Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

Lusueh kulindan suto kusuik,Lusueh dipetak tali tigo,Tonunan anak rang Malako;Sunggueh kok bolun...

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk...

Membaca Ulang Pemaknaan Demokrasi Asli bagi Masyarakat Minangkabau

Pasca era reformasi, civil society telah meletakkan pondasi yang kuat untuk menuju spirit dan...
Terkubur Dua Kali: Nestapa Pusara dan Memori Syekh Abdullah Khatib Ladang Laweh

Terkubur Dua Kali: Nestapa Pusara dan Memori Syekh Abdullah Khatib Ladang Laweh

Tulisan ini merupakan sebuah catatan dialektis yang lahir dari laku ziarah ke makam Syekh Abdullah Khatib yang dinarasikan dalam kolektif memori sebagai “Baliau Ladang Laweh” di Banuhampu, Agam, pada hari Selasa, 27 Agustus 2013, yang bertepatan dengan syiar Syawal 1434 H, perjumpaan fisik dengan situs tersebut menyisakan melankolia yang mendalam; menyaksikan pusara sang ulama yang rimbun dilingkupi semak belukar seketika mengiris hulu hati, memantik rasa pilu atas pengabaian sejarah.

Tan dan Pak Natsir di Media Sosial

Tan dan Pak Natsir di Media Sosial

Tak ada gulir layar hape yang membuat penulisberhenti relatif lama menelusuri setiap untaian kalimatdi media sosial, kecuali kala membaca soal Tan dan Pak Natsir baru-baru ini. Seakan penulis ditarik kembali pada praktik diskursus intelektual yang entah kapan, rasanya sudah lama sekali, telah berhenti di Sumatra Barat.

Epistemologi “Asal Comot”: Tragedi Misidentifikasi Visual Syekh Ahmad Khatib Minangkabau

Epistemologi “Asal Comot”: Tragedi Misidentifikasi Visual Syekh Ahmad Khatib Minangkabau

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (wafat 1915/1916) memang sosok yang membuat penasaran. Ia ulama prestisius sebagai salah satu imam dan salah satu khatib dari sekian imam dan khatib (pada satu masa) dalam Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram; sosok yang sering berpolemik dengan ulama lain; pengkritik adat Pusaka Tinggi; tokoh yang kritis terhadap oknum sufi namun dirinya sendiri adalah sufi, salah satu lawan risalah perdebatannya ialah, Syekh Sa’ad Mungka, tapi tenang, saat bertemu mereka tetap berpelukan seperti kawan lama.

Ketika Natsir dan Tan Malaka Kembali Menghidupkan Budaya Intelektual yang Telah Lama Hilang

Ketika Natsir dan Tan Malaka Kembali Menghidupkan Budaya Intelektual yang Telah Lama Hilang

Belakangan ini saya sedang asyik menyimak perdebatan yang terjadi di akun instagram @rundiang.id mengenai dua tokoh besar Minangkabau yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Perdebatan bermula ketika Habibur Rahman membuat tulisan berjudul ”Menjawab Hadi Nur Ramadhan: Menilai Kualitas Kompas dari Kemewahan Kantongnya, Sebuah Kesesatan Berpikir.” Dalam tulisannya, Habibur Rahman mengkritik isi video Hadi Nur Ramadhan yang cenderung membandingkan sosok Natsir dan Tan Malaka. Kemudian, Devy Kurnia Alamsyah juga turut mengkritik Hadi Nur Ramadhan melalui tulisannya yang berjudul ”Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan.” 

Melihat Mohammad Natsir dan Tan Malaka secara Adil

Melihat Mohammad Natsir dan Tan Malaka secara Adil

Tulisan saudara Devy Kurnia Alamsyah yang berjudul “Berhentilah Membicarakan Natsir; Hadi Nur Ramadhan” di Rundiang.id (11/5/2026), menjadi pemantik yang menarik sekaligus krusial dalam dinamika intelektual anak muda Minang saat ini.

Mencari Pintu Surga yang Hilang: Catatan Kritis Atas Erosi Bakti di Negeri Seribu Menhir

Mencari Pintu Surga yang Hilang: Catatan Kritis Atas Erosi Bakti di Negeri Seribu Menhir

Kabupaten Lima Puluh Kota belakangan ini tampak begitu aestheticdi permukaan. Dari deretan kafe kekinian di Harau hingga gemerlap lampu di pusat-pusat keramaian baru, daerah ini seolah sedang merayakan kemajuan. Namun, di balik polesan luar yang memikat, tersimpan bara kegelisahan yang mulai membakar fondasi sosial. Sebagai negeri pemegang marwah bungo sitangkai, rentetan fenomena viral belakangan bukan sekadar dinamika biasa. Kita sedang menyaksikan sebuah “anomali peradaban”, kondisi di mana kemajuan pariwisata serta kecepatan internet tidak berbanding lurus dengan ketahanan mental serta kualitas manusianya.