Umum

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Tujuh Rantau Lautan Tenang: Metafora Ruang dan Labuhan Hati dalam Pantun Minang Klasik

Dalam pertunjukan sastra lisan, ruang (space) adalah aspek yang amat penting. Seorang tukang cerita memiliki teknik dan strategi tertentu dalam menggambarkan ruang kepada khalayaknya (audience), supaya khalayak bisa dirayu ‘masuk’ ke dalam peristiwa cerita. Ada penggambaran ruang yang kuat lewat gesture (gerak tubuh), tapi ada yang yang kuat lewat kata (naratif). Barangkali kecenderungan kedua ini ada pada teks pantun, sebagaimana dapat kita kesan dalam nomor-nomor terdahulu maupun dalam nomor ini.

Croonenburg, Pos yang Hilang di Muara Salido

Croonenburg, Pos yang Hilang di Muara Salido

Angin berkesiur dari sebalik rindang dan rapatnya dedaunan. Di muara, di tempat sungai memuarakan perjalanannya kepada laut, ombak berdebur di muara Salido, memiuh sesekali menghempas pada batu gadang. Suaranya datang dan surut, kadang tenggelam di antara desir daun, benturan perkakas, dan seruan orang-orang yang sedang memindahkan batang-batang kayu gadang dari dalam hutan.

Birokrasi Penakut: Ketika FTK, UIN IB Alergi terhadap Gagasan

Birokrasi Penakut: Ketika FTK, UIN IB Alergi terhadap Gagasan

Pada tanggal 19 September 2026, organisasi mahasiswa Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan sukses melaksanakan kegiatan “September Hitam” dengan tema “Membaca Luka, Merawat Ingatan”. Kegiatan ini memantik antusiasme yang luar biasa dari para peserta, sebuah capaian yang memuaskan untuk acara yang baru pertama kali diadakan di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Antara Sikap Keilmuan dan Adab

Antara Sikap Keilmuan dan Adab

Tulisan ini merupakan respon terhadap polemik yang kerap menyudutkan pengkritik pemikiran sufi sebagai pihak yang tak beradab. Penulis menegaskan pentingnya mendudukkan kritik keilmuan secara proporsional tanpa mengikis rasa hormat (adab) kepada para ulama. Melalui refleksi historis dan keteladanan para ulama terdahulu, dengan ini penulis nan faqir ini, berupaya memberikan sebuah esai guna mengajak pembaca membedakan ranah dialektika akademis dari persoalan adab maupun penentuan maqam kewalian seseorang.