Tulisan ini merupakan sebuah catatan dialektis yang lahir dari laku ziarah ke makam Syekh Abdullah Khatib yang dinarasikan dalam kolektif memori sebagai “Baliau Ladang Laweh” di Banuhampu, Agam, pada hari Selasa, 27 Agustus 2013, yang bertepatan dengan syiar Syawal 1434 H, perjumpaan fisik dengan situs tersebut menyisakan melankolia yang mendalam; menyaksikan pusara sang ulama yang rimbun dilingkupi semak belukar seketika mengiris hulu hati, memantik rasa pilu atas pengabaian sejarah.
Guna menghindari bias subjektif, rekonstruksi historis ini ditopang dan mengalami triangulasi data melalui manuskrip serta catatan otoritatif para muarikh nusantara, seperti Prof. Mahmud Yunus, Syekh Yunus Yahya Magek, dan Abuya H. Sirajuddin Abbas.
Ada kepedihan yang senyap saat mendapati bahwa mereka yang dahulu menjadi lentera, kini seolah terkubur dua kali: oleh tanah dan oleh lupakan. Eksistensi para intelektual-ortodoksi Islam yang termaktub dalam tulisan ini sangat disayangkan, kini hanya segelintir entitas yang mampu mengonstruksi kembali genealogi perjuangan dan mengenang atsar (jejak dedikasi) mereka, dan saya melihat itu terjadi pada ulama yang wafat pada tahun 1890 ini.
Di samping itu, tulisan bersambung ini dilansir sebagai pengingat bagi kita, generasi penerus, untuk mengenal serta meneladani, hingga mempererat tali ruhani dengan ulama-ulama Minangkabau di masa yang lampau itu.
Ulama-Ulama Besar Masa Silam yang Terlupakan dari Ladang Laweh
Ladang Laweh, Banuhampu, ialah sebuah daerah yang terletak di lereng gunung Marapi, termasuk kawasan Luhak Agam. Sejak berabad silam Ladang Laweh telah menjadi salah satu pusat keilmuan Islam yang mempunyai nama yang harum seantero Minangkabau. Beberapa daripadanya merupakan ulama kosmopolitan yang menorehkan tinta emas dalam perjalanan agama Islam di bumi Minangkabau.
Di antara ulama-ulama yang pernah mukim dan memapankan karirnya di Ladang Laweh, di antara yang dapat kita catat, seperti Syekh Abdussalam Banuhampu yang hidup pada pertengahan abad 19 hingga awal abad 20, Syekh Muhammad Abbas yang lebih dikenal dengan Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh (wafat pertengahan abad 20), Syekh Abdul Malik Gobah (wafat dipertengahan abad 20), sedangkan yang menjadi ulama tertua yang dapat dicatat dari daerah ini ialah Syekh Abdullah Khatib, atau yang lebih dimasyhurkan dengan “Baliau Ladang Laweh”, ulama besar di abad 19.
Pada tulisan kali ini kita akan mengenang ulama besar Minangkabau dari Ladang Laweh, yang menjadi salah satu mata rantai keilmuan Islam Minangkabau pada abad ke 19, namun sangat jarang dibicarakan oleh para “orang siak” masa kini, ataupun oleh para peneliti. Beliau ialah Syekh Abdullah Khatib Ladang Lawas, ulama tua yang menjadi guru dan panutan generasi ulama-ulama Minangkabau dimasa selanjutnya.
Syekh Abdullah Khatib dan Kejayaan Pendidikan Islam di Minangkabau
Pada makam beliau masih jelas inskripsi nisannya. Di sana tertulis “al-Fadhil Syekh Abdullah al-Khatib”, dengan khat naskhi yang cukup rapi. Dari nisan yang hampir hancur dimakan usia itulah informasi ringkas tentang pribadinya kita dapati. Beberapa orang yang ditanyai di sekitar makam tidak mengetahui siapa beliau, yang terucap hanya “beliau ulama tertua”. Syukur beberapa literatur lama (yang mungkin sekarang tidak dibaca dan dibuka oleh generasi-generasi muda) memberikan beberapa catatan perihal beliau Syekh Abdullah Khatib tersebut, sehingga masih terbuka celah bagi kita buat mengenal ulama besar yang satu ini.
Al-‘Allamah Prof. Mahmud Yunus, seorang tokoh pendidikan terkemuka dan ulama dari Batusangkar mencatat dalam “Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia” bahwa di antara ulama-ulama Minangkabau di abad 19 yang menjadi ikon keilmuan Islam ialah Syekh Abdullah Khatib Ladang Laweh ini. Namun, beliau tidak mengemukakan lebih lanjut perihal riwayat hidup Syekh tersebut, yang pasti Syekh Abdullah Khatib bersama ulama-ulama sezaman telah memainkan peran penting dalam transmisi keilmuan Islam, sehingga keilmuan Islam di Minangkabau dapat disebut setara dengan keilmuan Islam di Makkah.
