Kali ini penulis mencoba menurunkan sepotong hikayat dari Suliki, Luhak 50 Koto. Mendengar kata Suliki, tentu kita ingat tokoh revolusioner Tan Malaka yang berasal dari daerah itu.
“Perajaan di Soeliki (S. W. K. = Sumatra’s Westkust)”, demikian tajuk foto klasik tentang Minangkabau masa lampau yang penulis turunkan pada tulisan ini. Konteks foto ini adalah penganugerahan bintang tanda jasa kepada beberapa orang penghulu/pejabat lokal di daerah Suliki oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Keterangan di bawah gambar yang menyertai foto ini, yang dikirim ke Redaksi Pandji Poestaka oleh ‘SJACHINAAR DNG’ adalah sbb:
“Beloem selang beberapa lama oléh p.t. [paduka tuan] Controleur Soeliki telah diterimakan anoegerah bintang kepada toean2 (dari kiri kekanan): 1 Toenoes gelar Datoek Bandaharo Pandjang, Kepala Negeri Talago, mendapat bintang tembaga; 2 Tjaoel glr Dt. Maharadjo, gepens [pensiunan] Hoofd der 2e kl. school [kepala sekolah kelas 2] di Soeliki, mendapat bintang pérak ketjil; jang ditengah-tengah ialah p.t. W. J. Leyds Jzn, Controleur Soeliki; 3 Maï glr Dt. Bandharo Diatas, Kepala Negeri Baroeh Goenoeng, [sudah] beroléh bintang tembaga pada tahoen 1921, sekarang [memperoleh lagi] pérak ketjil, dan 4 Abdoel Rahim glr Dt. Padoeko Radjo, Kepala Negeri Soengai Rimbang, mendapat bintang tembaga.”
Selanjutnya dikatakan:
“Toean-toean 1, 3 dan 4 hingga masa ordonansi nagari dilakoekan, berpangkat ‘penghoeloe kepala’ dan berdienst [berdinas] [masing-masing selama] 22, 35 dan 29 tahoen, sedang dienst toean 2 [Tjaoel glr Dt. Maharadjo] 33 tahoen lamanja.” Jadi, pembaca dapat mengetahui sejak tahun berapa masing-masing orang yang dianugerahi bintang kehormatan itu mulai berdinas dalam jajaran administrasi Binnenlands Bestuur (BB) Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.
“Rasanja perloe djoega diterangkan disini”, demikian tukuk pengarang, “tentang djasa toean Dt. Bandaharo Diatas, Kepala Negeri Baroeh Goenoeng itoe. Ketika peratoeran padjak dilakoekan dalam [wilayah] Soematera Barat, ja’ni dalam tahoen 1908, keboen-keboen kopi tidak diperdoelikan anak boeah lagi, tetapi didalam negeri Baroeh Goenoeng sangat benar dipelihara anak negeri, sehingga mendjadi pentjaharian jang amat besar bagi anak negeri disana, dan termasjhoer kian kemari kebaikan dan keénakan kopi Baroeh Goenoeng itoe.”
Demikianlah secebis kisah masa lampau Nagari Suliki. Dalam sumber yang penulis dapatkan ini terdapat satu foto lagi yang mengabadikan para penerima anugerah bintang tersebut dengan Demang Suliki dan Asisten Demang Guguak beserta anak-anak buah mereka.
Akhirul kalam, semoga informasi historis ini bermanfaat hendaknya bagi sejarawan dan para pembaca, khususnya anak nagari Suliki.
Tulisan ini sebelumnya terbit di Singgalang, Minggu, 27 November 2016. Sehari setelahnya terbit di nadilova.wordpress.com, tepatnya pada 28 November 2016.

Penulis:
Surya Suryadi
Lahir 15 Februari 1965 di Nagari Sunur, Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatra Barat, meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra Unand (1991) dan mengajar sebagai asisten dosen di Unand serta UI, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sana, ia mengantongi gelar master pada 2002 dan menyelesaikan gelar doktornya pada 2014 dengan fokus riset berjudul: “The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau”. Suryadi dikenal sebagai pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara. Ia banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara dan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.