Dalam historis empiris, Islam tidaklah hadir di ruang yang hampa. Islam lahir dalam arus deras sistem jahiliah yang telah merasuk ke dalam semua sendi kehidupan, akan tetapi jahil di sini bukanlah jahil secara kognitif, tapi jahil secara sistem berkehidupan, terkhusus dari segi moralitas, etika, dan penghambaan kepada Tuhan. Dan ketika itulah Islam hadir dengan konsep ajaran tauhidnya. Kehadiran Islam di bumi Arab pada satu sisi merupakan risalah pentauhidan, pengesaan Tuhan sebagai sesembahan tunggal. Risalah pentauhidan ini disampaikan oleh seorang manusia sempurna, Nabi Muhammad SAW., kepada masyarakat Arab Jahiliah yang telah menciptakan objek sesembahan baru berupa patung-patung berhala seperti Latta dan Uzza. Di sisi lainnya, kehadiran Islam di tengah masyarakat Arab Jahiliah juga diyakini sebagai awal lahirnya risalah pembebasan manusia dari ketertindasan, kebodohan, perbudakan, dan diskriminasi struktur sosial di masyarakat Arab Jahiliah. Islam sebenarnya hadir mengajak umatnya untuk tunduk kepada Allah dan didorong untuk memberontak melawan penindasan, ketidakadilan, kebodohan, dan juga ketiadaan persamaan (ketimpangan). Sebagaimana H.O.S. Tjokro pernah mengatakan:
“Rasa bertakloek-toendoek kepada Allah itoelah memboenoeh rasa bertakloek-toendoek kepada apa sadja selainnja Allah! Rasa takloek kepada Allah itoelah membasmi rasa takoet kepada barang apa sadja selainnja Allah! … Kalau seorang moeslim bertabiat ‘pendjilat’ dan ‘penakoet’ kepada sesama manoesia, itoelah tandanja ia boekan moeslim lahir-batin, tetapi ialah moeslim jang mati roeh-rasa dan boedi pekertinja.”
Konteks kesejarahan pada waktu Nabi Muhammad SAW. diangkat sebagai rasul adalah dengan suasana dan keyakinan politeistik yang mengabaikan arti kemanusiaan. Nabi Muhammad hadir untuk membawa kembali ajaran tauhid. Ajaran tauhid yang dibawa itu merupakan pernyataan yang menegasikan segala bentuk politeisme atau kemusyrikan, bukan hanya pada tataran ritualistik yang lebih berdimensi personal belaka, seperti menyembah berhala, patung, api, dan sebagainya; tetapi juga pada bentuk kemusyrikan sosial dan politik, seperti me-Maha-Agungkan dan memuja kepentingan pribadi, golongan, etnis, dan sebagainya.
Hal ini bukanlah sekadar pernyataan verbal individual semata, melainkan juga seruan untuk menjadikan keesaan itu sebagai basis utama pembentukan tatanan sosial-politik-kebudayaan. Pada dimensi individual, tauhid berarti pembebasan manusia dari sifat individualistik dan pembebasan dari segala bentuk belenggu perbudakan dalam arti yang luas, yaitu: perbudakan manusia atas manusia, perbudakan diri terhadap benda-benda, dan perbudakan diri terhadap segala bentuk kesenangan-kesenangan pribadi, kebanggaan dan kesombongan diri di hadapan orang lain, serta hal-hal lain yang menjadi kecenderungan egoistik manusia.
