Belakangan ini saya sedang asyik menyimak perdebatan yang terjadi di akun instagram @rundiang.id mengenai dua tokoh besar Minangkabau yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Perdebatan bermula ketika Habibur Rahman membuat tulisan berjudul ”Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir.” Dalam tulisannya, Habibur Rahman mengkritik isi video Hadi Nur Ramadhan yang cenderung membandingkan sosok Natsir dan Tan Malaka. Kemudian, Devy Kurnia Alamsyah juga turut mengkritik Hadi Nur Ramadhan melalui tulisannya yang berjudul ”Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan.”
Saling balas kritik melalui tulisan ini tak berhenti disitu saja, sebab Rudi Nofiandra juga memberikan pandangannya dalam tulisan yang berjudul ”Melihat Mohammad Natsir dan Tan Malaka secara adil.” Menariknya, tulisan Rudi Nofiandra ini memberikan perspektif baru. Ia mencoba mengajak para pembaca untuk bersikap adil dalam menilai kedua sosok asal Minangkabau tersebut. Sebab Natsir dengan perjuangan diplomasinya dan Tan Malaka dengan gerakan akar rumputnya telah memberikan sumbangsih besar bagi perjalanan republik ini.
Tentu sebagai orang menyimak perdebatan ini, saya memberikan apresiasi yang besar karena saling balas membalas tulisan merupakan hal yang langka dan mahal di era sekarang. Butuh keberanian dan kedewasaan untuk memahami dinamika yang terjadi. Bagi saya perdebatan melalui tulisan ini telah menghidupkan kembali budaya intelektual yang telah lama hilang. Alih-alih memberikan cacian dan hinaan tentang pandangan seseorang, baik Habibur Rahman, Devy Kurnia Alamsyah, dan Rudi Nofiandra memilih untuk menuangkannya ke dalam karya tulis. Sikap seperti ini yang sejatinya dicontohkan oleh orang-orang sebelum kita dulu.
Hal serupa juga terjadi dalam buku Manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis. Dalam buku tersebut, pidato kebudayaan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki mendapat banyak tanggpan salah satunya melalui tulisan. Kedewasaan Mohctar Lubis terlihat ketika ia kembali membalas tanggapan melalui sebuah tulisan. Budaya seperti ini yang tentu dibutuhkan oleh bangsa kita. Pasalnya kritik yang dituangkan ke dalam sebuah tulisan merupakan labolatorium ide yang dampaknya bisa dimanfaatkan oleh generasi-generasi berikutnya.
Di era sekarang, jangankan melihat perdebatan melalui tulisan, melihat anak-anak muda menulis saja sudah bersyukur. Bangsa kita saat ini tengah kehilangan semangat budaya menulis. Banyak orang yang memberikan pandangan-pandangannya di media sosial, namun sedikit sekali yang sudi untuk menuangkannya melalui karya tulis. Melihat perdebatan yang terjadi dalam kolom tulisan Rundiang ID, membuat saya terpantik untuk kembali menghidupkan budaya menulis dengan berbagi pandangan.
Adu gagasan melalui sebuah tulisan perlu kembali kita hidupkan, sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrahman Baswedan, bahwa berdiskusi dan menulis adalah dua cara komunikasi untuk mengutarakan gagasan atau pemikiran kita dan meminta pihak lain mengkaji dan memberikan masukan, sehingga gagasan kita menjadi lebih kaya dan sempurna. Oleh karena itu, anak muda tidak boleh meuangkan gagasannya hanya pada ruang-ruang diskusi semata, ia perlu menuangkannya ke dalam sebuah karya tulis agar kembali menghidupkan ruang diskursus melalui tulisan yang telah lama hilang ini. Bagi saya, perdebatan yang terjadi dalam kolom tulisan Rundiang ID telah berhasil membuka mata banyak orang tentang pemikiran Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Sebab ia berhasil menghidupkan kembali ruang diskursus yang telah lama hilang.
Tentu saya berharap agar setelah ini, Hadi Nur Ramadhan juga memberikan tanggapannya dalam maha karya tulisan agar ruang-ruang diskursus ini tidak hilang begitu saja. Soal siapa yang lebih baik nantinya biarkan para pembaca yang menilai. Di tengah forum-forum diskusi yang sarat akan emosi sebagaimana yang sering kita lihat di televisi. Diskusi melalui tulisan sepertinya menjadi solusi untuk kembali mengajarkan bangsa ini tentang keberanian mengutarakan gagasan dan kedewasaan dalam menerima kritik.

Penulis:
Taufik Ridho
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMY yang memiliki ketertarikan pada isu politik, pemerintahan, dan peradaban Islam.