Mari flashback ke 1897, di Lihak Limo Puluah tepatnya di sebuah nagari bernama Pandam Gadang, lahir seorang anak dari pasangan H.M Rasad Chaniago dengan Rangkayo Sinah Simabua bernama Ibrahim, kelak dikenal sebagai Tan Malaka. Ia bukan sekadar produk kecerdasan individual, tapi adalah hasil dari collective investment masyarakat kampungnya.
rundiang
Memperbaiki Cara Berpikir Jaksa Penuntut Umum dalam Kasus Dugaan Mark Up Amsal Sitepu
”Ahli IT yang ikut membuat Perhitungan Kerugian Negara, tidak pernah di BAP, tidak pernah hadir di persidangan dan tidak ada lampiran perhitungannya di LHP. Ahli IT dan Auditor juga Tidak mengakui adanya Biaya Ide / Konsep, Clip On/Microphone, Cutting, Editing dan Dubbing didalam RAB, Mereka menghitung biaya Cutting, Editing, Dubbing, Clipon /Microphone & Ide sebesar, 0 Rupiah.”
— Pernyataan Amsal Christy Sitepu melalui Instagram nya @amsalsitepu (Kamis, 26 Maret 2026)
Gincu Kota Wisata, di Atas Amnesia Massal Ratusan Nyawa di Pelataran Jam Gadang
Bagaimanapun, Bukittinggi tetaplah kota dengan tumpukan luka yang masih menganga. Menangis Usmar Ismail, Hatta, Syahrir, Agus Salim dari dalam kubur melihat keadaan ini. Benar-benar alam Minangkabau yang tak terbayangkan oleh Datuak Katumangguangan dahulunya.
Wahai Angku Yus, Siapa Lagi yang Menjaga Kata-Kata Adat Itu
Melalui rekaman kaset dan video, ia mentransformasikan tradisi lisan ke dalam bentuk reproduksi modern, yang jelas bukan sekadar adaptasi, tapi juga strategi artikulasi budaya dalam menghadapi arus globalisasi. Gurindam yang ia lantunkan menjelma menjadi mnemonic device, pengingat nilai sekaligus jembatan emosional bagi masyarakat rantau yang merawat ingatan akan kampung halaman.
Aku Ini Binatang Jalang, Tapi Dibesarkan oleh Sjahrir
Di antara gejolak sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar berdiri seperti anak nakal yang menendang pintu konvensi. Ia tidak sekadar menulis puisi ia membongkar pakem. Sajak-sajaknya menolak kesantunan formal ala Pujangga Baru, lalu melompat ke wilayah yang lebih liar: ritme patah, diksi menohok, dan subjektivitas yang nyaris eksistensialis. Jika sastra adalah taman yang rapi, Chairil datang sebagai “tukang rusuh estetika” yang menanam semak berduri di tengah bunga-bunga.
Broker di Balik Saluak
Mengeja Saluak sebagai kuitansi, mengeja Gelar sebagai komoditas yang kelam.
Di mana pusaka bukan lagi beban, hanya label harga untuk membeli kursi. Kita berjalan di atas tanah yang sengketa, menyusun dusta di balik tumpukan kata-kata.





