Habibur Rahman

Kebebasan yang Semu: M. Natsir dan Politik Orde Baru

Kebebasan yang Semu: M. Natsir dan Politik Orde Baru

Pascajatuhnya rezim Orde Lama pada kurun waktu 1966–1967, kepemimpinan nasional beralih kepada Letnan Jenderal Soeharto, yang kemudian dikukuhkan sebagai Presiden Republik Indonesia melalui TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967. Kendati baru resmi dilantik pada 1967, Soeharto sesungguhnya telah memegang kendali penuh atas stabilitas keamanan dan roda pemerintahan sejak Maret 1966 berbekal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno. Salah satu langkah strategis yang dirintis Soeharto pada Agustus 1966 adalah mengupayakan normalisasi hubungan diplomatik dengan Malaysia, yang sebelumnya retak akibat konfrontasi “Ganyang Malaysia”.

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Dalam pertunjukan sastra lisan, ruang (space) adalah aspek yang amat penting. Seorang tukang cerita memiliki teknik dan strategi tertentu dalam menggambarkan ruang kepada khalayaknya (audience), supaya khalayak bisa dirayu ‘masuk’ ke dalam peristiwa cerita. Ada penggambaran ruang yang kuat lewat gesture (gerak tubuh), tapi ada yang yang kuat lewat kata (naratif). Barangkali kecenderungan kedua ini ada pada teks pantun, sebagaimana dapat kita kesan dalam nomor-nomor terdahulu maupun dalam nomor ini.

Ketika Lumpur Lebih Fotogenik daripada Tata Ruang

Ketika Lumpur Lebih Fotogenik daripada Tata Ruang

Ada pekerjaan pemerintah yang sangat mudah dilihat karena berlangsung di depan kamera. Ada pula pekerjaan pemerintah yang menentukan keselamatan warga tetapi berlangsung jauh dari kamera. Masalahnya muncul ketika yang pertama dianggap sebagai ukuran utama kepemimpinan, sementara yang kedua tidak pernah ditanyakan.

Ketika Kata-Kata Pulang Tanpa Penghuni: Refleksi atas Lunturnya Tradisi Bersastra dan Berkias di Kalangan Muda Minangkabau

Ketika Kata-Kata Pulang Tanpa Penghuni: Refleksi atas Lunturnya Tradisi Bersastra dan Berkias di Kalangan Muda Minangkabau

Di sebuah acara baralek, dua orang tetua duduk berhadapan. Mereka berbalas pasambahan dengan suara tenang, kalimatnya berlapis-lapis, dan tak satu pun langsung menyentuh pokok maksud. Di barisan belakang, beberapa anak muda menunduk ke layar ponsel. Ada yang menahan kantuk, ada yang menahan tawa, dan ada pula yang berbisik pelan, “Bilo sudah nyo ko?”