Abdul Aziz

Si Bujang Jauh: Gejolak Rindu Sang Anak pada Ayahnya

Si Bujang Jauh: Gejolak Rindu Sang Anak pada Ayahnya

“Tetapi entah bagaimana sebabnya, dari umur sepuluh tahun, telah nampak jiwa saya melawan beliau. Jiwa beliau adalah jiwa diktator. Kalau sekiranya cara beliau mendidik itu sajalah, maulah saya terbuang, menjadi anak yang tidak berguna. Saya tidak mau pulang ke rumah, saya tidak mau mengaji, saya bosan mendengar kitab Fiqih yang diajarkan di Thawalib”1

Ilmu Alah Raso Tabuang

Ilmu Alah Raso Tabuang

Di malam yang biasa-biasa saja anak mudo di minangkabau masih dengan budaya prancis-nya, terlihat si Amaik yang sedang manyandarkan badan letihnya pulang kerja seharian.

Seperti Apa Kita di Mata Penjajah?

Seperti Apa Kita di Mata Penjajah?

Yang mungkin jamak kita ketahui, penjajahan bangsa Eropa sudah lama berakhir seusai hadirnya negara. Namun hal tersebut hanya berlaku bagi mereka yang menganggap bahwa kolonialisme terjadi secara fisik belaka—dan hanya dilakukan oleh bangsa Eropa. Sebagaimana pengetahuan serupa koin yang berbagi sisi dengan kekuasaan, kenyataannya, bangsa jajahan tidak hanya ditindas secara fisik, namun dipelajari, dikategorikan secara sederhana lagi hierarkis, ditindas di dalam produksi wacana serta, dihegemoni secara epistemologis.

Nasib Lidah Para Perantau

Nasib Lidah Para Perantau

Menjadi perantau adalah pilihan hidup. Mereka sanggup meninggalkan sawah, ladang, dan keluarga demi mencari hidup di negeri orang. Tekadnya baja. Namun, ada satu anggota tubuh yang rupanya menolak ikut, yaitu lidah.

Pada bulan-bulan pertama di rantau, hampir semua perantau menyadarinya. Nasi di kos terasa hambar, telur dadar terasa sepi, dan di tengah malam kita tiba-tiba membayangkan samba lado yang jaraknya ratusan kilometer. Kita bisa belajar bahasa baru, menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat, dan membangun kehidupan dari nol. Tetapi urusan rasa, lidah sering punya kehendaknya sendiri.