rundiang

YouTube Malaka: Kalau Nggak Bisa Dibuktikan, Kenapa Kamu Percaya? Kelas Pakar Bersama Hasanudin Abdurakhman, Fisikawan Lulusan Jepang

YouTube Malaka: Kalau Nggak Bisa Dibuktikan, Kenapa Kamu Percaya? Kelas Pakar Bersama Hasanudin Abdurakhman, Fisikawan Lulusan Jepang

Pada bulan Juli 2025 lalu, ada pembasahan menarik di kanal YouTube MALAKA kembali yang mengundang banyak atensi. Video mereka yang berjudul: ”Kalau Nggak Bisa Dibuktikan, Kenapa Kamu Percaya?” itu menghadirkan narasumber fisikawan.

Hasanudin Abdurakhman yang akrab disapa Kang Hasan itu hadir di sana, pria yang sudah mengkhatamkan pendidikan S1-nya di Jurusan Fisika FMIPA UGM dan S2-S3-ny di di bidang Fisika Universitas Tohoku, Sendai, Jepang itu hadir pada video yang di upload 8 Juli 2025 dan telah mendapatkan penayangan sekitar 64 k views, dengan durasi video hampir 10 menit.

Pasaman Barat sebagai Ruang Multikultural: Romantisme Asimilasi Antar Etnis

Pasaman Barat sebagai Ruang Multikultural: Romantisme Asimilasi Antar Etnis

Pasaman Barat adalah sebuah kabupaten yang terletak di Sumatra Barat, dikenal dengan keberagaman etnis dan budayanya. Wilayah ini dihuni oleh berbagai suku, seperti Minangkabau, Mandailing, Batak, dan Jawa, yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun. Harmoni yang tercipta di antara masyarakat ini mencerminkan suatu bentuk asimilasi yang sangat unik dan romantis, yang kemudian menciptakan identitas khas bagi Pasaman Barat. Sebelum lebih jauh membahas fenomena yang ada di Pasaman Barat, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu Romantisme dan Asimilasi.

Bangunan Kecil, Ingatan Besar: Rangkiang dalam Perspektif Budaya A.A. Navis

Bangunan Kecil, Ingatan Besar: Rangkiang dalam Perspektif Budaya A.A. Navis

Di halaman depan rumah gadang, rangkiang berdiri seperti catatan kaki yang tak pernah dibaca terburu-buru. Rangkiang tidak sekadar bangunan penyimpan padi, tapi adalah penanda struktur sosial, ekonomi, dan kosmologi Minangkabau. A.A. Navis, dalam Alam Takambang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau, menempatkan rangkiang sebagai bagian integral dari sistem kehidupan kaum sebuah institusi material yang menyimpan ingatan kolektif masyarakat agraris.

Bin Ocean, Musisi Asal Lima Puluh Kota di Balik Lirik Melankolis “I Wish I Had a Home”

Bin Ocean, Musisi Asal Lima Puluh Kota di Balik Lirik Melankolis “I Wish I Had a Home”

Bin Ocean seorang musisi asal Jorong Koto, Nagari Simalanggang, Kabupaten Lima Puluh Kota, mulai memperkenalkan karya-karyanya melalui jalur musik independen. Nama lengkapnya, Bintang Wahyu Ramadhan atau yang juga akrab disapa Acik dan dikenal dengan nama panggung Bin Ocean, dirinya baru saja merilis sejumlah lagu yang berangkat dari pengalaman personal tentang relasi, kesepian, dan proses memahami diri sendiri. Melalui karya-karya itu, ia perlahan membangun identitas musikalnya di tengah aktivitas akademiknya sebagai mahasiswa.