Habibur Rahman

Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat

Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat

Tempo lalu saya beli mie pedas tak jauh dari tempat tinggal saya, yang ada dalam pikiran saya ”akhirnya makan mie pedas juga, setelah lama tidak,” ketika sampai di tempat tersebut saya bertemu dengan salah seorang Datuak, beliau tampaknya baru selesai makan mie, saya dipanggilnya dan saya pun mendekat. Untuk disclaimer, Datuak ini ia baru saja diangkat dan belum sampai satu tahun mengemban amanah. Di sisi lain, aroma cabai dari mie pedas membangkitkan salero yang telah lama absen.

Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau

Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau

Di lereng bukit yang memeluk Danau Maninjau di antara hamparan sawah berundak dan rimbunnya pohon pinang berdiri sebuah rumah gadang tua yang atapnya melengkung lembut seperti tanduk kerbau. Di sanalah pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya tidak hanya dikenal sebagai putra daerah tetapi juga pemikir besar bangsa. Namanya Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab dipanggil Hamka.

Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

gel mengisi masa pendidikannya dengan mempelajari studi klasik, serta mengikuti kursus bahasa Rusia saat menjalankan wajib militer di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Saat dewasa, Nigel memulai kariernya dengan bekerja di Bank of England selama empat tahun sebelum akhirnya pindah ke Central Office of Information. Sejenis dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di negara kita. 

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk berwibawa di jantung Luhak Agam. Di tanah yang hening itu, jemariku menyentuh lembaran-lembaran usang yang seolah bernapas; manuskrip-manuskrip agung milik sang pilar cahaya, Tuanku Syekh Samiak Ilmiyah di Biaro. Beliau adalah bintang gemintang yang menyinari abad kesembilan belas, seorang rabi penyair ilmu yang mendirikan mihrab peradaban berupa surau sakral. Ke sanalah para urang-urang siak para pencari tuhan dan pemburu kebenaran berbondong-bondong datang dari segenap penjuru rahim Minangkabau. Di bawah atap berkah itulah, sang pemikir ulung abad kedua puluh, Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970), pernah mereguk cawan-cawan makrifat hingga jiwanya purna.

Membaca Ulang Pemaknaan Demokrasi Asli bagi Masyarakat Minangkabau

Membaca Ulang Pemaknaan Demokrasi Asli bagi Masyarakat Minangkabau

Pasca era reformasi, civil society telah meletakkan pondasi yang kuat untuk menuju spirit dan kesadaran bersama dalam upaya mengembalikan semangat demokratisasi di Indonesia. Unsur hakiki yang sudah lama menancap dalam jati diri tersebut sudah lama tertuang dalam cita-cita sila ke-4 Pancasila, yang kemudian menjadi pondasi kuat dalam menjaga amanat kedaulatan rakyat. Tidak sampai disana, Bung Hatta sebagai putra Minangkabau yang juga sekaligus salah satu tokoh founding father telah lebih dahulu mengenalkan konsep demokrasi yang bukan hanya sekedar menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan berfikir, berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat, melainkan juga menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, serta musyawarah mufakat. Bagi Hatta, melalui bukunya yang berjudul “Demokrasi Kita” menyebutkan bahwasanya demokrasi Indonesia haruslah dirancang berbeda dengan demokrasi ‘ala barat’ yang hanya mengedepankan semangat individualisme. Sehingga, hal tersebut akan menimbulkan corak penyakit dalam tubuh masyarakat Indonesia itu sendiri.