Pada tulisan kali ini kita coba menurunkan kisah singkat seorang pendekar wanita Minang yang selama ini kurang dikenal. Dari namanya kita sudah dapat memperkirakan siapa wanita ini. Namanya adalah: Djamilah Djambek, yang tiada lain adalah anak Syekh Djamil Djambek, ulama Minangkabau yang terkenal itu.
Setelah ayahnya wafat pada tahun 1947, Djamilah Djambek melanjutkan tradisi pengajian di surau yang ditinggalkan oleh ayahnya, Surau Tangah Sawah. Sebagaimana diwasiatkan oleh ayahnya, Djamilah tetap mempertahankan pola pengajian yang dilakukan oleh ayahnya semasa hidupnya.
Namun, Djamilah Djambek tidak sekedar hidup di surau dan mengajar anak-anak perempuan mengaji. Ia adalah tipe wanita yang maju dalam pemikiran. Oleh sebab itu, wanita yang selalu tampil cantik dan anggun dalam kerudung ini, ingin berbuat lebih banyak untuk masyarakatnya. Dalam media yang menjadi sumber kutipan ini (lihat catatan di bawah) tertulis:
“Dikabarkan sudah terpilih mendjadi anggota Dewan Pemerintahan Kota Bukittinggi, Rangkajo Djamilah Djambek, pendekar kaum wanita di Sumatera.”
Selanjutnya dikatakan:
“Nj. Djambek ini terutama terkenal namanja dikalangan Islam, karena hasratnja untuk memadjukan kedudukan kaum wanita di Sumatera. Dalam usahanja itu, ia pernah mendjadi Konsol Aisjiah di Lampung dan Palembang, pernah mendjadi guru pada Moderne Islamitische Kweekschool bg. [bagian] puteri di Bukittinggi. Belakangan ini (achir 1948) ia dipilih djadi anggota Dewan Perwakilan Kota B’Tkittinggi [Bukittinggi], dan karena kegiatannja, dipilih dalam djabatannja jang penghabisan ini. Rangkajo Djamilah Djambek adalah wanita pertama untuk memangku djabatan tsb. di Sumatera.”
Demikianlah sedikit nukilan tentang kisah hidup Djamilah Djambek. Mudah-mudahan ada orang yang mau meneliti lebih lengkap riwayat hidup ‘pendekar wanita’ Minangkabau ini.
Sumber: Merdeka: Berita Mingguan untuk Indonesia, No. 6, Th. III, 11 Februari 1950:10).
Tulisan ini sebelumnya telah terbit di Singgalang, Minggu, 15 Januari 2017, dan sehari setelahnya terbit di niadilova.wordpress.com, tepatnya pada Senin, 16 Januari 2026.

Penulis:
Surya Suryadi
Lahir 15 Februari 1965 di Nagari Sunur, Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatra Barat, meraih gelar sarjana dari Fakultas Sastra Unand (1991) dan mengajar sebagai asisten dosen di Unand serta UI, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Di sana, ia mengantongi gelar master pada 2002 dan menyelesaikan gelar doktornya pada 2014 dengan fokus riset berjudul: “The Recording Industry and Regional Culture in Indonesia: The Case of Minangkabau”. Suryadi dikenal sebagai pakar filologi dan ahli pernaskahan Nusantara. Ia banyak meneliti naskah-naskah klasik Nusantara dan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional. Saat ini menjadi pengajar di Universitas Leiden, Belanda.