utarakan kembali kalimat Iyut itu, ”Payakumbuh adalah kata-kata ngopi malam dan rindu untuk selalu pulang”.