Pernahkah kamu menyesap aroma buku tua atau melihat arsip koran usang dengan tulisan seperti “Keboedajaan” atau “Masjarakat”? Ada semacam melankoli dalam deretan huruf-huruf itu. Namun, di balik estetika ejaan Van Ophuijsen yang kita kenal sekarang, ada satu nama yang menjadi ruh di baliknya: Engku Nawawi Sutan Makmur.
Beliau bukan sekadar nama dalam catatan kaki sejarah. Lahir di Padang Panjang pada 1859, Engku Nawawi adalah sang perintis, pendidik legendaris dari tanah Minangkabau yang menghabiskan hidupnya untuk memanusiakan manusia melalui literasi. Jika kita berbicara tentang Kweekschool (Sekolah Raja) di Fort de Kock, Bukittinggi, maka Engku Nawawi adalah pusat gravitasinya.
Guru Sang Konseptor Republik dan “Cinta yang Tak Sampai”

(Arsip Milik Keluarga H. Syafnir)
Ada sisi human-interest yang sangat dalam di sini. Engku Nawawi adalah guru dari Tan Malaka, sosok revolusioner yang kita kenal sebagai “Bapak Republik”. Namun, hubungan mereka lebih kompleks dari sekadar guru dan murid di ruang kelas. Engku Nawawi adalah ayahanda dari Syarifah Nawawi gadis yang menjadi alasan debar jantung Tan Malaka tak beraturan.
Sejarah mencatatnya sebagai kisah “Cinta Tak Sampai”. Tan begitu mengagumi Syarifah, namun sang puan tak pernah menoleh. Harry A. Poeze, peneliti yang mendedikasikan hidupnya untuk melacak jejak Tan, pernah bertanya langsung pada Syarifah tentang alasannya menolak sang pemuda jenius itu. Jawabannya singkat namun penuh misteri: “Dia adalah pemuda yang aneh.” Sebuah kalimat yang menyisakan ruang hampa bagi kita untuk membayangkan betapa “berbedanya” frekuensi pemikiran Tan saat itu.
Prasasti yang Tersembunyi di Balik Lemari Tua

Seringkali, pahlawan besar terlupakan oleh zaman. Saat Poeze melakukan napak tilas ke SMA Negeri 2 Bukittinggi (dahulu Kweekschool), nama Tan Malaka sempat menjadi kenangan samar yang dibicarakan dengan lirih. Ironisnya, banyak guru yang terperangah saat menyadari bahwa sekolah mereka pernah melahirkan sosok berpengaruh bagi lahirnya republik.
Bukti otentik kebesaran Engku Nawawi akhirnya ditemukan Poeze dengan cara yang sangat puitis: sebuah prasasti miliknya yang tersembunyi di balik lemari tua sekolah. Prasasti itu seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali “berbicara” kepada generasi masa kini.
Legacy: Rendah Hati dan Bertabur Bintang
Mengutip majalah Pandji Poestaka (1928), Engku Nawawi digambarkan sebagai pribadi yang “Manis mulut, rendah hati, dan memiliki sifat-sifat yang menyebabkan orang hormat.” Beliau adalah definisi asli dari low profile, high profile. Karena dedikasinya, ia dianugerahi Bintang Perak, Bintang Emas, hingga Bintang Oranje Nassau dari Ratu Wilhelmina.
Engku Nawawi adalah bukti bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tapi soal pengabdian yang tulus.
Apa Lagi yang Bisa Kita Sebut Perihal Jejaknya?
Di Luhak Agam tanah yang dikenal dengan tanah para ahli perniagaan tersebut, langkah awal pria yang memiliki ciri khas pada kumisnya itu bermula. Sebagai pengampu di Inlandsche School, ia menyemai ilmu dengan imbalan 20 gulden. Namun, jiwanya adalah sebuah perpetuum mobile; ia tak henti mereguk literasi Belanda dari para mentor di almamaternya demi sebuah progresivitas.
Garis takdir hampir membawanya melintasi samudra menuju Belanda, mengikuti jejak intelektual Raden Kamil dan Willem Iskandar. Meski niat itu urung, ia tetap memahat prestasi di Betawi pada 1882. Nawawi berhasil menggenggam Hulpacte, menjadikannya putra Minangkabau pertama yang meraih lisensi mengajar prestisius tersebut.
Transformasi finansial dan status terjadi di pertengahan 1883. Ia kembali ke Kweekschool, Sang Sekolah Raja bukan sebagai orang biasa, tapi sebagai Guru Bantu dengan honorarium 150 gulden. Di sana, dialektika bahasa menjadi krusial. Saat Inspektur Verkerk Pistorius hendak memangkas kurikulum bahasa Belanda pada 1884 karena dianggap nirguna, Nawawi berdiri tegak melakukan resistensi intelektual. Baginya, bahasa tersebut adalah kunci pembuka cakrawala bagi para calon pendidik.
Sayang, diplomasi Nawawi menemui jalan buntu. Selama dua dekade, hegemoni bahasa Belanda di sekolah itu luruh, hingga fajar Hollandsche Inlandsche School (HIS) menyingsing. Dedikasinya pada literasi kembali bersinar saat ia mengalihbahasakan Gedenboek Kweekschool Fort de Kock pada 1908.

Di tengah kungkungan patriarki, Nawawi melakukan dekonstruksi sosial yang berani. Ia mendobrak tabu dengan mengirim Syarifah, putrinya, menembus dinding Kweekschool pada 1907. Sebagai pionir siswi pertama, Syarifah tak hanya membawa perubahan bagi kaumnya, namun juga memikat nurani seorang pemuda Pandam Gadang, kesayangan ibunda Rangkayo Sinah dan juga Rasad Chaniago, dalam sebuah romansa di sela-sela pengabdian sang ayah menjelang purnabakti
Meski cinta pria yang sangat hobi mengenakan topi perkebunan di masa-masa perjuangan itu tak pernah berbalas, ya pada akhirnya ia disebut menjalin kedekatan dengan atasan Syarifah Nawawi di sebuah sekolah yang berada di Jakarta, bernama Yo Paramita Rahaju Abdurachman, tapi tak banyak yang tahu, pun ketika Tan dekat dengannya, ternyata rumah Yo tak jauh dengan rumah Syarifah, hanya ratusan meter. Kenapa kira-kira itu bisa terjadi? Tan, di titik ini sungguh misteri sekali hubungan asmaramu.
Di sampiung itu, Engku Nawawi dinyatakan wafat pada 11 November 1928. Al-Fatihah untuk Engku Nawawi Sutan Makmur. Sosok yang tentu saja berkesan dan berarti bagi banyak peserta didik dan perkembangan ejaan di Indonesia, dan pastinya selain sang penjaga bahasa, ia adalah guru bahasa Melayu Tan dan seorang ayah dari perempuan yang pernah begitu dicintainya dengan ugal-ugalan.
Sumber:
- Van Ophuijsen, Charles A. Kitab Logat Melajoe: Woordenlijst voor de Spelling der Maleische Taal met Latijnsch Karakter. Vierde Druk. Batavia: Typ. G. Kolff & Co., 1911.
- Matanasi, Petrik. “Engku Nawawi, Mahaguru di Tanah Minang.” Tirto.id, August 15, 2017. https://tirto.id/engku-nawawi-mahaguru-di-tanah-minang-cufE.
- Tempo. Seri Tempo: Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010.