Dala’il Khairat di Minangkabau: Cahaya Shalawat Warisan Para Ulama

oleh | Jun 7, 2026 | Kaji

Shalawat merupakan salah satu titah agung yang terpatri di sanubari setiap muslim; ia adalah sebentuk ‘alamat cinta nan ranum kepada Rasulullah, sang junjungan alam. Sejak fajar Islam menyingsing, ulama-ulama yang shaleh telah memahat shalawat menjadi wirid harian yang tiada putus mengalir.

Gairah ruhani inilah yang menggerakkan kalbu seorang ulama besar di “tanah Maghrib” yang digelari Qutub Da’irah al-Muhaqqiqin dan Sayyidul ‘Arifin yakni Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, untuk menghimpun untaian lafaz shalawat titipan para salafus shaleh. Untaian itu ada yang ma’tsur, murni dari lisan suci Rasulullah, dan ada pula gubahan indah para shalihin peniti jalan cahaya. Kitab himpunan itu pun lahir membawa tajuk megah: Dala’ilul Khairat wa Syawariqul Anwar (Penunjuk kepada kebaikan dan sumber cahaya).

Foto: Sampul Cetak Kitab Dala’il Khairat yang populer di Nusantara (Dok. Apria Putra)

Sejak tinta pertamanya mengering, kitab ini menjelma menjadi samudera shalawat paling masyhur di seantero jagat Islam, merambah dari ufuk Timur hingga Barat, bahkan berlabuh jauh di Nusantara, Asia Tenggara. Seorang peneliti Belanda yang terpikat oleh keindahan iluminasi kitab ini mencatat, bahwa salinan Dala’ilul Khairat adalah manuskrip paling bertebaran di muka bumi setelah al-Qur’an al-Karim. Sebuah bukti nyata betapa kitab ini membumi di setiap jengkal negeri; ke mana pun kaki melangkah, di sana pasti kan kau dapati Dala’il Khairat bersemayam dengan anggunnya.

Begitu juga bagi Minangkabau, yang santer dikenal sebagai gudang ulama ini. Hampir semua ulama sejak masa saisuak mengamalkan Dala’il Khairat sebagai wirid harian. Di kalangan mereka, bahkan ada yang tidak terpisah dengan Dala’il Khairat, hingga ajal menjemput. Contohnya saja Raja Kecil di Siak. Menurut Buya Hamka dalam Perbendaharaan lama-nya, Raja Kecil Siak ketika berperang memegang pedang di tangan kanannya, sedangkan tangan yang satu lagi menggenggam erat kitab Dala’il Khairat. Saya pernah mendapati guru saya, al-Marhum Beliau Rasyid Zaini (1916-2008) selalu membawa Dala’il Khairat kemanapun ia pergi.

Saya dapati itu ketika saya masih kecil, menemani beliau berjalan-jalan di sebuah senja. Di Minangkabau, Dala’il Khairat dibaca bukan hanya individual sebagaimana amalan ulama-ulama, namun juga dibaca secara bersama dalam sebuah majelis. Begitulah mereka, yang senang bershalawat, berbahagia menyebut-nyebut nama sang kekasih yaitu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa-sallam.

Syahdan, sebelum fajar abad ke sembilan belas menyingsing, tirai sejarah masih menutup rapat silsilah sanad ijazah kitab Dala’il al-Khairat yang diamalkan kala itu. Tiada yang tersisa di relung-relung surau tua melainkan naskah-naskah usang yang membisu, menyimpan rahasia ratusan tahun.

Namun, ketika zaman berganti, angin spiritualitas membawa para ulama Minangkabau mengarungi samudra menuju Madinah al-Munawwarah. Di kota suci itu, mereka mereguk berkah ijazah langsung dari sang samudra ilmu, Sayyid Muhammad Amin Ridhwan al-Madani. Beliau adalah pemuka Tarekat Sammaniyah yang masyhur sebagai Syekh Dala’il Khairat.

