Coba dengar cara orang Minang bicara. Hampir tidak ada nasihat, sindiran, atau teguran yang lepas dari kiasan alam. Kayu gadang, aie gadang, tapian, bukit, lauik, ranting, daun, aia mailia, gunuang semua dipinjam untuk bicara soal manusia, soal etika, soal kekuasaan. Bahasa adat Minangkabau bukan sekadar dihiasi alam, ia dibangun dari alam. Masyarakat yang begitu fasih berkias pada alam ini, dalam praktiknya termasuk salah satu daerah yang paling banyak dijumpai perusakan sungai dan hutan melalui penambangan dan penebangan liar.
rundiang
Anugerah Bintang Tanda Jasa Diberikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Suliki (1925)
Kali ini penulis mencoba menurunkan sepotong hikayat dari Suliki, Luhak 50 Koto. Mendengar kata Suliki, tentu kita ingat tokoh revolusioner Tan Malaka yang berasal dari daerah itu.
Bermain Gunting dalam Hati
Kali ini kita akan mencoba mengkaji khazanah pantun Minangkabau melalui pendekatan hermeneutika sastra dan sosio-kultural untuk membedah dialektika nilai yang terkandung di dalamnya. Untaian bait-bait klasik ini merefleksikan manifestasi kearifan lokal (local wisdom) yang sarat akan pesan filosofis, etika kehati-hatian, serta dinamika psikologis masyarakat Minang dalam menyikapi realitas kehidupan.
Mengembalikan Tan Malaka ke Kalibata
Ada sejarah yang hilang bukan karena peristiwa itu tidak pernah terjadi, melainkan karena kota berubah terlalu cepat untuk menyisakan penandanya. Rawajati, Kalibata adalah salah satunya. Hari ini kawasan tersebut dikenal sebagai bagian dari Jakarta Selatan yang padat dan terus berkembang. Namun sekitar delapan dekade lalu, di kawasan yang sama, seorang lelaki bernama Tan Malaka hidup dalam persembunyian dan menyelesaikan salah satu karya intelektual penting dalam sejarah Indonesia: MADILOG, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika.
Allah Menggunting Lidah Engkau
Sejauh ini kita sudah melihat betapa khazanah pantun Minangkabau kaya dengan pantun muda. Kita mendapat gambaran bahwa dunia percintaan dan erotisme tidak ‘diharamkan’ dalam pantun-pantun Minangkabau, walaupun etnis Minangkabau diidentikkan dengan Islam.
Hujjah Berbalut Sya’ir: Apologetika Tarekat Inyiak Canduang dalam Dawa’ul Qulub
Tercatat dalam lembaran sejarah intelektual Minangkabau awal abad ke-20, perdebatan teologis antara Kaum Muda dan Kaum Tua menemukan salah satu manifestasi tekstualnya yang paling memikat melalui kalam Syekh Sulaiman Ar-Rasuli Canduang (1871-1970).





