Habibur Rahman

yang Ditutup Lubang Tambang, yang Menganga Perut Rakyat

yang Ditutup Lubang Tambang, yang Menganga Perut Rakyat

Orang Minangkabau mengenal petuah, “Nan bana tagak, nan salah tagak dibana.” Yang benar harus ditegakkan, yang salah harus dibenarkan. Sebab itu, tidak ada orang waras yang membela tambang emas ilegal. Hukum memang harus berdiri tegak, alam memang harus dijaga, dan kerusakan lingkungan tidak boleh diwariskan kepada anak cucu. Namun, Minangkabau juga mengajarkan bahwa keadilan tidak cukup hanya berdiri di atas aturan, melainkan juga di atas rasa. Sebab dalam adat dikatakan, “Raso dibao naiak, pareso dibao turun.” Segala keputusan mesti ditimbang dengan hati nurani dan akal sehat.

Kucing Saya Ditembak dengan Senapan Angin

Kucing Saya Ditembak dengan Senapan Angin

Jum’at 7 Agustus saya sedang berjalan-jalan di rumah, dan tak sengaja melihat kucing saya tidur di atas meja komputer, keadaannya lemas, dan sepertinya ia ingin tidur pulas, karena kebiasaan saya adalah mengganggunya, saya pun mencoba mengganggunya sebentar.

Tersedak Madilog: Catatan atas Kepanikan Intelektual terhadap Tan Malaka

Tersedak Madilog: Catatan atas Kepanikan Intelektual terhadap Tan Malaka

Menarik sekali membaca tulisan Ustadz Ferry Hidayat di Rundiang.id yang berjudul “MADILOG, Buku Beracun Komunis”. Di tengah zaman ketika minat membaca buku-buku tebal kian menyusut, usaha beliau mengumpulkan kutipan-kutipan Tan Malaka secara kronologis dari tahun 1922 hingga 1946 tentu patut diapresiasi. Namun, membaca artikel tersebut memberikan sebuah kesan yang menggelitik: ada gelagat tersedak intelektual yang cukup hebat saat tulisan itu diracik.

Poetika Transendental Ulama Minangkabau: Manifestasi dan Interpretasi Sufistik dalam Tradisi Sya’ir

Poetika Transendental Ulama Minangkabau: Manifestasi dan Interpretasi Sufistik dalam Tradisi Sya’ir

Menatap geliat Sastra Minangkabau beserta segala riak dinamikanya membawa kita ke dalam gelanggang diskursus keagamaan yang cukup menarik dan juga memikat. Bermula dari para pujangga tempo doloe yang menggoreskan tinta emas pada khazanah kesusastraan Minangkabau, hingga generasi muda Minang yang lebat bersastra, merangkai prosa serta puisi penuh pendar pengabdian.