Sedangkan ketika itu Makkah menjadi pusat keilmuan. Hal ini dikarenakan Syekh Abdullah Khatib bertahun-tahun belajar agama dengan berbagai vak keilmuan di Makkah. Ketika beliau kembali ke Minangkabau, melalui lembaga surau, beliau terapkan sistem Makkah di lembaga tersebut. Sehingga banyak orang-orang berdatangan menimba ilmu pengetahuan darinya, murid-murid ini kemudian meneladani pula sistem yang beliau pakai di daerahnya masing-masing, demikian ulasan Prof. Mahmud Yunus.
Dalam catatan tua Syekh Yunus Yahya Magek (1908-2000) dijelaskan lebih lanjut bahwa “Baliau Ladang Laweh” mempunyai dua keistimewaan yang membuat surau nya di Ladang Laweh terkenal di antara penuntut-penuntut ilmu kala itu, yaitu (1) keilmuan yang dimilikinya dalam bidang keagamaan sangat mendalam; (2) sistem pelajaran dan kitab yang diterapkannya di Surau Ladang Laweh ialah sistem dan kitab yang dipakai oleh lembaga-lembaga pendidikan di Makkah.
Maka wajar bila Surau Syekh Ladang Laweh ini mempunyai nama besar, sering menjadi model percontohan di kalangan ulama-ulama kala itu. Tercatat bahwa ulama besar Syekh Muhammad Sa’ad Mungka (1954-1922) perlu mengadakan perjalanan ke Ladang Laweh, di samping untuk menemui Beliau Ladang Laweh tersebut, beliau Sa’ad juga mengadakan semacam studi banding, sehingga ketika Syekh Sa’ad pulang ke Mungka (Kab. Lima Puluh Kota), beliau berupaya pula untuk menerapkan model pendidikan yang dipakai Syekh Ladang Laweh tersebut.
Syekh Abdullah Khatib dan Ulama-Ulama Besar Minangkabau
Dalam catatan-catatan yang ada disebutkan bahwa Syekh Abdullah Khatib mempunyai 2 orang murid yang menjadi ulama besar dikemudian hari. Dua ulama besar itu ialah (1) Syekh Yahya al-Khalidi Magek; dan (2) Syekh Abdullah “Baliau Halaban” (w. 1926).
Syekh Abdullah Halaban, atau yang lebih dikenal dengan gelar “Baliau Halaban” (Beliau Loban), ulama besar yang diakui kealimannya di Tigo Luhak (Tanah Datar, Agam dan Lima Puluh Kota). Beliau terkemuka dikalangan ulama-ulama semasa karena kemahirannya dalam ilmu-ilmu keagamaan yang pelik-pelik, seperti fiqih, ushul fiqih dan mantiq.
Di antara murid-muridnya yang terkemuka ialah (1) Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang; (2) Syekh Muhammad Jamil Jaho; (3) Syekh Ibrahim Harun Tiakar Payakumbuh; (4) Syekh Syarif Lintau; (2) Syekh Muhammad Ruslan Limbukan Payakumbuh; (3) dan lain-lainnya. Syekh Yahya al-Khalidi dikenal sebagai ulama besar, seorang sufi yang memegang tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Syekh Yahya mempunyai surau terkemuka di Magek Kamang. Surau tersebut bernama Surau Baru, yang kemudian menjadi salah satu pusat keilmuan pula di Luhak Agam. Di antara murid-murid Syekh Yahya Magek yang kemudian menjadi ulama besar ialah, (1) Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang; (2) Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh Banuhampu; (3) Syekh Sulaiman Ghani Magek; (4) Syekh Mahmud Abdullah Tarantang Harau Payakumbuh; (5) anak beliau, Syekh Yunus Yahya Magek; (6) dan banyak lagi lainnya.
Dari jaringan murid-murid yang berhulu dari “Beliau Ladang Laweh” ini, dapat dikatakan bahwa “Beliau Ladang Laweh” sebagai guru dari guru ulama-ulama besar Minangkabau. Beliau menjadi teladan, mata rantai keilmuan, hingga sampai kepada ulama-ulama kita saat sekarang ini, terutama ulama-ulama yang tergabung dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah.
Entah Bagaimana Sekarang
Ketika saya datang tahun 2013 yang mana itu 13 tahun lalu, itu saja telah lebih seabad kepergian Syekh Abdullah Khatib “Baliau Ladang Laweh”, makamnya masih dapat dikenali meski telah rimbun ditumbuhi semak-semak liar, entah jika sekarang. Untuk rinci lokasi, makamnya terletak dalam satu bangunan tembok yang mengelilingi masih kokoh meski berusia tua. Dalam kubah tersebut, selain makam beliau, terdapat pula batu mejan lainnya, yang tidak dikenali siapa yang bermakam di situ.
Demikianlah sepenggal riwayat seorang ulama besar Minangkabau, guru dari guru ulama-ulama Minangkabau. Semoga kita semakin mempunyai kesadaran dalam mengenang, meneladani perjuangan ulama silam, dan mempunyai kesadaran untuk merawat pusaranya, serta kesadaran dalam menghargai orang-orang yang berjasa terhadap Islam di Minangkabau ini.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.