Demokrasi Dibentuk Algoritma

Ada kebiasaan yang terus berulang setiap kali Indonesia memasuki tahun politik. Perhatian publik...

Pengalaman Saya di Palembang

Perbedaan yang Tajam Pada tanggal 15 Februari 1958 terjadi peristiwa bersejarah yang amat sangat...

Manusia dan Dialektikanya

Saya terkesiap dengan preferensi aksi pemikiran seorang penulis islamis yang dikenali sebagai...
Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan

Anak Muda, Tan Malaka, dan Natsir: Menggugat Sekat Pemikiran dalam Potongan Video Ustadz Hadi Nur Ramadhan

Riuh rendah perdebatan mengenai potongan video Ustadz Hadi Nur Ramadhan yang mempersoalkan anak muda Minang yang mengagumi Tan Malaka sebenarnya sudah cukup lama berseliweran di lini masa. Saya tahu, saya terhitung terlambat untuk ikut larut dalam gelombang balas-berbalas tulisan ini. Alasan keterlambatan ini sederhana dan sangat domestik: belakangan ini hari-hari saya habis di dapur, sibuk membantu orang tua mengaduk adonan dan mencetak kerupuk. Namun, di sela-sela aroma minyak panas dan deru usaha rumahan itu pula, waktu saya juga tersita oleh tanggung jawab moral yang tak kalah penting, yakni sibuk merawat tradisi lisan pasambahan Adat Minangkabau di kampung halaman saya.

Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat

Ketika Gelar Datuak Jatuh kepada Orang yang Tak Mau Menerima Perbedaan Pendapat

Tempo lalu saya beli mie pedas tak jauh dari tempat tinggal saya, yang ada dalam pikiran saya ”akhirnya makan mie pedas juga, setelah lama tidak,” ketika sampai di tempat tersebut saya bertemu dengan salah seorang Datuak, beliau tampaknya baru selesai makan mie, saya dipanggilnya dan saya pun mendekat. Untuk disclaimer, Datuak ini ia baru saja diangkat dan belum sampai satu tahun mengemban amanah. Di sisi lain, aroma cabai dari mie pedas membangkitkan salero yang telah lama absen.

Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau

Warisan Tafsir dan Ideologi dari Hamka untuk Minangkabau

Di lereng bukit yang memeluk Danau Maninjau di antara hamparan sawah berundak dan rimbunnya pohon pinang berdiri sebuah rumah gadang tua yang atapnya melengkung lembut seperti tanduk kerbau. Di sanalah pada 17 Februari 1908 lahir seorang anak yang kelak namanya tidak hanya dikenal sebagai putra daerah tetapi juga pemikir besar bangsa. Namanya Abdul Malik Karim Amrullah yang akrab dipanggil Hamka.

Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

Mengenang Nigel Godfrey Phillips: Murid Sijobang dari London

gel mengisi masa pendidikannya dengan mempelajari studi klasik, serta mengikuti kursus bahasa Rusia saat menjalankan wajib militer di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Saat dewasa, Nigel memulai kariernya dengan bekerja di Bank of England selama empat tahun sebelum akhirnya pindah ke Central Office of Information. Sejenis dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik di negara kita. 

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembaran Usang yang Bernapas: Fragmen Sejarah dan Manuskrip Peninggalan Tuanku Samiak Biaro

Lembayung masa lalu membawa langkah saya berziarah ke sebuah tempat di Ampek Angkek, sebuah ceruk berwibawa di jantung Luhak Agam. Di tanah yang hening itu, jemariku menyentuh lembaran-lembaran usang yang seolah bernapas; manuskrip-manuskrip agung milik sang pilar cahaya, Tuanku Syekh Samiak Ilmiyah di Biaro. Beliau adalah bintang gemintang yang menyinari abad kesembilan belas, seorang rabi penyair ilmu yang mendirikan mihrab peradaban berupa surau sakral. Ke sanalah para urang-urang siak para pencari tuhan dan pemburu kebenaran berbondong-bondong datang dari segenap penjuru rahim Minangkabau. Di bawah atap berkah itulah, sang pemikir ulung abad kedua puluh, Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung (1871-1970), pernah mereguk cawan-cawan makrifat hingga jiwanya purna.