Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (wafat 1915/1916) memang sosok yang membuat penasaran. Ia ulama prestisius sebagai salah satu imam dan salah satu khatib dari sekian imam dan khatib (pada satu masa) dalam Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram; sosok yang sering berpolemik dengan ulama lain; pengkritik adat Pusaka Tinggi; tokoh yang kritis terhadap oknum sufi namun dirinya sendiri adalah sufi, salah satu lawan risalah perdebatannya ialah, Syekh Sa’ad Mungka, tapi tenang, saat bertemu mereka tetap berpelukan seperti kawan lama.
Dirinya juga pengarang produktif; di antara ulama yang mempopulerkan Hasyiyah I’anat al-Thalibin; dan guru halakah Masjidil Haram. Sebagai bentuk kebanggaan, banyak yang mengulas kehidupannya, bukan hanya akademisi bahkan konten kreator ikut membicarakan ketokohannya sampai hari ini.
Akan tetapi, di tengah euforia diskursus mengenai Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, terselip sebuah anakronisme visual yang memprihatinkan akibat rendahnya literasi arsip masyarakat digital hari ini. Fenomena ini bukan sekadar khilaf periferal, tapi bentuk negligensi intelektual di mana banyak pihak secara serampangan melakukan klaim sepihak tanpa melewati fase source criticism yang fundamental.
Saya sebagai peneliti ulama Minangkabau dan mengumpulkan ratusan arsip; berupa karya dan juga foto mereka menyangkan betul hal ini. Kita juga dapat menyaksikan, bahwasanya terdapat kecenderungan misidentifikasi sistematis yang mencomot potret Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Inyiak Canduang) ulama yang wafat tahun 1970 lalu dilabeli sebagai wajah sang Imam Masjidil Haram, yakni yekh Ahmad Khatib Minangkabau.
Tindakan “asal comot” ini adalah bukti nyata dari kemalasan epistemis dan kegagalan dalam melakukan verifikasi autentisitas sejarah. Narasi sejarah yang agung tidak sepantasnya dikotori oleh distribusi konten yang nir-akurasi dan bersifat historis-distorsif seperti ini, di titik ini kita harus memberitahukan dengan fair.
Berikut kita coba hadirkan dokumentasi autentik dari arsip MTI Canduang guna memutus rantai disinformasi tersebut, yang kerap di klaim sebagai wajah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau

“Inyiak Canduang”
(Arsip. MTI Canduang)

(Arsip. MTI Canduang)

(Arsip. MTI Canduang)
Apakah ada foto Syekh Ahmad Khatib Minangkabau? Tidak ada. Beberapa peneliti sudah mencari, bahkan menanyai keturunan Syekh Ahmad Khatib sendiri, jawabannya: “tidak ada” salah satunya, penulis Khairul Jasmi.
Tapi, apakah ada rekaan lukisan wajah berupa lukisan yang sekiranya hampir mendekati, barangkali ada, tapi mestilah harus di cek ulang kembali dengan teliti dan komperehensif, berikut rekaan lukisannya:

(Tamar Djaja, ‘Pusaka Indonesia: Riwajat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air’, Jilid 2)
Sebuah foto, jangan dianggap sepele. Foto dapat berbicara banyak hal. Seseorang bisa “sesat” mendeskripsikan jalannya sejarah apabila sumber dokumentasi salah. Maka selayaknya seseorang yang insaf betul-betul mengambil sumber/dokumen yang otoritatif, bukan asal comot.
Sekali lagi, kita coba tegaskan bahwa; visual bukan sekadar rekaman optik; ia adalah artefak diskursif, tolong ini dicatat. Menganggap enteng sebuah foto merupakan bentuk simplifikasi yang fatal, sebab dekonstruksi sejarah sangat bergantung pada validitas semantik dokumen tersebut. Tanpa ketajaman heuristik, seseorang akan terjebak dalam disorientasi naratif, ya sama dengan sebuah ketersesatan epistemologis akibat kegagalan membedakan antara fakta objektif dan manipulasi artifisial.
Seorang intelektual yang insaf wajib melakukan verifikasi sumber secara otoritatif. Mengandalkan dokumentasi yang ahistoris atau sekadar “comot” tanpa proses kritik eksternal maupun internal hanya akan melanggengkan falasi sejarah. Akurasi adalah harga mati; mengabaikannya berarti melakukan sabotase terhadap kebenaran ilmiah itu sendiri.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.