Sebuah Catatan Perjalanan Tahun 2012 dan Biografi Intelektual Syekh Tuanku Ali Imran Ringan-Ringan

oleh | Agu 12, 2026 | Kaji, Sosok

Ditulis berdasarkan ziarah kepada Syekh Tuanku Ali Imran Ringan-Ringan, di Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat, Senin, 19 Maret 2012.

Pada tahun 2012, kami bersama sejawat peneliti dari IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN Imam Bonjol) berkesempatan melintasi berbagai sentra tafaqquh fiddin di Pariaman, sebuah kawasan yang sangat masyhur sebagai episentrum transmisi Tarekat Syattariyyah di persada Minangkabau.

Penjelajahan ini bermula dari Tapakis, yakni Surau Tuanku Syekh Madinah yang kini telah bertransformasi menjadi bangunan masjid bergaya modern; dilanjutkan ke makam al-arifi billah Tuanku Syekh Burhanuddin yang tiada pernah sepi diziarahi oleh masyarakat berbagai pelosok; lalu menuju Surau Gadang Syekh Burhanuddin di Tanjuang Medan yang masih memelihara keaslian arsitektur klasiknya; serta Surau Baru Bintungan Tinggi yang tampak diselimuti redup kenangan kejayaan masa lampau. Rihlah ini akhirnya berlabuh di Pondok Pesantren Ringan Ringan, sang benteng amaliyah serta pengawal tradisi keilmuan surau Syattariyyah terkemuka di tanah barri aman ini.

Pesantren Ringan Ringan menawarkan daya pikat yang sangat tersendiri. Di tengah fenomena penurunan eksistensi institusi surau tradisional dengan sistem halaqah-nya di rantau ini, Ringan Ringan sanggup berdiri kokoh di atas fondasi keotentikan turats, teguh ber-Syafi’i, serta konsisten ber-Syathari. Keberhasilannya dibuktikan secara riil oleh antusiasme para thulab yang relatif semarak untuk ukuran ma’had di Minang saat ini, disamping deretan prestasi keagamaan yang berhasil ditorehkannya.

Semua keberkahan tersebut tak terlepas dari pimpinan Tuanku Syekh yang memiliki integritas ilmu naqli serta kharisma kepemimpinan nan luhur. Penggunaan artikulasi “pesantren” yang notabene leksikon eksternal luar Minangkabau mungkin memicu impresi awal bahwa lembaga ini telah mengalami pergeseran tradisi atau penyeragaman modernisasi. Namun, pemahaman komprehensif justru menyingkap fakta sebaliknya: lembaga ini tetap konsisten menjadi benteng keislaman serta pewaris mata rantai sanad keilmuan ulama as-salaf Minangkabau masa silam.

Adapun adopsi nomenklatur “pesantren” tersebut pada hakikatnya sekadar bentuk penyelarasan terhadap regulasi birokrasi Departemen Agama demi menselaraskan kelembagaan tradisional, sekalipun kebijakan unifikasi ini disayangkan berpotensi mengikis istilah-istilah autentik kearifan lokal setempat.

Memasuki area Pesantren Ringan Ringan, kita akan melihat berbagai aktivitas santri, dimana mereka berbusana layaknya orang-orang siak masa silam, berkopiah dengan cemiri melilit leher dan bersarung, mereka bercengkrama sepanjang jalan; adapula yang sedang berolahraga bagi santri-santri yunior, sedang bagi santri senior mengulang-ulang kaji dengan kitab kuning ditangan.

Sore itu menjadi berkesan, meski kami datang bukan pada jam bertamu, kami disambut baik oleh Buya Amran Ringan Ringan di ruangan beliau, meski beliau sedang sibuk berzikir dengan untaian-untaian tasbih yang tidak lepas ditangan. Keramah-tamahan, layaknya ulama-ulama silam terpatri pada pribadi buya tersebut; meski dengan penyakit tua-nya, tubuh yang telah lemah akibat usia, kondisi mata yang tidak terang lagi.

Maka dibukalah pembicaraan dengan kata-kata yang mendalam, perihal amalan-amalan Tarekat Syattariyyah, mengenai Taqwim menentukan puasa Ramadhan dalam tradisi Syattariyyah, mengenai Martabat Tujuh yang sering diperkatakan dan terakhir mengenai silang sengketa antara ulama Syattariyyah saat ini perihal pemahaman-pemahaman yang berseberangan dengan Ahlus sunnah wal Jama’ah, tepatnya kecaman beliau (Buya Amran) terhadap Tuanku Abdurrazak Pakandangan, dimana faham Tuanku ini menurut hemat Buya Amran mengarah kepada Jabbariyyah.

