rundiang

Berkias dan Berkhianat pada Alam

Berkias dan Berkhianat pada Alam

Coba dengar cara orang Minang bicara. Hampir tidak ada nasihat, sindiran, atau teguran yang lepas dari kiasan alam. Kayu gadang, aie gadang, tapian, bukit, lauik, ranting, daun, aia mailia, gunuang semua dipinjam untuk bicara soal manusia, soal etika, soal kekuasaan. Bahasa adat Minangkabau bukan sekadar dihiasi alam, ia dibangun dari alam. Masyarakat yang begitu fasih berkias pada alam ini, dalam praktiknya termasuk salah satu daerah yang paling banyak dijumpai perusakan sungai dan hutan melalui penambangan dan penebangan liar.

Bermain Gunting dalam Hati

Bermain Gunting dalam Hati

Kali ini kita akan mencoba mengkaji khazanah pantun Minangkabau melalui pendekatan hermeneutika sastra dan sosio-kultural untuk membedah dialektika nilai yang terkandung di dalamnya. Untaian bait-bait klasik ini merefleksikan manifestasi kearifan lokal (local wisdom) yang sarat akan pesan filosofis, etika kehati-hatian, serta dinamika psikologis masyarakat Minang dalam menyikapi realitas kehidupan.

Mengembalikan Tan Malaka ke Kalibata

Mengembalikan Tan Malaka ke Kalibata

Ada sejarah yang hilang bukan karena peristiwa itu tidak pernah terjadi, melainkan karena kota berubah terlalu cepat untuk menyisakan penandanya. Rawajati, Kalibata adalah salah satunya. Hari ini kawasan tersebut dikenal sebagai bagian dari Jakarta Selatan yang padat dan terus berkembang. Namun sekitar delapan dekade lalu, di kawasan yang sama, seorang lelaki bernama Tan Malaka hidup dalam persembunyian dan menyelesaikan salah satu karya intelektual penting dalam sejarah Indonesia: MADILOG, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika.

Allah Menggunting Lidah Engkau

Allah Menggunting Lidah Engkau

Sejauh ini kita sudah melihat betapa khazanah pantun Minangkabau kaya dengan pantun muda. Kita mendapat gambaran bahwa dunia percintaan dan erotisme tidak ‘diharamkan’ dalam pantun-pantun Minangkabau, walaupun etnis Minangkabau diidentikkan dengan Islam.