Kota Gastronomi: K(u)ahnyo, Sampai ka Ruang Tamu

oleh | Agu 15, 2026 | Sastra

assalamu’alaikum / pak
dari kota yang di baliho
disebut tercinta
lalu ikut dipanggil Serambi Mekah
sampai Padang Panjang berdehem

di Gurun Laweh
garis lumpur / hampia duo meter
menetap di dinding

ibu membilas foto nikah
di baskom plastik
wajah pengantin lelaki
hilang separuh
dibawa air coklat

ayah menjemur dompet
di spion motor mogok
uang dua ribu ditempel satu-satu
ke kaca jendela

keran dibuka
batuk tiga kali
ember tetap ringan

dua puluh tujuh ribu lebih warga
masuk tabel
dengan kaki berlumpur

di Koto Tangah
rapor / sajadah / sandal kiri
tersangkut di pagar
seperti antre bantuan

di Jembatan Siti Nurbaya
lampu bertanya kepada Batang Arau:

“masiah mananti Samsul?”

“indak / drainase sajo
alun pulang-pulang”

di Air Manis
Malin Kundang bersin pasir:

“sia nan durhako kini?”

kami menunjuk kantor

ia segera membatu
takut diminta menjadi saksi

Padang menuju kota gastronomi:
rendang dipajang di baliho
sate mengepul di spanduk

sementara kuah yang tak dipesan
masuk ke ruang tamu
membawa sandal orang lain
dan tutup panci tetangga

indak ibo hati, pak?

kami tak meminta hujan diborgol

cuma parit jangan dibiarkan
menghafal bungkus mi dan popok
sungai jangan disuruh
menelan alamat rumah

dan bantuan
jangan datang
sesudah nasi di dapu
rberbau asam

wa’alaikumussalam

dari warga yang sejak subuh
mengikis lumpu
rdengan piring plastik

di bawah lemari
kami menemukan sebuah stempel
: SAH

tintanya masih merah

ondeh / mandeh
sayang saribu kali
stempel ko indak baguno
untuak urang Kota Bingkuang
manimba aia //

(Padang, 2026)

Penulis:
Anik Hailaqhari
Seorang penyair kelahiran 2007 dari Kerinci, Jambi. Ia bukan orang asli Padang, melainkan perantau yang pernah singgah dan belajar di sana. Sejumlah karyanya telah dimuat di berbagai media sastra. Selain merangkai kata, ia juga menyukai sains dan matematika. Jujur, ia jatuh cinta pula pada masakan Padang. Instagram: @hailaqhari.