Sebelumnya perkenalkan, saya M. Genta Saputra tinggal di Nagari Simpang Kapuak, boleh dikatakan video viral murid beserta guru yang berjuang tengah mengais sinyal baru-baru ini di lereng perbukitan itu di Nagari saya, dan saya mau bilang bahwa hebat betul gaya pemerintah kita sekarang.
Kenapa demikian? Mereka maunya serba keren dan serba internet. Tapi sayang, sepertinya otaknya lupa dibawa ke lapangan. Di saat para pejabat sibuk pamer aplikasi baru dan pidato soal kemajuan zaman, sekumpulan siswa di Jorong Kubang Balambak, Nagari Simpang Kapuak, justru harus bertaruh nyawa sebagaimana yang dibeberkan akun Instagram @payakumbuhkini pada tanggal 22 April 2026. Mereka harus melewati jalan tanah yang licin dan penuh lumpur hanya demi mencari sinyal internet untuk ujian. Bayangkan saja, mau ujian sekolah saja rasanya sudah seperti mau pergi mendaki gunung.
Kalau kita bedah pakai logika orang waras, masalah ini sebenarnya sangat sederhana. Ada ketimpangan yang sangat nyata antara apa yang dipikirkan pejabat di atas meja dengan apa yang dialami rakyat di atas lumpur. Pemerintah kita ini sedang sakit mata, hanya bisa melihat yang berkilau di kota tapi buta melihat yang hancur di pelosok. Kenapa bisa.mengkritik saja? Ya biarkanlah Aya mengkritisi, karena saya menggerutu, barangkali suara ini bakal didengar. Di samping itu, saya berpendapat, bahwa Ini namanya pembangunan pilih kasih. Mereka menuntut siswa untuk pintar teknologi, tapi jalannya dibiarkan seperti kubangan kerbau dan sinyalnya lebih gaib dari hantu.
Lucunya lagi, ini bukan cerita baru yang mengejutkan. Beberapa waktu lalu, di Kapur IX ada siswa yang harus ujian di atas bukit beralaskan terpal supaya dapat koneksi, dan video itupun mendapatkan atensi dan viral hingga Andre Rosiade memberikan atensi khusus.
Sekan tak pernah belajar, sekarang viral lagi dan kejadian itu terulang di Jorong Kubang Balambak, Nagari Simpang Kapuak, Kec. Mungka. Para siswa sekolah dasar harus menembus hujan deras dan hanya berteduh di bawah terpal supaya bisa ikut ujian yang katanya berbasis digital itu. Pertanyaannya sederhana saja, pemerintah ini sebenarnya mau mencerdaskan bangsa atau malah sengaja mau menyiksa anak bangsa?
Sekarang coba kita lihat mimpi besar negara yang katanya mau mencapai Generasi Emas di tahun 2045 mendatang. Bagaimana mungkin kita bisa sampai ke sana kalau cara mengurus anak sekolah saja masih berantakan begini? Jangan jangan yang kita dapat di tahun 2045 bukan Generasi Emas, tapi Generasi Cemas. Cemas karena tidak bisa ujian, cemas karena jalanan hancur, dan cemas karena masa depan mereka hanya dijadikan alat jualan politik oleh pejabat yang haus kekuasaan.
Mana kerja nyata para anggota DPRD, begitu juga Bupati serta Wakil Bupati yang dulu waktu kampanye rajin datang minta suara ke kampung kami? Sedari dulu jalan hancur dan sinyal tidak ada, tuan-tuan seolah hilang ditelan bumi. Jangan hanya pandai berlagak hebat saat memberi sambutan di acara formal saja. Rakyat tidak butuh pidato manis atau janji yang mengawang ke langit. Rakyat butuh jalan yang bagus dan internet yang lancar. Kalau internet saja tidak punya, jangan paksa anak sekolah ujian pakai sistem digital. Itu namanya memaksakan kehendak tanpa modal.
Katanya negara ini punya aturan dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi di Lima Puluh Kota, aturan itu sepertinya tidak berlaku bagi rakyat kecil di pinggiran. Negara seolah absen dan pura pura buta melihat penderitaan guru serta murid di pelosok. Mereka dipaksa mengikuti zaman yang katanya serba canggih, tapi fasilitas pendukungnya masih seperti zaman batu. Apa gunanya jabatan mentereng kalau untuk urusan dasar pendidikan saja tidak becus diurus?
Saya ini hanyalah anak nagari yang sedang merantau mencari ilmu di negeri orang, tepatnya di Surabaya. Ada rasa sedih yang sangat mendalam ketika saya berusaha membawa hasil riset saya sampai ke panggung konferensi internasional, tapi di saat yang sama, adik-adik saya di kampung justru masih harus mandi lumpur. Rasanya semua tulisan dan riset saya itu jadi tidak ada harganya kalau melihat kenyataan pahit ini. Hati saya hancur melihat mereka harus bertaruh nyawa di tengah hujan deras hanya untuk ikut ujian sekolah. Ini benar benar tamparan keras bagi saya, dan seharusnya menjadi malu yang luar biasa bagi para pemimpin daerah kita.
Sudah saatnya pemerintah daerah dan wakil rakyat berhenti bersembunyi di balik kata pembangunan yang hanya omong kosong. Kalau jalan ke sekolah saja masih seperti kubangan kerbau, jangan mimpi bicara soal kemajuan menuju 2045. Jangan sampai rakyat berpikir bahwa pemerintah hanya butuh suara mereka saat pemilu saja, tapi lupa memberi hak pendidikan yang layak setelahnya. Berhenti bersikap seolah semua baik baik saja, karena di bawah guyuran hujan dan terpal itu, ada masa depan bangsa yang sedang dipermainkan oleh ketidakpedulian kalian.

Penulis:
Muhammad Genta Saputra
(Mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis, UIN Sunan Ampel Surabaya, asal Mungka. Menaruh minat besar pada riset isu sosial, budaya, dan keagamaan.)