assalamu’alaikum / pak
dari kota yang di baliho
disebut tercinta
lalu ikut dipanggil Serambi Mekah
sampai Padang Panjang berdehem
di Gurun Laweh
garis lumpur / hampia duo meter
menetap di dinding
ibu membilas foto nikah
di baskom plastik
wajah pengantin lelaki
hilang separuh
dibawa air coklat
ayah menjemur dompet
di spion motor mogok
uang dua ribu ditempel satu-satu
ke kaca jendela
keran dibuka
batuk tiga kali
ember tetap ringan
dua puluh tujuh ribu lebih warga
masuk tabel
dengan kaki berlumpur
di Koto Tangah
rapor / sajadah / sandal kiri
tersangkut di pagar
seperti antre bantuan
di Jembatan Siti Nurbaya
lampu bertanya kepada Batang Arau:
“masiah mananti Samsul?”
“indak / drainase sajo
alun pulang-pulang”
di Air Manis
Malin Kundang bersin pasir:
“sia nan durhako kini?”
kami menunjuk kantor
ia segera membatu
takut diminta menjadi saksi
Padang menuju kota gastronomi:
rendang dipajang di baliho
sate mengepul di spanduk
sementara kuah yang tak dipesan
masuk ke ruang tamu
membawa sandal orang lain
dan tutup panci tetangga
indak ibo hati, pak?
kami tak meminta hujan diborgol
cuma parit jangan dibiarkan
menghafal bungkus mi dan popok
sungai jangan disuruh
menelan alamat rumah
dan bantuan
jangan datang
sesudah nasi di dapu
rberbau asam
wa’alaikumussalam
dari warga yang sejak subuh
mengikis lumpu
rdengan piring plastik
di bawah lemari
kami menemukan sebuah stempel
: SAH
tintanya masih merah
ondeh / mandeh
sayang saribu kali
stempel ko indak baguno
untuak urang Kota Bingkuang
manimba aia //
(Padang, 2026)

Penulis:
Anik Hailaqhari
Seorang penyair kelahiran 2007 dari Kerinci, Jambi. Ia bukan orang asli Padang, melainkan perantau yang pernah singgah dan belajar di sana. Sejumlah karyanya telah dimuat di berbagai media sastra. Selain merangkai kata, ia juga menyukai sains dan matematika. Jujur, ia jatuh cinta pula pada masakan Padang. Instagram: @hailaqhari.