Setelah menonton serial tv Wiro Sableng di kedai yang kira-kira berjarak 1,5 km dari rumah, 23 tahun yang lalu, saya menyepak-nyepak batang tebu dan berciat-ciat ala pendekar sepanjang jalan pulang. Malamnya saya bicara serius dengan Bapak, di depan petromak Stormking...
Sastra
Percakapan George Tambaro dengan Siti Elizabeth
Tambaro : "Kalau orang sudah berkepala palu itu, Siti. Kepala awak disangka paku aja deknya." Siti : "Iyo, Da. Kadang antah lo lah, gadang lo bunyi pado tokok. Tokoknyo sagetek, tapi bunyinyo sa-Ampek Angkek. Tokoknyo di Jirek, tapi kadangaran sampai Jabodetabek....
Kok Berang Biyai Ka Denai
Dihukum gantuang den lai namuah
Gantuangkan ka tandan pisang masak
Bermain Gunting dalam Hati
Kali ini kita akan mencoba mengkaji khazanah pantun Minangkabau melalui pendekatan hermeneutika sastra dan sosio-kultural untuk membedah dialektika nilai yang terkandung di dalamnya. Untaian bait-bait klasik ini merefleksikan manifestasi kearifan lokal (local wisdom) yang sarat akan pesan filosofis, etika kehati-hatian, serta dinamika psikologis masyarakat Minang dalam menyikapi realitas kehidupan.
Kota Gastronomi: K(u)ahnyo, Sampai ka Ruang Tamu
assalamu’alaikum / pak
dari kota yang di baliho
disebut tercinta
lalu ikut dipanggil Serambi Mekah
sampai Padang Panjang berdehem
Poetika Transendental Ulama Minangkabau: Manifestasi dan Interpretasi Sufistik dalam Tradisi Sya’ir
Menatap geliat Sastra Minangkabau beserta segala riak dinamikanya membawa kita ke dalam gelanggang diskursus keagamaan yang cukup menarik dan juga memikat. Bermula dari para pujangga tempo doloe yang menggoreskan tinta emas pada khazanah kesusastraan Minangkabau, hingga generasi muda Minang yang lebat bersastra, merangkai prosa serta puisi penuh pendar pengabdian.





