Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir

oleh | Mei 10, 2026 | Opini

Pada sebuah cuplikan potongan ceramah yang diupload (10/05/26) oleh akun @sutan.malin.khatib terlihat seorang yang diketahui bernama Hadi Nur Ramadhan memberikan penjelasan dan terkesan membanding-bandingkan antara Natsir dan juga Tan Malaka dan terlihat menyudutkan peran kenegaraan Tan. Di samping itu, terlihat jelas dalam penjabarannya ia telah mengidap beberapa kecacatan dalam berpikir.

Logika pada video tersebut ibarat menilai kualitas sebuah kompas berdasarkan seberapa mewah kantong penyimpannya; si pembicara sibuk melihat wadah (birokrasi), tapi buta pada arah yang ditunjukkan yakni (gagasan).

Menganggap pemikiran Tan Malaka “belum selesai” hanya karena ia tidak sempat jadi menteri adalah Non-Sequitur yang lucu. Sejak kapan kualitas ideologi ditentukan oleh slip gaji dari negara atau kedudukan di instansi pemerintahan? Ini adalah Ad Hominem terselubung yang menyerang status sosial, bukan isi kepala.

Pemikirannya Belum Selesai & Belum Bisa Diuji?

Pembicara mengklaim pemikiran Tan Malaka belum teruji karena ia tidak masuk ke jantung pemerintahan. Ini adalah kesesatan logika yang fatal. Tan Malaka adalah konseptor pertama Republik Indonesia melalui karyanya Naar de Republiek Indonesia April (1925) yang diterbitkannya di Kanton (sekarang Guangzhou), Cina, dan nanti dulu, itu berlanjut bahwa edisi kedua kembali terbit namun di Tokyo, Jepang Desember (1925). Hatta dan Sukarno justru terinspirasi olehnya, bahkan menyusul risalah republik setelahnya. Menguji pemikiran tidak harus lewat kursi birokrasi; Tan mengujinya lewat pengorganisiran massa di bawah tanah dan jaringan internasional yang jauh lebih luas daripada sekadar duduk di kursi pemerintahan.

Membandingkan dengan Narasi ”Seperti Kaliber Natsir”?

Lagi-lagi pak ustad keliru, saya tidak tahu beliau ustad apa bukan, tapi yang jelas tampaknya beliau tengah ceramah di sebuah masjid. Namun, pada statement beliau tersebut muncul False Equivalence. M. Natsir adalah sosok luar biasa dalam diplomasi parlementer (Mosi Integral) dan saya sangat-sangat bersepakat, namun Tan Malaka bergerak di ranah revolusi, pergerakan bawah tanah, dan mengorganisir masa. Mengerdilkan Partai Murba sebagai “partai kecil” untuk merendahkan Tan Malaka juga ialah bentuk Cherry Picking. Pengaruh seorang intelektual revolusioner diukur dari daya tahan gagasannya melintasi zaman, bukan dari berapa kursi yang didapat partainya di parlemen, karena Murba dahulu erat kaitannya justru sebagai “Partai Kader” ketimbang Parpol seutuhnya . Dan tolong ingat, bahwa di sana ada Maruto Nitimihardjo, Chaerul Saleh, Adam Malik, Sukarni, Iwa Kusuma Sumantri dan tokoh lainnya.

Sukarno Tidak Akan Mendraf Surat Tanpa Natsir?

Membawa-bawa testimoni kedekatan Sukarno-Natsir untuk menjatuhkan Tan Malaka juga adalah Appeal to Anecdote, saya kira. Fakta bahwa Sukarno menghargai Natsir tidak otomatis membatalkan orisinalitas pemikiran pemuda Pandam Gadang tersebut. Justru tanpa “Madilog” atau konsep kemerdekaan 100%, atau risalah-risalah Tan yang lainnya, peta perjuangan bangsa ini mungkin akan kehilangan arah pengorganisiran nya yang mana cukup diperlukan saat itu. Singkatnya, legitimasi dari penguasa bukanlah standar emas kebenaran sebuah ideologi.

Satu lagi, jangan lupa, bahwa di balik harmoni “Indonesia Raya”, mengalir ruh dari naskah Massa Actie milik Tan Malaka yang memantik sanubari W.R. Supratman. Gema lirik “Indonesia tanah tumpah darahku” bukanlah sekadar gubahan kata, tapi kristalisasi visi revolusioner dalam buku itu. Sebuah frekuensi perjuangan yang merangkai imaji kemerdekaan ke dalam melodi, menyatukan emosi bangsa lewat simfoni yang lahir dari kedalaman intelektual seorang pengelana politik.

Saya ingin memberitahu, bahwa sejarah bukanlah panggung kompetisi untuk menentukan siapa yang paling berjasa, tapi sebuah mosaik besar tempat setiap tokoh meletakkan kepingan warnanya masing-masing. Tan Malaka dengan api revolusinya dan Natsir dengan keteguhan diplomasinya adalah dua kutub yang saling melengkapi dalam denyut nadi kemerdekaan.

Merendahkan salah satu demi meninggikan yang lain hanya akan mempersempit cakrawala berpikir kita sebagai pewaris bangsa. Mari merayakan keberagaman gagasan mereka dengan kepala dingin, karena di tangan merekalah fondasi republik ini dibangun dengan peluh dan pemikiran yang tak ternilai harganya bagi masa depan.

Sumber:

  • Isnaeni, H. F. (2023, 29 Agustus). ”Ketika Tan Malaka ingin pulang”. Historia.id
  • Harry A. Poeze. (2009). Tan Malaka, gerakan kiri, dan revolusi Indonesia Jilid 2: Maret 1946–Maret 1947. Pustaka Obor Indonesia
  • Tempo. (2013). Seri Tempo: Tan Malaka, bapak republik yang dilupakan. Kepustakaan Populer Gramedia.