Hamka ketika baru lebih dari dua bulan berada di Mekah bertemu dengan Haji Agus Salim yang ketika itu sedang berada di Tanah Suci. Lalu Haji Agus Salim berujar pada Hamka: “A nan ang unian di siko? di siko tompek baibadat, indak tompek manuntuik ilemu.“
Perkataan Haji Agus Salim ini membekas bagi Hamka, dan itu lah menyebabkan Hamka tidak jadi menuntut ilmu agama di Mekah. Setelah ia berhaji, ia kemudian pulang ke Minang. Padahal waktu itu orang datang berhaji sekaligus belajar agama di Mekah. Dan Hamka tidak jadi belajar agama bertahun-tahun di Mekah, seperti pemuda seangkatannya yaitu Buya Sirajuddin Abbas yang beberapa tahun di Mekah dan belajar kepada Syekh Ali Maliki dan Syekh Umar Hamdan, atau seperti Buya Rusli Abdul Wahid yang juga menahun di Mekah.
Salah satu alasan Haji Agus Salim bahwa Hamka tidak akan mendapatkan ilmu apa-apa di Mekah tersebut, baginya Mekah hanya tempat ibadah saja. Mungkin Haji Agus Salim menganggap orang yang lama di Mekah hanya sebagai orang tukang do’a saja ketika pulang ke Tanah Air. Memang begitu pola pikir kaum modernis, dimana Haji Agus Salim dan Hamka adalah pionir ulama modernis setelah Haji Rasul Maninjau.
Saya, kurang lebih 17 tahun tinggal menetap di rantau, di Padang dan Jakarta. Ketika usia sudah lebih kepala tiga saya pulang kampung, dan mulai berusaha memberikan manfaat untuk orang kampung, kembali meramaikan surau, mengajar anak-anak mengaji alif ba ta, dan menguatkan kaum ibu untuk beramal ibadah di surau. Satu pekerjaan tetap saya di kampung, yaitu tukang baca do’a dan tukang baca khotbah Jum’at.
Dulu, saya terpengaruh juga oleh bual kaum modernis bahwa tukang baca do’a ini adalah aktivitas rendahan. Setelah saya jalani, ternyata tukang baca do’a adalah posisi penting dalam sosial masyarakat di kampung saya. Perhelatan tidak akan jadi sebelum tukang baca do’a datang.
Gulai kepala kambing tidak akan dimakan sebelum disentuh oleh tukang baca do’a. Tukang baca do’a dijadikan tempat bertanya, kapan hari baik bulan baik, ditanya soal pendapatnya. Intinya, karena saya menjadi tukang baca do’a itulah saya bisa memberikan manfaat pada orang kampung, dan bisa secara beransur-ansur melakukan perbaikan mana yang patut diperbaiki di kampung.
Biasanya seseorang tidak banyak yang diterima di kampung halamannya. Sebab orang kampung kenal dia sejak balitanya, tahu perangai-perangai di masa pubertas, tahu kekurangan kita.
Di kampung, tidak perlu orang tahu bahwa kita adalah lulusan terbaik magister. Tidak perlu pula kita bawa-bawa gelar akademik yang berderet. Itu semua tidak laku, yang laku ialah seberapa kita bermanfaat bagi orang kampung kita.
Pada akhirnya, laku hidup di kampung bukanlah semata perkara adu tangkas atau memperagakan kilau gelar sarjana. Bak pepatah pusaka, “kanduang tabang marapalam jatuah, nan bapaneh nan manikmati“; kemuliaan rantau baru teruji tatkala kaki kembali menjejak kampuang halaman, bersedia menjadi panawa dingin bagi karib kerabat.
Tak soal dicap sekadar tukang tadah tangan pembaca doa, sebab di balik basmalah itulah terselip martabat alim ulama penuntun syarak mangato, adaik mamakai. Dari surau lapuak itulah peradaban nagari dirajut kembali, menghidupkan Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Sejatinya, kepulangan pun bukanlah tentang seberapa tinggi kita menjulang di langit perantauan, tapi seberapa dalam kita sanggup merendahkan hati, membumikan bakti, dan tagak di nan ampek demi kemaslahatan anak kemenakan hingga akhir hayat.
Sumber percakapan Agus Salim dan Buya Hamka: Terdapat dalam Buku ”Kenang-Kenangan Hidup” halaman 145-146, buku tersebut adalah memoar karya Buya Hamka. Memoar ini diterbitkan pertama kali pada Februari 1951 oleh penerbit Gapura.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.