Jum’at 7 Agustus saya sedang berjalan-jalan di rumah, dan tak sengaja melihat kucing saya tidur di atas meja komputer, keadaannya lemas, dan sepertinya ia ingin tidur pulas, karena kebiasaan saya adalah mengganggunya, saya pun mencoba mengganggunya sebentar.
Sebelum saya memegangnya saya panggil dari jauh, dia menyahut tapi sepertinya suaranya sangat lemas sekali, tak seperti biasanya. Namun setelah saya hampiri dan saya pegang sepertinya tak ada kenapa-kenapa.
Namun setelah dilihat-lihat, di atas matanya ada seperti benda asing yang setelah dilihat-lihat adalah peluru senapan angin yang menempel yang membuat saya sedih, kenapa saya tak melihatnya lebih awal dari siang saat saya mendapati peluru itu.
Saya ingin bilang kepada orang yang melakukan perbuatan-perbuatan ini, kalau memang kucing saya ini mengambil HAK kalian atau katakanlah melakukan hal yang dapat membuat anda marah atau tidak senang, apakah layak ia mendapatkan perlakuan seperti ini? Bukankah anda beragama? Anda beradat? Lantas, mengapa kelakuan bodoh ini tak pernah terpikirkan di kepala anda yang jernih itu.
Menarik pelatuk senapan angin ke tubuh mungil tak berdaya itu bukan sekadar tindakan kejam untuk anda ketahui, tapi adakah bukti nyata betapa kerdilnya nurani anda seorang manusia. Di saat para pemilik kucing merawat nyawa dengan penuh kasih sayang, ada jemari jahat yang tanpa beban memutuskan untuk menghancurkan kebahagiaan sesama. Kejahatan semacam ini menegaskan bahwa tidak semua makhluk yang berjalan dengan dua kaki pantas menyebut dirinya manusia.
Betapa sedihnya ketika saya mencoba mengingat apa yang saya lihat di atas meja komputer itu, meski ia masih mampu berjalan kesana-kemari, tapi ternyata napas renyuknya yang perlahan menjadi satu-satunya dentang waktu yang ia lawan sendirian. Saya menduga peluru itu menancap semalam, tepatnya Kamis, 6 Agustus, karena sebelumnya malam ketika saya pulang saya melihat ia tengah berada di pintu minta dibukakan untuknya masuk ke dalam.
Rasa bersalah ini pun datang terlambat, mengendap bersama rasa sakit yang ia coba utarakan lewat suaranya, meratapi setiap detik yang terlewat tanpa menyadari luka tersembunyi di atas binar matanya. Betapa dinginnya sebuah jemari yang sanggup meremukkan kehidupan sekecil itu, kehidupan yang tak pernah tahu menahu tentang dendam, batas wilayah, atau dosa-dosa manusia.
Kini, saya hanya bisa menatap tubuh mungil yang terkulai seraya mencoba melakukan yang terbaik, memohon pada alam agar rasa sakitnya dialihkan saja ke dada ini. Manusia boleh menepuk dada dengan kebanggaan moral dan akal budinya, namun luka kecil ini menjadi cermin retak yang menelanjangi betapa fakirnya kasih sayang di sekitar kita.
Semoga kejamnya peluru itu menjadi dosa terakhir yang harus ditanggung oleh tubuh ringkih ini, dan semoga malam membungkusnya dalam jeda yang tenang sebuah tempat di mana jemari-jemari jahat tak akan pernah lagi bisa menjangkaunya.
Kepada siapapun yang membaca kisah ini, ingatlah bahwa bumi ini diciptakan bukan hanya untuk manusia yang pongah. Di sekitar kita, ada nyawa-nyawa mungil yang tak berdosa, yang bernapas dan merasa, namun tak dibekali suara untuk membela diri. Jika tak sanggup mengasihi, setidaknya jangan menjadi tangan yang merenggut kedamaian mereka.
Jangan biarkan kebencian menumpulkan nurani hingga tega menyakiti makhluk yang tak berdaya. Sebab pada setiap kasih yang kita sebarkan kepada hewan, ada kemanusiaan kita yang sedang diuji dan diselamatkan.
Semoga kucing saya, Niniang segera pulih lagi, karena jika ia pergi, sepertinya saya akan menanggung kesedihan itu sangat lama, dan tak akan pernah terbayangkan cara mengobatinya entah gimana, saya saya Niniang.