Di tengah riuh rendah panggung politik nasional yang kian hari kian terjebak dalam pragmatisme transaksional dan teatrikalitas visual, masyarakat modern sering kali kehilangan kompas filosofis yang paling mendasar. Kita kerap merayakan pesta demokrasi secara prosedural (seperti pemilu berkala, pelantikan pejabat, dan perdebatan di media massa) namun lupa pada pertanyaan eksistensial yang mengalasi seluruh bangunan ketatanegaraan kita: apa sebenarnya yang sedang kita bangun, rawat, dan pertahankan dengan nama “Republik”? Apakah ia sekadar sebuah label administratif yang membedakan kita dari sistem monarki, ataukah ia sebuah komitmen etis-spiritual yang mendalam mengenai bagaimana sebuah bangsa mengelola takdir bersamanya?
Opini
MADILOG, Buku Beracun Komunis
Untuk menilai konsistensi pemikiran seseorang, salah satu caranya ialah membaca semua karyanya secara kronologis. Dengan begitu, kita jadi tahu bahwa si Fulan, dari tahun ke tahun hidupnya, konsisten dengan pemikirannya. Jika pun pemikirannya berubah, maka perubahan pemikirannya gampang sekali teridentifikasi, karena terlihat dari tahun kapan ia menulis karyanya. Saya memakai cara kronologis ini untuk menilai konsistensi sikap kritis Tan Malaka terhadap agama-agama, yang tercermin dalam karya-karyanya, terutama MADILOG. Saya akan menelusuri isi karya-karya Tan Malaka yang ditulisnya sebelum ia menulis MADILOG dan setelah ia menulis MADILOG. Dari situ, akan nampak konsistensi kritisismenya terhadap agama-agama.
Rabithah di Pangkal Dendang: Misi Sunyi Andrianto untuk Menjaga Sijobang
Namanya Andrianto, orang-orang memanggilnya Andi atau Anto. Saat aku sampai, dia telah berdiri menungguku di simpang rumahnya. Pria kurus berkulit cokelat itu memakai baju hijau dan celana dasar hitam. Sebuah peci bertengger di kepala, memberikan kesan alim pada sosoknya yang murah senyum.
Menata Ruang Pergelaran: Menjaga Nyala Kreativitas Tanpa Mengorbankan Kepentingan Publik
Setidaknya, kita patut mengapresiasi bahwa kota kita tidak pernah kehabisan insan-insan kreatif, mereka yang berpikir kritis, berkarya, dan memiliki prestasi yang mampu mengharumkan nama Kota Payakumbuh, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Antara Sikap Keilmuan dan Adab
Tulisan ini merupakan respon terhadap polemik yang kerap menyudutkan pengkritik pemikiran sufi sebagai pihak yang tak beradab. Penulis menegaskan pentingnya mendudukkan kritik keilmuan secara proporsional tanpa mengikis rasa hormat (adab) kepada para ulama. Melalui refleksi historis dan keteladanan para ulama terdahulu, dengan ini penulis nan faqir ini, berupaya memberikan sebuah esai guna mengajak pembaca membedakan ranah dialektika akademis dari persoalan adab maupun penentuan maqam kewalian seseorang.
Sisa Marxisme 30 Persen: Mengapa Mantan Aktivis Kiri Seperti Hasan Nasbi Akhirnya Fikrah di Birokrasi
Menjadi aktivis kiri di kampus dan kompromistis begitu memegang kendali atas adik-adik sepertinya sudah jadi starter pack wajib sebagian mantan aktivis. Penasihat Khusus Presiden yang juga menjabat Komisaris PT Pertamina (Persero), Hasan Nasbi, secara blak-blakan menceritakan kembali nostalgia romantis perjalanannya berakrobat secara intelektual mulai dari penganut gagasan religius, berbelok drastis ke kiri ekstrem, hingga akhirnya berlabuh nyaman di pelukan birokrasi pusat.