Islam berarti sebagai ketundukan kepada prinsip-prinsip kebenaran, kesetaraan sosial, cinta, dan prinsip-prinsip lain yang melandasi berdirinya suatu komunitas yang bebas dan setara. Islam bukanlah hanya sebuah ide baku atau suatu sistem ritual-ritual, upacara-upacara, dan lembaga-lembaga yang kaku belaka, melainkan suatu prinsip progresif yang selalu menghapuskan tatanan lama yang sudah tak sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat, memelihara segala sesuatu yang masih relevan, serta merevisi dan merenovasi dengan menghadirkan hal baru yang lebih maslahat dan manfaat. Nabi Musa A.S. menghapus tatanan sosial yang dibangun Nabi Ibrahim A.S., Nabi Isa A.S. mencabut tatanan ekonomi Nabi Musa A.S., dan Nabi Muhammad SAW. menghapus lembaga-lembaga sosial dan ekonomi yang dibangun oleh nabi-nabi sebelumnya. Tapi semuanya saling menegaskan kebenaran satu sama lain. Kebenarannya ialah bahwa semua manusia adalah setara. Mereka harus jujur, berkata benar, dan berjuang melawan kekuatan jahat, diskriminasi, penindasan,dan kepalsuan. Lembaga-lembaganya boleh berubah, adat istiadatnya juga boleh bervariasi, tetapi kebenaran, kesetaraan, dan persaudaraan tetap tinggal sebagai prinsip masyarakat yang bebas, adil, dan egaliter.
“Jika Nabi Musa a.s. jadi pembebas bangsa Israel, maka Muhammad saw. adalah pembebas bagi seluruh umat manusia.”
Makna pembebasan dan pertanggungjawaban individual itu pada gilirannya memberikan refleksi pada relasi-relasi sosial kemanusiaan universal. Tauhid merupakan pernyataan yang bermakna pembebasan diri dari dan penolakan terhadap pandangan dan sikap tiranik manusia terhadap penindasan manusia atas manusia yang lain untuk dan atas nama kekuatan, kepemilikan, dan keunggulan kultural apa pun. Afirmasi teologis tauhid,sekali lagi, sejatinya adalah upaya pembentukan tatanan sosial-politik yang didasarkan atas kesatuan moralitas kemanusiaan yang melintasi batas kultural dan ideologis.
Mohammad Natsir juga pernah mengatakan:
“Pada hakikatnya imperialisme berakar pada dua penyakit jiwa: hubbud dunya (cinta dunia) dan karihatul maut (takut mati). Cinta dunia melahirkan keserakahan akan harta dan kekuasaan, sedangkan takut mati mendorong manusia mempertahankan kepentingannya dengan penindasan. Sebagaimana Firaun yang menindas Bani Israil karena merasa terancam oleh dakwah Nabi Musa a.s.
Islam hadir untuk membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu tersebut. Bukan melarang manusia memiliki dunia, melainkan mencegah dunia menguasai hatinya. Bukan mengajarkan manusia mencari kematian, melainkan menanamkan keberanian menegakkan kebenaran tanpa diperbudak ketakutan.
Sebab, selama manusia diperbudak oleh cinta dunia dan takut kehilangan nyawa, ia akan mudah menindas sesamanya. Namun, ketika tauhid membebaskan jiwanya, kekuasaan tak lagi menjadi alat penindasan, melainkan amanah untuk menegakkan keadilan.”
Islam adalah sebuah teologi pembebasan yang membumi dan humanis, dari Tuhan untuk manusia penghuni bumi. Teologi pembebasan menemukan momentumnya, khususnya saat marak dan gencarnya pemberantasan kemiskinan dan juga keterbelakangan di tanah air maupun di belahan dunia ketiga umumnya.Dalam momen itu, teologi alternatif diperlukan, yaitu teologi pembebasan, teologi populis, atau teologi padanan lainnya sebagai antitesis teologi elitis, rumit, dan melangit. Teologi yang dibutuhkan pada masa kini ialah teologi yang membumi, yang mampu mendobrak supremasi tirani dan rezim lalim, mengenyahkan belenggu kebebasan, mengejar berbagai ketertinggalan, mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan.Pesan teologi itu sangat luhur, humanis, dan mulia. Moga-moga pesan ini bisa jadi bahan reflektif untuk umat Islam.

Penulis:
Fauzan Revlakh Ahmad
Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN Sjech. M. Djamil Djambek Bukittinggi. Berdomisili di Nagari Gadut, Kab. Agam.