Perlu rasanya kita tulis disini hal riwayat hidup Syekh Tuanku Ali Imran ini, jejak intelektualnya dari masa belia hingga dikenal sebagai ulama mumpuni di belahan Pariaman. Syekh Amran lahir pada tahun 1926 dari keluarga yang taat beragama, ayahnya seorang alim dari garis Tarekat Syattariyyah. Beberapa saat setelah kelahiran Amran kecil, beliau dibawa ibunya menemui Tuanku Mato Aia nan Tuo Pakandangan.

Sesampainya dihadapan Tuanku Mato Aia, Amran yang kala itu masih sangat kecil dihembus oleh Tuanku Mato Aia dari ubun-ubun sampai kaki, tentu dengan bacaan do’a-do’a untuk menuai berkah bagi Amran kecil. Tuanku Mato Aia kemudian berujar kepada sang ibu, “Jagolah anak ko elok-elok, karano anak ko beko nan ka mampartahankan pangajian kito, sebab nanti ka banyak urang-urang nan ka mambatalkan pengajian kito ko” (Jagalah anakmu ini baik-baik, karena dialah yang akan mempertahankan pengajian kita [maksudnya Syattariyyah], sebab nanti akan banyak bermunculan orang-orang yang akan membatalkan pengajian ini).

Setelah itu sang ibu membawa Amran kembali pulang. Sesuai dengan wasiat Syekh Mato Aia, yang adalah salah seorang ulama Tua yang terkemuka dikalangan Ahli Tarekat Syattariyah, Amran dijaga dengan sungguh-sungguh, diasuh dengan kasih sayang yang sangat, sampai-sampai ketika Amran kecil demam saja ditangisi oleh si-Ibu, selain karena sayang yang begitu halnya, juga karena takut mengingkari amanah Syekh Mato Aia tersebut.

Lama masa ditempuh, sampailah usia Amran menginjak baligh berakal. Sebab lingkungan keluarga yang kuat beragama, pun keturunan orang-orang alim, telah membentuk karakter Amran yang cinta ilmu. Mula kecil bertunas, kemudian tumbuh berangsur-angsur seiring waktu.

Hingga suatu waktu gejolak jiwa hendak pergi menuntut ilmu tak tertahan lagi, meski sudah mengaji di kampung halaman, keinginan Amran lebih besar menimba ilmu ke negeri yang jauh-jauh, mencari orang-orang alim ternama. Niat menimba ilmu itu beliau utarakan kepada sang ayah, Angku Hasan.

Dengan berbagai pertimbangan, sang ayah menolak memberi izin untuk keluar kampungnya. Hal ini tidak serta merta membuat Amran patah arang, karena keinginan yang begitu menggebu, beliau lewat seorang tuanku (ulama setempat), mengancam akan tidur di rel kareta api, biar dilindas dan mati, kalau tidak diizinkan buat menimba ilmu ke tempat-tempat lain di Minangkabau. Mendengar itu, sang Ayah kemudian mengizinkan, walau dengan berat hati, anak kesayangannya itu akan pergi meninggalkan kampung. Hal ini terjadi pada zaman penjajahan Jepang.

Izin telah didapat, namun kemanakah kaki hendak di langkah kan. Berpikir-pikir Amran, kalau hendak menimba ilmu di wilayah rantau saja, kita tidak akan berkembang, karena kita juga orang rantau. Baiknya menuntut ilmu ke Darek, disamping daerah baru yang ingin dijajaki, darek juga dikenal dengan ulama-ulama terkemuka dalam lautan ilmu. Maka berangkatlah Amran menuju Darek, pedalaman Minangkabau.

Adapun tempat mula Amran belajar ialah di Koto Baru, Padang Panjang, kepada salah seorang Malin yang tidak disebut lagi namanya. Sambil menuntut ilmu di Padang Panjang, beliau mencari-cari orang alim yang cocok untuk didatangi. Beberapa bulan di Padang Panjang, beliau pamit menuju nagari Mungo, yang berada di kaki Gunung Sago, untuk berkhitmat menuntut ilmu agama kepada Buya Syahidan Syarbaini (w. 1984).

