rundiang

Epistemologi “Asal Comot”: Tragedi Misidentifikasi Visual Syekh Ahmad Khatib Minangkabau

Epistemologi “Asal Comot”: Tragedi Misidentifikasi Visual Syekh Ahmad Khatib Minangkabau

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (wafat 1915/1916) memang sosok yang membuat penasaran. Ia ulama prestisius sebagai salah satu imam dan salah satu khatib dari sekian imam dan khatib (pada satu masa) dalam Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram; sosok yang sering berpolemik dengan ulama lain; pengkritik adat Pusaka Tinggi; tokoh yang kritis terhadap oknum sufi namun dirinya sendiri adalah sufi, salah satu lawan risalah perdebatannya ialah, Syekh Sa’ad Mungka, tapi tenang, saat bertemu mereka tetap berpelukan seperti kawan lama.

Ketika Natsir dan Tan Malaka Kembali Menghidupkan Budaya Intelektual yang Telah Lama Hilang

Ketika Natsir dan Tan Malaka Kembali Menghidupkan Budaya Intelektual yang Telah Lama Hilang

Belakangan ini saya sedang asyik menyimak perdebatan yang terjadi di akun instagram @rundiang.id mengenai dua tokoh besar Minangkabau yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Perdebatan bermula ketika Habibur Rahman membuat tulisan berjudul ”Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir.” Dalam tulisannya, Habibur Rahman mengkritik isi video Hadi Nur Ramadhan yang cenderung membandingkan sosok Natsir dan Tan Malaka. Kemudian, Devy Kurnia Alamsyah juga turut mengkritik Hadi Nur Ramadhan melalui tulisannya yang berjudul ”Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan.” 

Mencari Pintu Surga yang Hilang: Catatan Kritis Atas Erosi Bakti di Negeri Seribu Menhir

Mencari Pintu Surga yang Hilang: Catatan Kritis Atas Erosi Bakti di Negeri Seribu Menhir

Kabupaten Lima Puluh Kota belakangan ini tampak begitu aestheticdi permukaan. Dari deretan kafe kekinian di Harau hingga gemerlap lampu di pusat-pusat keramaian baru, daerah ini seolah sedang merayakan kemajuan. Namun, di balik polesan luar yang memikat, tersimpan bara kegelisahan yang mulai membakar fondasi sosial. Sebagai negeri pemegang marwah bungo sitangkai, rentetan fenomena viral belakangan bukan sekadar dinamika biasa. Kita sedang menyaksikan sebuah “anomali peradaban”, kondisi di mana kemajuan pariwisata serta kecepatan internet tidak berbanding lurus dengan ketahanan mental serta kualitas manusianya.

Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan

Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan

“Sekarang banyak anak-anak Minang yang mengagumi Tan Malaka. Dikit-dikit menganalisa satu bangsa satu negara dengan kaji pemikiran Tan Malaka. Tan Malaka ini kalau kita kaji pemikirannya belum selesai. Yang kedua belum bisa kita uji, kenapa? Karena Tan Malaka tidak pernah masuk di dalam dunia pemerintahan. Dia pernah aktif di dalam PKI, iya. Kemudian dia keluar. Dia pernah aktif di dalam Partai Murba, tapi itu partai kecil. Tapi kalau kita lihat seperti kaliber Natsir; dia politisi, dia negarawan, dia diplomat. Dia masuk ke jantung pemerintahan. Dia menjadi Menteri Penerangan. Dia pernah menjadi Perdana Menteri. Ya. Sehingga kata Bung Hatta ya, Sukarno tidak akan membaca surat jikalau surat itu dibaca oleh Natsir. Sukarno tidak akan men-draft surat, ya dalam pidato-pidato taklimatnya, kalau itu tidak dibaca atau dikoreksi oleh Natsir.”

Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir

Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir

Pada sebuah cuplikan potongan ceramah yang diupload (10/05/26) oleh akun @sutan.malin.khatib terlihat seorang yang diketahui bernama Hadi Nur Ramadhan memberikan penjelasan dan terkesan membanding-bandingkan antara Natsir dan juga Tan Malaka dan terlihat menyudutkan peran kenegaraan Tan. Di samping itu, terlihat jelas dalam penjabarannya ia telah mengidap beberapa kecacatan dalam berpikir.