Dari pelita inilah, para pujangga agama asal ranah Minang menimba pencerahan, termasuk sanad muttasil tersebut. Sebutlah sang guru spiritual, Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango; lantas Syekh Muhammad Arif Sampu Solok Selatan; diiringi Syekh Muhammad Khatib ‘Ali Padang; serta sang penuntut ilmu, Syekh Mahmud Tuanku nan Hitam, ulama pamungkas ini tiada lain adalah paman kandung dari sang pemegang sanad dunia, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani.

Foto: Naskah Cetak Kitab Dala’il Khairat yang populer di Nusantara
(Dok. Apria Putra)

Ijazah Dala’il Khairat dibawa pulang, dan dipopulerkan pengamalannya di surau-surau di berbagai negeri di Minangkabau ini. Hingga saat ini, diberbagai pelosok Minangkabau tidak pupus sama sekali. Saat ini, Dala’il dibacakan ketika dalam momen-momen tertentu, apakah ketika bulan Maulid Nabi, ketika Aqiqah, ketika kematian seseorang, dan waktu-waktu lainnya. Di samping itu, Dala’il Khairat masih dibaca secara individual oleh ulama-ulama tua di pedalaman Minangkabau, sebagai bentuk wirid yang dirutinkan.

Pergeseran zaman telah mengakibat banyak hal. Mulai dari yang positif bagi kehidupan, hingga yang bersifat negatif. Tak terkecuali bagi kehidupan keagamaan. Pergeseran dalam soal kegamaan banyak terjadi dalam segi keilmuan yang semakin dangkal; sifat tergesa-gesa dan fatwa, hingga penghakiman terhadap suatu amal tanpa sebab jelas. Hal ini juga terjadi kepada tradisi pembacaan Dala’il Khairat di Minangkabau.

Sejak tahun 1925, semenjak Wahabi menguasai faham keagamaan di Mekkah, Dala’il Khairat dilarang dibaca di Saudi Arabia. Kabarnya mereka menyeru untuk membakar kitab Dala’il Khairat. Beberapa alasan mereka kemukakan untuk membenarkan sikap mereka itu. Alasan yang dikemukakannya bahkan tak logis menurut akal sehat. Kenapa pula shalawat mesti dilarang? Bukankah shalawat telah diperintah di dalam al-Qur’an?

Faham Wahabi di Mekkah dalam beberapa dasawarsa terakhir telah mulai masuk ke jantung Minangkabau ini, oleh sebab itu mulai pula terdengar ungkapan yang merendahkan orang-orang yang bershalawat di surau-surau. Saya pernah dengar, di sebuah insitusi agama di Payakumbuh seseorang berkoar-koar melarang membaca kitab Shalawat itu. Hal mana bila orang-orang di surau mengetahui, tentu akan menimbulkan tangis yang dalam. Kecintaannya telah dicap terlarang oleh anak kemenakannya sendiri.

Surau memang telah tergilas zaman. Namun surau yang selama berabad-abad itu memancarkan sinar kegemilangan zaman telah mengakar kuat. Begitu juga tradisi pembacaan Shalawat yang diwariskan oleh ulama-ulama dan orang-orang shaleh di zaman dulu itu, telah tertanam di lubuk sanubari. Bagaimana pula hendak mengangkatkan cinta kepada Junjungan Alam? Walau anak-anak baru menyerukan benci kepada Dala’il Khairat; walau mereka berkopiah putih, berjubah besar, dan bergaya arabia, niscaya semarak shalawat tetap mengalun indah. Di Negeri seribu shalawat ini.

Penulis:
Apria Putra
Merupakan seorang filolog sekaligus dosen di UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi yang memiliki kompetensi dalam kajian naskah dan tradisi intelektual Islam Minangkabau. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di IAIN Imam Bonjol Padang pada jurusan Sastra Arab. Untuk studi strata dua (S2) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan konsentrasi Filologi Islam atau Pengkajian Islam, yang memperkuat kapasitas metodologisnya dalam analisis teks klasik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di institusi tempatnya mengabdi, dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Apria, juga dikenal dengan koleksi manuskripnya yang signifikan, dengan kepemilikan sekitar 80 manuskrip kuno yang menjadi sumber primer dalam studi filologi. Selain itu, ia juga menghimpun lebih dari 350 kitab ulama Minangkabau yang terbit pada periode kolonial.