Di surau yang dikenal dengan nama “Surau Baburai”, Amran mengisi dada mengaji ilmu agama, menelaah Kitab Kuning kepada Buya Syahidan selama 3 tahun. Setelah itu, Amran pergi ke daerah Tiakar, Payakumbuh, sebuah perkampungan orang siak yang cukup ramai dimasa itu. Disini Buya Amran menuntut ilmu kepada Syekh Ibrahim Harun (w. 1961).

Ketika meletus peristiwa PRRI di era 1950-an, yang memaksa sekolah-sekolah agama untuk menghentikan aktifitas mengajarnya, Amran tetap mencari tempat belajar agama, sebab Madrasah Tiakar ditutup. Beliau kemudian berangkat ke Padang Japang, karena beliau dengan sebuah perguruan Agama yang cukup ternama karena pembaharuannya, yaitu Training College, yang saat itu pindah dari kota Payakumbuh. Lembaga pendidikan agama bercorak modern ini dipimpin oleh Nasharuddin Thaha, salah seorang pembaharu, minantu dari Syekh Abbas Padang Jopang.

Setelah berapa lama disini, cukup menimba ilmu-ilmu umum, beliau akhirnya meneruskan menuntut ilmu ke Malalo, daerah yang banyak dihuni oleh orang-orang Alim di tepian Danau Singkarak. Disini beliau menimba ilmu kepada salah salah satu ulama terkemuka dalam Syariat dan Tarekat, yaitu Syekh Zakaria Labai Sati Malalo Al-Khalidi Naqsyabandi. Di sini beliau melengkapi ilmu-ilmu beliau, tepatnya di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Malalo yang terkenal itu, sampai beliau dipercayakan sebagai guru Tuo (guru bantu) oleh Syekh Zakaria tersebut.

Begitulah sekilas perjalanan hidup Buya Amran. Sekembali dari Malalo, yaitu setelah zaman bergolak, setelah sekian lama belajar dan mengajar, beliau pulang ke Ringan Ringan. Di kampung halamannya beliau membuka pengajian Kitab Kuning, yang kemudian menjadi cikal bakal Pesantren Nurul Yaqin Ringan Ringan.

Kepiawaian beliau dalam ilmu agama, keteguhan hati mempertahankan Ahlussunnah, konsistensi beliau mewariskan lautan ilmu dari kitab Kuning itu, membuat nama Nurul Yaqin menjadi harum, sehingga berdatangan lah orang-orang Siak dari berbagai daerah buat berkhidmat ilmu agama ke kampung ini. sampai saat ini begitulah halnya. Inilah salah satu pesantren berwibawa yang tetap teguh di ranah Minangkabau, dikala pesantren-pesantren lain telah terkontaminasi oleh modernisasi total, sehingga menghilangkan ilmu-ulmu agam itu, disaat itu Pesantren Ringan Ringan mampu menemukan momentum sebagai lembaga tradisional penjaga Ahlussunnah wal Jama’ah, tetap ber-Syafi’i dan bertarekat, khususnya Tarekat Syattariyah, sebagai yang diwariskan oleh Islam Minangkabau sejak dahulunya.

Cukup singkat pertemuan saya dengan Syekh Tuanku Amran Ringan Ringan ini; meski sekejap pandangan, namun kesan yang beliau berikan begitu mendalam, lidah beliau masih fasih, ingatan beliau masih kuat, kitab itu tak lekang di dadanya, burhan (penjelasan) yang beliau uraikan sangat terang.

Memang luar biasa ulama-ulama silam, ungkap saya dalam hati. Itu yang amat jarang saya temui saat ini, meski saya cukup kenal dengan professor-professor bidang agama, namun sedikit dari mereka yang ilmunya di-ilmui.

Azan maghrib hampir berkumandang. Namun Syekh Amran masih bersemangat menceritakan kisah, memberi penjelasan soal-soal agama yang saya sampaikan. Saya dan tim pamit sesaat setelah itu. Setelah berjabat tangan dan menciumnya, yang kemudian beliau balas dengan senyum simpul yang sangat manis, saya beranjak meninggalkan ruangan itu, sedang beliau, Syekh Amran, kembali erat memegang tasbih. Masing terngiang-ngiang pesan beliau, “Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi” (tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahad). Rahimahullahu ta’ala… Amin.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.